Dana Punia Sarana Meningkatkan Sraddha dan Bhakti

Sumber: https://dindapranata.com/

Hidup kita di muka bumi ini tidak terlepas dari pada pertolongan orang lain. Karena kita adalah mahluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain demi eksistensinya, betapapun sederhana dan kecilnya pertolongan itu.  Oleh karena itu apapun yang kita peroleh dalam kehidupan ini di sana telah melekat sebagian jasa orang lain. Jasa-jasa orang lain yang melekat pada hasil yang kita peroleh itu harus dikembalikan kepada mereka yang berhak. Inilah yang dilakukan secara sadar dalam bentuk dana punia. Apakah yang dimaksud dengan dana punia? Sudahkah kita berdana punia? Apakah dana punia ini hanya bisa dilakukan oleh orang kaya saja? Atau sebaliknya apakah yang berhak mendapatkan dana punia itu hanya orang miskin saja?

Dana punia menurut hukum Hindu merupakan salah satu ajaran yang harus dihayati dan diamalkan. Sesuai dengan asal kata Dana dan Punia, dana yang berarti pemberian dan punia yang berarti selamat, baik dan suci. Jadi pengertian Dana Punia adalah pemberian yang baik dan suci secara tulus ikhlas sebagai salah satu bentuk pengamalan ajaran dharma. Dana Punia merupakan suatu sarana untuk meningkatkan sradha dan bakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan sikap mental yang tulus kepada diri pribadi menuju kepada tujuan dari pada hidup kita yaitu moksatham jagadhita ya ca iti dharma.

Ajaran Dana Punia sangat berkaitan dengan ajaran Tattvam asi yang berarti aku adalah kamu, kamu adalah aku. Pandanglah, lihatlah setiap orang seperti diri kita sendiri yang memerlukan pertolongan, bantuan, dan perlindungan untuk mewujudkan kebahagiaan hidup yang harmonis. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang senatiasa memerlukan bantuan orang lain. Seperti yang di tuangkan dalam kitab suci Veda: “ Vasudhaivakutumbakam” yang artinya semua makhluk adalah bersaudara.

Dengan memahami dan menghayati ajaran Tattvam asi  dan apa yang tertuang dalam kitab suci weda tersebut sudah semestinya kita saling tolong menolong terhadap sesama. Bila kita menjadi orang kaya bantulah orang yang miskin (tidak mampu), Bila kita kuat bantulah orang yang lemah, dan Bila kita berilmu bagilah ilmu itu yang sesuai dengan ajaran dharma.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Swami wiwekananda bahwa ada tiga cara dalam berdana punia, yaitu:

Dharma Dhana artinya berdana punia dengan memberikan nasehat atau wejangan-wejangan kepada yang membutuhkan seperti orang tua memberi nasehat kepada anaknya.

Vidya Dana artinya  berdana punia dengan cara memberikan pendidikan atau pengetahuan kepada yang membutuhkan seperti seorang guru mendidik  muridnya.

Artha Dana artinya berdana punia kepada seseorang dengan cara memberikan sebagian harta atau materi yang dimilikinya.

Dalam kitab Sanghyang Kahamayanikan dijelaskan juga tentang dana punia dibagi menjadi 3, sebagai berikut :

  1. Dana artinya pemberian berupa harta benda kepada yang membutuhkan.
  2. Atidana artinya pemberian dengan hati yang tulus dan ikhlas walaupun mengorbankan perasaan.
  3. Mahatidana artinya dana punia dalam bentuk pemberian jiwa raga.

Pemberian yang didasari dengan punia, tidaklah semata-mata dalam wujud uang atau materi saja. Dapat juga dalam bentuk tenaga , keahlian , dalam wujud waktu , dorongan moral , juga menahan indria atau hawa nafsu .Yang terpenting adalah pemberian didasari dengan  niat dan sikap mental yang tulus pada diri pribadi kita, maka hal ini dapat mempermudah untuk membimbing diri kita menuju kesempurnaan lahir bathin,  yang akan mengantar kita mencapai surga dan bahkan mencapai Moksa (kalepasan, bersatunya Sang Diri dengan Tuhan Yang Maha Esa).

Sebagaimana dalam kitab Bhagawad Gita XVII.20 disebutkan :
Datavyam iti yad danam
Diyate nupakarine
Dese kale ca patre ca
Tad danam sattvikam smrtam

Artinya :
Sedekah yang diberikan tanpa mengharapkan imbalan, dengan keyakinan sebagai kewajiban untuk memberikan pada tempat , waktu dan penerima yang berhak disebut sattwika.

Dari sloka tersebut dapat dikatakan bahwa dana punia yang bersifat sattwika adalah dana punia yang didasari tulus ikhlas, kepada orang yang berhak menerima, dengan cara yang baik, sesuai dengan kemampuan , tidak berlebihan(untuk pamer) dan pemberian yang diberikan didapat dengan jalan dharma.

Melalui pemahaman akan arti dari dana punia, timbul kembali pertanyaan, Kepada siapa kita  berdana punia? Perlu kita ketahui bahwa melakukan dana punia tidak selalu diasosiasikan kepada orang yang miskin harta saja. Daana punia perlu diberikan kepada mereka yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan yang sudah berlebihan menurut ukuran umum.

Mereka ini membutuhkan Dana punia berupa Dana punia hati nurani dengan cara dharma daana yaitu memberikan saran saran yang jujur dan kritis sehingga dapat mengetuk hati nurani mereka yang berkuasa. Sehingga mereka yang tergolong elit seperti penguasa dan mereka yang kaya dapat membangun keadilan ekonomi, mampu memegang kekuasaan dipemerintahan secara adil dan bijaksana.

Sebagaimana diungkapkan dalam Manawa dharmasastra I. 86  bahwa kehidupan beragam hindu lebih mengutamakan dana punia untuk mewujudkan swastya wahini yaitu peduli pada pengembangan hidup sehat, widya wahini yaitu peduli pada pengembangan pendidikan yang seimbang antara pendidikan rohani dan pendidikan duniawi dan praja wahini yaitu meningkatkan kepedulian pada nasib sesama.

Berdana punia bukanlah ajang pamer kekayaan. Mengapa hal itu dikatakan demikian? Karena sebagian orang mereka berdana punia tidak sepenuhnya dilakukan secara ikhlas. Ada harapan-harapan tertentu yang dibenarkan dibalik berdana punia itu. Seperti pembangunan pura contohnya.

Mereka berdana punia dengan tujuan agar mereka dapat pengakuan dalam statusnya, demikian juga agar Ida Betara dapat mengatasi berbagai harapan hidupnya seperti kemelut keuangan, karier, jabatan dan sebagainya. Tetapi saya yakin masih banyak umat kita yang berdana punia untuk pura sebagai wujud sradda dan bhakti yang iklas kepada Sanghyang Widhi sebagai pengejawantahan dirinya sebagai umat beragama. Masih banyak umat yang yang melakukan daana punia secara tulus dan ikhlas sebagai wujud suatu perbuatan dharma.

Apa yang kita dapatkan setelah berdana punia?  Dengan berdana punia, maka di dalam nurani kita akan tumbuh:

  • Semangat cinta kasih  yang tulus dan murni bebas dari perbuatan  himsa dan adharma .
  • Rasa ikut berbahagia manakala orang lain berbahagia .
  • Sikap tidak iri hati, bebas dari rasa benci dan dengki .
  • Batin kita akan selalu tenang, damai dan berbahagia .
  • Dan jika kita sudah  meninggal, maka dana punia itu akan menjadi teman kita dan yang akan menuntun kita di dalam perjalanan kita di dunia lain yang penuh di liputi kebahagiaan.

Kesimpulannya adalah berdana punia wajib dilakukan oleh setiap orang untuk menumbuh-kembangkan sikap mental yang tulus serta meningkatkan kualitas diri kita, karena bentuk dana punya tidak semata-mata berupa harta benda, tetapi juga berupa bentuk-bentuk prilaku yang mendidik dan juga dapat  berupa doa kepada seseorang yang membutuhkan.

Untuk itu marilah kita mulai berdana punia mulai hari ini dengan memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain sesuai kapasitas masing-masing. Ingat, satu pemberian kecil bisa berdampak besar buat orang lain. Jadikanlah hal tersebut sebagai sebuah kebiasaan, lalu lihatlah keajaiban-keajaiban yang terjadi dalam hidup masing-masing, janganlah berdana punia untuk sekedar pamer semata.

Oleh: Putu Mertarisa, S.Pd

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *