Sraddha sebagai Dasar Utama Keberhasilan

adau Sraddha tatah sadhu
sango ‘tha. bhajana-kriya
tato ‘nartha-nivrttih syat tato
nistha rucis tatah
(Bhakti Rasamrta Sindhu 1.4.15)

“Pertama-tama Sraddha terbentuk dalam kesadaran, dilanjutkan pada pergaulan dengan orang-orang suci. Pada tahap berikutnya, praktik-praktik spiritual dilakukan demi mengarahkan pada keadaan terbebaskan dari hal-hal yang tidak diinginkan, lalu mencapai kemantapan keyakinan yang sangat kokoh ajeg, dan pada akhirnya muncullah kerinduan spiritual pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

(sumber foto fisiliaarlita.blogspot.com)

Kata adau menunjuk pada hal yang pertama hadir dan eksis pada diri pencari spiritual, yaitu keyakinan mantap pada Tuhan yang dinamakan Sraddha. Bukan hanya hal spiritual, namun pada hal-hal material pun Sraddha merupakan hal yang teramat penting serta menempati kepentirigan terdepan. Sraddha berasal dari akar kata Sanskerta Sradh, berarti mencintai, mengasihi, memikirkan. Sraddha juga berasal dari akar kata dha, dengan prefix Srat dan suffix ang, berarti menahan, mendukung, mempertahankan, dan memiliki. Arti Sraddha se- cara menyeluruh dalam literatur Sanskerta adalah mencintai, me- lindungi, keyakinan, memegang, memelihara, menjaga.

Dari keseluruhan arti, Srad-dha lebih memberikan penekanan pada arti keyakinan yang meru-‘ pakan dasar dari setiap perbua- tan. Keyakinan muncul dari pema- haman dan penyerahan diri pada Tuhan. Ia merupakan gabungan pengetahuan dan kepercayaan. Keyakinan mengarahkan orang pada kebahagiaan. Ia datang dari pengalaman spiritual ke dalam diri sehari-hari karena Sraddha berhubungan dengan kewajiban dan aktivitas sehari-hari.

Bila Sraddha sudah termantapkan dengan baik maka mulailah orang mendapatkan pergaulan dengan para sadhu atau orang-orang suci sampai akhirnya memi-liki rasa kerinduan spiritual pada Tuhan Yang Maha Penyayang.

Cobaan, godaan dan “tawaran-tawaran” indah menarik akan datang sambung-menyambung untuk menggoyahkan serta mencoba menggagalkan Sraddha dalam pencarian jati diri. Semua cobaan dan godaan tersebut memaksa orang untuk reformatting Sraddha atau memformat ulang Sraddha-nya. Orang bijak berhati-hati mengarahkan dirinya pada “tawaran-tawaran” indah menarik karena sudah mengalami me- lalui anubhava bahwa madu itu rasanya manis. Walaupun jutaan orang mengatakan madu itu pahit atau kecut. namun mereka tetap tidak akan pernah mengubah Sraddha-nya. Para bijak memberikan perhatian pada hal ini dengan baik dan bersungguh- sungguh. Jika tidak, mereka akan kehilangan pahala dari semua praktiknya. Apa pun dilakukan orang namun tidak disertai Srad-dha dengan baik, maka orang tidak akan mendapatkan buah dari praktiknya, ia hanya akan melakukan “kerja keras sia-sia”. Kekuatan Sraddha sangat luar biasa. Ia sangat membantu apa pun yang orang lakukan.

Hal-hal dunia arahnya keluar, sedangkan Sraddha arahnya ke dalam dan mengalami ke dalam diri. Terkadang para praktisi terkecoh lalu mengarahkan perhatiannya keluar, demi dunia melihat dan setuju padanya. Maka terjadilah kesalahan fatal, melakukan sesuatu “karena orang lain dan untuk orang lain”, dan itu berarti mengabaikan Sraddha.
Para praktisi spiritual yang baik akan mengarahkan praktiknya ke dalam diri. Mereka tidak akan pernah bosan berusaha menyempurnakan praktiknya. Bagi pemeditasi, setiap bermeditasi akan selalu menanyakan pada dirinya, “Sudahkah aku duduk dalam sikap yang benar?”, “Sudahkah aku melakukan meditasiku mengarah pada arah yang benar?”, “Sudahkah ruangan meditasiku bebas dari gambar atau hiasan yang bukan-bukan?” Ia juga akan memastikan tidak ada getaran-getaran lain selain getaran spiritual yang mengisi ruangan meditasinya. Seorang Sadhaka Meditasi yang baik akan memastikan semua itu setiap melakukan meditasinya.

Demikian pentingnya Sraddha, bahwa orang harus mengalami ke dalam diri terlebih dahulu. Kalau tidak, orang hanya akan ikut-ikutan saja, mengikuti atau mengajak orang mengikuti. Praktisi spiritual harus menempatkan kesadarannya menjadi orang yang Sraddhawan (yang mempunyai Sraddha). Orang yang mempunyai Sraddha akan mendapatkan pengetahuan suci (Sraddhavan labhyate jnanam). Memantapkan Sraddha memastikan orang memperoleh pengetahuan suci jnana. Hanya orang yang jiwa raga dan atmanya oleh pengetahuan suci saja yang akan mendapatkan kebahagiaan sejati (param Santim). Orang harus mengalami anubhava spiritual ke dalam diri. Bukan anak, suami, istri, dan juga bukan orang lain yang harus mengalami melainkan diri sendiri. Orang harus memastikan dirinya mempraktikkan dan bukan hanya hadir dalam pertemuan-pertemuan diskusi spiritual. Keseharian spiritual bukan hanya di ruang sembahyang, tetapi juga keluar ke jalan, ke pertemuan, atau di mana berada, orang harus tetap menjaeji seorang Sraddhawan, yaitu orang yang tangannya menggenggam “berlian sejati” bernama Sraddha.

Jika tidak ada Sraddha, mengapa dan untuk apa orang datang jauh-jauh ke tempat-tempat spiritual? Orang yang tekun dan tulus berada di jalan spiritual pasti sudah mempunyai Sraddha yang sangat baik makanya ia tekun mempraktikkannya. Umat datang ke Besakih, Lempuyang, Batukaru dan lain-lain karena Sraddha-nya sudah ajeg. Orang membuat dan menghaturkan canang, banten dan lain-lain karena Sraddha-nya sudah muncul serta bersthana dalam kesadaran terdalam. Umat sudah mulai merasakan kenyamanan membaca Bhagavad Gita, sudah merasakan enaknya berjapa, karena itulah mereka melanjutkan praktik spiritualnya. Jika tidak ada Sraddha, untuk apa mereka dari jauh-jauh mengunjungi pertemuan, diskusi atau sadhana spiritual? Jika tidak ada suatu “rasa spiritual” dialami di dalam diri, maka mereka akan memilih lebih baik menonton bola atau sinetron di rumah. “Adau Sraddha“, keyakinan yang kuat, ajeg dan tidak tergoyahkan menempati kepentingan terdepan dalam setiap aktivitas atau praktik spiritual yang dilakukan. Kalau tidak, orang tidak akan menghargai pengetahuan suci jnana, sebaliknya hanya akan dipergunakan sebagai hiburan spiritual.

Sehubungan dengan Sraddha, orang hendaknya waspada agar keyakinan tidak menjadi luntur. Jika tidak bersungguh-sungguh mengadakan. penyepurnaan kesadaran, maka Sraddha bahkan bukan hanya kurang melainkan bisa menjadi tidak ada sama sekah. Praktik-praktik yang di arah Brahman, Atman lebih banyak arahnya hanyalah formalitas belaka. Orang tidak akan mengerti mengapa mempraktikkan ini dan itu? Mengapa dan bagaimana upacara ini dan itu, orang sama sekali tidak akan mengetahuinya. Praktik ada, meriah dan bagus, tetapi Sraddha tidak ada, karena pengetahuan tentang hal itu tidak ada. Bahayanya, tanpa Sraddha apa pun dilakukan. hatinya tidak akan ada di sana, karena hanya formalitas. Ada “bahaya kecendrungan” seperti itu yang bisa terjadi di masyarakat. Paling tidak, sebagai umat penganut Sanatana Dharma, hal itu hendaknya jangan sampai terjadi pada diri sendiri. Orang harus mempunyai Sraddha, namun tidak akan menyentuh hidup orang lain, apakah mereka mempunyai Sraddha ataukah tidak, orang bijak tidak akan menyentuh hal itu.

Diri sendirilah yang harus mempunyai Sraddha, yaitu sebuah keyakinan seperti mencicipi madu. rasa manis dirasakan dan dialami langsung. Tidak akan ada yang mampu menyerongkan pengalaman rasa tersebut karena Sraddha sudah ada di sana, keyakinan yang ajeg pada yang benar dan hati ada di sana, itulah Sraddha.

Kembangan Sraddha antara lain ada Panca Sraddha (lima keyakinan tak tergoyahkan) dan Sraddha (upacara pada orang yang sudah meninggal). Sraddha sebagai upacara kepada yang meninggal, a-nya di depan dirgha (Panjang), sedangkan yang menunjuk keyakinan Sraddha, a-nya di belakang hrva (pendek).

Sehubungan dengan Sraddha sebagai keyakinan, khususnya bagi umat Hindu Dharma di Indonesia, demi pengakuan oleh negara sebagai sebuah agama, Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sebuah ajaran ketuhanan dapat disebut sebagai agama di tanah air, maka muncullah istilah Panca Sraddha, yaitu lima keyakinan umat Hindu Dharma yang mencakup (1) Meyakini adanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Brahman sebagai Tuhan Yang Maha Esa; (2) Meyakini keberadaan Atman yang kekal; (3) Meyakini berlakunya Karmaphala, (4) Meyakini adanya Samsara atau Purnarbhava, dan (5) Meyakini adanya pembebasan abadi (moksa).

Persyaratan tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1952, yaitu (1) mempunyai Tuhan Yang Maha Ejsa; (2) Memiliki seorang nabi sebagai pembawa ajaran; (3) Memiliki kitab suci yang diwahyukan; (4) Memiliki tata peribadatan yang baku; (5). Memiliki jumlah umat atau pengikut yang tersebar di berbagai negara.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Balipost, Minggu Pon, 26 Agustus 2018

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *