Segalanya Bisa Dicapai Melalui Pertapaan

“Yaduram yaduraradhyam 
yacca dure vyavasthitam 
tat-sarvam tapasa sadhyam 
tapo hi duratikramam”
(Canakya Niti Darpana 17.3)
 
“Yang sangat jauh, yang melalui pemujaan pun sangat sulit dicapai, yang berada di ketinggian maha tinggi, semua itu dapat dicapai melalui pertapaan. Karena tapa itu mempunyai kekuatan yang sangat hebat.”
 
Membaca sastra-sastra lontar leluhur, orang akan banyak mendapatkan kata tapa, yang biasanya disusul oleh kata brata, yoga, samadhi. Kata-kata tersebut dijejer bersama, saling kait-mengpit, bantu-membantu tidak terpisahkan.
 
(sumber foto lihat.co.id)
 

Tapa berasal dari akar kata Sanskerta tap, berarti membakar, memanaskan, menjadi i panas atau dipanaskan, terbakar, membuat menderita, menjadikan sakit, menyiksa, mendisiplin, atau terpanaskan. Tapa berarti; “memanaskan” diri melalui praktik-praktik disiplin ke dalam diri demi pematangan phisik. mental dan spiritual.

Tapo hi duratikramam”, – tapa mempunyai kekuatan maha hebat untuk menyehatkan dan memperkuat phisik, mematangkan serta memperteguh mental, dan tapa terutama merupakan praktik ampuh untuk memperoleh kekuatan spiritual. Tapa “menciptakan” kekuatan-kekuatan yang tidak sembarang orang bisa mencapainya. Leluhur bangsa Indonesia, atau leluhur bangsa-bangsa di dunia pada zaman dahulu memahami rahasia tapa dengan baik. Terutama ketika berbicara tentang Indonesia, bangsa nusantara mewarisi “harta karun” warisan leluhur yang tidak ternilai harganya dalam berbagaibentuk, terutama sastra lontar, yang tidak pemah “berhenti” memunculkan kemuliaan tapa.

Dalam Veda, tapa merupakan praktik penempaan dan penyucian diri demi pencapaian moksa, pembebasap dari kesengsaraan duniawi. Belakangan. tapa dipraktikkan lebih mengarah pada pencapaian kekuatan batin, kekuatan gaib atau pencapaian ka-aisvarya-an.

Sarvam tapasa sadhyam”, – segala bisa dicapai melalui (tapa brata, yoga, samadhi). Zaman sekarang, banyak urusan dapat diselesaikan melalui Handphone (HP). Beberapa perusahaan menerapkan cara kerja “tidak perlu ngantor” karena pegawai bisa “ngantor” kapan saja dan dimana saja, yang penting ada HP. Memiliki aplikasi-aplikasi super canggih, HP bisa “melakukan” apa saja. HP bisa mentransfer 200 juta sampai setengah mihar rupiah. Orang tidak perlu lagi datang ke Bank, mengisi formulir, tanda tangan ini dan itu, kemudian “menghadap” pejabat atau direksi Bank untuk verifikasi. Apa saja yang asadhya, yang tidak mungkin didapat, suht dicapai, atau bahkan impossible untuk dilakukan menjadi sadhyam (bisa dilakukan) hanya melalui HP, kecil tetapi melakukan pekerjaan besar.

Para leluhur tidak membuang waktu belajar ini dan itu berlebihan. Mereka melakukan tapa. Tatsarvam tapasa sadhyam, – segala yang impossible menjadi possible. Urusan-urusan yang sepertinya sudah tidak mungkin dapat diselesaikan bisa dengan mudah diselesaikan melalui tapa karena tapa mempunyai kekuatan sangat hebat. Tujuan buku dapat dicapai melalui tapa. Tanpa tapa orang sering mengalami kesulitan untuk memahami buku, bahkan tidak berhasil masuk ke dalam tujuan buku. Mereka bergulat pada nyastra, terperangkap dalam kenikmatan membaca sehingga lupa menjangkau tujuan sastra para leluhur yang melakukan tapa mampu mencapai tujuar. dari sastra melalui tapa. Tapa merupakan teknik disiplin penyiksaan diri. Seorang Tapasvi sibuk memanaskan dan “membakar” diri Apa yang dibakar? apa yang dipanaskan?

Orang menyukai kentang goreng, french fries, potato chips. Namun. jika diberikan satu karung kentang mentah dan disuruh memakan langsung. pasti tidak ada yang mau. Setelah dimasak maka kentang menjadi enak dan layak dimakan. Yang tidak “dipanaskan” tetap tidak “terbentuk”, tetap menjadi bahan mentah. Sesuatu yang mentah tidak bisa langsung dipakai, tidak bisa langsung dipergunakan. Sesudah matang barulah dapat dipergunakan, layak dinikmati atau diberikan kepada orang Makanan menjadi lezat karena dimasak. Pada tahun-tahun 1980-an orang-orang India tidak memahami nilai dan kegunaan kentang selain untuk membuat sayur di rumah. Kentang hanya dimanfaatkan untuk membuat makanan seperti sayur subzi, aluparantha dan lain-lain masakan dapur. Selain itu tidak ada. Namun belakangan mulai ada potato chips, atau french fries, maka nilai dan harga kentang menjadi mahal, karena setelah dimasak dan dibentuk maka kentang memiliki nilai lain, menjadi berharga serta mahal.

Hidup manusia yang mentah dan tidak dimasak, tidak ada artinya dan tidak bisa dipakai sesuai tujuan hidup manusia. Badan dan hidup manusia tidak bisa digunakan karena masih “mentah”. Mereka yang tidak memasukkan tapa ke dalam hidup manusianya tetap menjadi mentah. Orang hanya mendapatkan badan manusia untuk makan, tidur, berketurunan, bekerja, dan akhirnya menjadi tua lalu mati. Sebatas itu, selesai. Berhasil bekerja menjadi direktur, dalam pandangan agama spiritual hidup manusia belum terbentuk, karena ternyata binatang juga bekerja. Orang berhasil membuat rumah mewah, dalam padangan agama spiritual tidak merupakan sesuatu yang istimewa karena para burung pun bisa membuat sarang kuat dan indah yang bahkan manusia pun tidak bisa menirunya. Hidup manusia dibawakan hanya sebatas makan, tidur, kawin, bekerja, maka level hidup manusia dikatakan masih mentah, belum terbentuk. Semua itu masih berada dalam katagori penyia-nyiaan hidup manusia. Ia masih mentah. Hidup manusia harus dimasak melalui tapa yang akan membuat semuanya menjadi cemerlang berharga.

Mempunyai satu kilogram emas di rumah tidak ada arti dan nilai, karena masih mentah dan belum di-“tapa”. Bagaimana cara men-tapa-kannya? Resi Canakya memberikan cara men-tapa-kan emas supaya menjadi indah, berharga, layak dikalungkan di leher, dipasang di telinga atau di jemari yang indah. Caranya? Pertama-tama emas di-test keasliannya dengan cara digosok-gosokkan. Bukan dihanduk, permadani, bukan di kain sutra yang indah dan lembut, melainkan di batu yang keras. Gosok dan gosok maka kelihatanlah jika emas itu ash ataukah tidak. Proses berikutnya adalah dibakar di api yang panas membara. Lanjut lagi, emas kemudian dipukul-pukul dengan palu besi, digunting atau melalui proses pengerjaan rumit lainnya. Melalui proses panjang dan rumit seperti itu barulah emas menjadi indah menarik serta layak dipakaikan di telinga atau leher seorang Ratu. Satu kilo emas di rumah tidak ada artinya sebagaimana sekian gram emas di toko emas, yang nilai dan harganya menjadi luar biasa. Hidup manusia yang dimasak dan dimatangkan melalui tapa akan menjadi terbentuk, berharga, dan orang akan mencarinya. Wajah yang sekadar ganteng, cantik, belum terbentuk secara manusia.

Pustaka-pustaka Veda selalu mengajarkan agar orang memasak hidup manusianya. “Manur bhava” – jadilah manusia tapakanlah hidup, bentuk dan disiplinkarilah hidup. Para guru dan dosen agama, acharya, pendeta atau calon pendeta sangat ketat dalam disiplin mentapakan bibir. Mereka sangat pantang bergossip atau menjelek-jelekkan orang karena takut “taksu” kata-katanya akan ilang musnah. Mereka selalu berkata-kata yang manis menarik, memakan dan meminum apa-apa yang hanya mendukung kemuliaan. Mereka mentapakan bibir dengan pembacaan sloka-sloka dan mantram-mantram. Bukan oleh lipstick atau permainan dan pengolahan kata-kata di bibir melainkan melalui disiplin spiritual seperti itulah bibir menjadi terbentuk dan mempunyai “taksu sakti“. Tapa pikaran dan badan pun dilakukan dengan selalu memikirkan hal yang indah dan mulia. Bhagavad Gita mengajarkan pertapaan badan, kata-kata dan pikiran. Ketiga tapa dikatagorikan dalam tingkat satva-guna (kebaikan), raja-guna (kenafsuan), dan tama-saguna (kegelapan, kebodohan).

Tapa merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap orang. Melalui tapa orang bisa membentuk hidup menjadi apa saja. Hanya melalui tapa, orang bisa membawa dan mengangkat hidup manusianya dari bawah sampai ke puncak. Tapa bukan pemanasan biasa melainkan pemanasan dalam aturan. Veda tidak membiarkan orang menjadi mentah tanpa dibentuk matang, karena hanya orang “matang” yang dilihat dan dibukakan pintu oleh Tuhan.

Tapa bukan menderitakan tetapi membentuk dan menyempurnakan diri. Yaduram yadiraradhyam, sejauh mana pun, semua itu selalu dapat dicapai. Tuhan yang berada sangat jauh dapat dicapai melalui tapa. Para resi dan yogi mencapai-Nya melalui tapa. Tat-sarvam tapasa sadhyam, melalui tapa semua menjadi sadhyam (bisa dicapai). Tapo hi duratikramam, karena tapa mempunyai kekuatan luar biasa untuk menyukseskan apa saja yang dilakukan. Menjadi seorang Tapasvi dalam hidup manusia sangatlah penting.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Balipost, Minggu Kliwon, 2 September 2018  

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *