Hidup Bukan Panggung Sandiwara

Seringkali dikatakan dunia ini panggung sandiwara. Kehidupan ini juga sandiwara. Semua di antara kita adalah pelakon. pemain, atau tukang akting, lalu bersama-sama be- main sandiwara sesuai peran yang telah diatur dalam ske- nario sutradara agung – Tuhan. Karena dunia ini panggung sandiwara, dan hidup ini hanya bersandiwara, maka kehidupan ini menjadi seolah-olah hidup. Benarkah dunia beserta kehidu-pan ini panggung sandiwara? Setiap umat beragama pasti meyakini, kehidupan ini perger- akannya sudah ada yang men- gatur. Bahkan jatuhnya sehelai daun dari pohon pun dikatakan atas kehendak Tuhan Sang Maha Pengatur gerak kehidupan. Sehingga apa yang dilakukan manusia, baik ataupun buruk sesungguhnya tak lepas dari “campur tangan” Tuhan. Lalu apakah manusia tidak mempunyai otoritas untuk bergerak, bertindak melakukan sesuatu? Dimanakah kemudian letak tanggung jawab manusia atas perbuatannya jikalau sudah diatur dan merupakan kehendak Tuhan?

(sumber foto maksiparanggi.wordpress.com)

Dalam ajaran Siwa Sidhanta dinyatakan, Siwa (Tuhan) adalah realitas tertinggi dari jiwa atau roh pribadi yang adalah intisari yang sama dengan Siwa, tetapi tidak identik. Siwa merupakan realitas tertinggi, kesadaran tak terbatas, yang abadi tanpa perubahan, tanpa wujud, merdeka, ada di mana-mana, maha kuasa, maha tahu, esa tiada duanya. tanpa awal, tanpa penyebab, tanpa noda, ada dengan sendirinya, selalu bebas, selalu murni, dan sempurna. Ia tidak dibatasi oleh waktu yang merupakan kebahagiaan dan kecerdasan yang tak terbatas, bebas dari cacat, dan maha pelaku. Dikaitkan pandangan tentang dunia ini sebagai panggung sandiwara, sejatinya tidak demikian adanya. Dunia ini adalah arena berkarma. Sebab manusia dengan sang Atma, percikan sinar suci Tuhan yang menghidupkannya sebagai jiwatman bukanlah Sang Siwa (Tuhan/Brahman).

Manusia tetaplah manusia, meski jiwa atau roh yang sama dengan Tuhan (Siwa), tetapi tidak identik. Berarti eksistensinya berbeda, sehingga manusia setelah diciptakan lahir menjadi makhluk yang “lepas/ bebas” untuk bergerak, bertin- dak, berbuat atau berkarma beserta pertanggungjawabannya. Agamalah kemudian dengan ajaran sucinya yang diturunkan Tuhan menjadi suluh penuntun agar manusia terus berkarma, sebagaimana disuratkan kitab Bhagawad Gita, III. 5, 8, dan 19: “Walaupun untuk sesaat jua tidak seorangpun untuk tidak berbuat, karena setiap manusia dibuat tidak berdaya oleh hukum alam yang memaksanya bertindak; Berkarmalah seperti yang telah ditentukan, sebab berbuat lebih baik dari pada tidak berbuat, dan bahkan tubuhpun tidak akan berhasil terpelihara tanpa berkarma; Oleh karena itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat (pada akibatnya), sebab kerja yang bebas dari keterikatan bila melakukan pekerjaan itu orang akan mencapai (tujuan) yang tertinggi”. 

Dengan demikian, tidaklah benar jika dikatakan dunia dan kehidupan ini sebagai panggung sandiwara, tetapi benar-benar sebagai arena dan ajang berkarma, berbuat, bertindak atau bekerja sebagaimana telah menjadi kewajiban, bukan “digerakkan” oleh skenario Tuhan. Meski tak jarang ada orang suka bermain sandiwara dalam hidupnya, tetapi sesungguhnya hidup ini nyata adanya, tidak bermain-main atau sesukanya mempermainkan kehidupan. Jika dunia ini panggung sandiwara, boleh jadi manusia akan menjadikan kehidupan ini sebagai “seolah-olah” hidup (idep-idepang idup), yang sarat dengan kepura-puraan, sebagaimana menjadi fenomena dan realita kehidupan saat ini. Ibarat topeng pajegan, seseorang bisa dengan mudah berganti tapel sesuai lakon yang diinginkan. Mereka mengikuti hukum simulakra, seolah hidup ini permainan simulasi, tidak nyata adanya tetapi seakan-akan benar-benar nyata. Akibatnya seringkali orang terkecoh dengan tampilan orang-perorang yang teramat sulit dideteksi, apakah karakter asli yang sedang ditunjukkan atau peran sandi wara yang sedang dimainkan.

Ambil contoh, dalam situasi dan kondisi perpolitikan saat ini, tampak kian marak tampilan sosok-sosok dadakan (karbitan) dengan ambisi meraih simpati untuk mendongkrak perolehan suara guna meraih kursi jabatan. Para pelakon di panggung politik ini dengan mudah menyulap dirinya untuk tampil di panggung depan (front stage) “seolah-olah” baik, dermawan, berjiwa sosial, dan religus, meski dalam realita kehidupan di pangung belakang (back stage) berlatar “saru/gelap/hitam”. Tak terkecuali dalam konteks kehidupan beragama, tidak sedikit umat dengan langkah ringan tampil dalam kepura-puraan. Ke Pura misalnya, pura-pura bhakti, padahal tujuannya nunas atau ngalih bati, kadang terkesan melali atau rekreasi sembari menyalurkan hasrat kontestasi dengan gaya selebrasi. Lepas dari persoalan itu, patut diingatkan kembali, bahwa dunia ini memang bukan panggung sandiwara, dan kelahiran sebagai manusia juga tidak untuk bersandiwara, tetapi menjalankan karma dengan sebenar-benarnya berdasarkan petunjuk dharma guna mencapai jagadhita dan moksa.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Koran Balipost, Minggu Kliwon, 2 September 2018

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *