Parwa kelima: Persiapan Perang

Setelah selesainya upakara perkawinan malam itu, para Pandawa beristirahat: mereka bangun dini hari untuk menemui para raja yang menjadi tamu di kerajaan Wirata. Di sana Krishna berkata kepada mereka:

“Persyaratan-persyaratan dalam kesepakatan antara Yudhisthira dan Duryodana sudah dipahami oleh semua yang hadir di sini. Setelah kalah dalam pertandingan dadu, para Pandawa mesti mengasingkan diri di tengah hutan selama tiga belas tahun, dan walaupun Pandawa dapat merebut kembali kerajaan mereka dengan kekuatan kapanpun mereka kehendaki, namun para Pandawa tetap memegang teguh janji mereka. Dengarkanlah ini baik-baik, wahai para raja. Suatu janji telah dipenuhi – Para Pandawa telah menunjukkan bahwa mereka bisa dipercaya. Sikap Duryodana dalam hal ini belum jelas bagi kita. Untuk itu saya sarankan agar kita mengirimkan seorang utusan – seorang yang terhormat, dapat dipercaya dan berbudi luhur – dengan permintaan agar separuh kerajaan bagian Yudhisthira dikembalikan sesuai dengan bunyi perjanjian.”

“Jika utusan tersebut diharuskan menggunakan kata-kata yang lembut dalam perundingan, saya akan mendukung rencana ini,” kata Balarama, kakaknya Krishna. “Perang bukan tujuan kita, melainkan perdamaian. Kalau kekerasan gagal, maka mungkin sikap lemah lembut akan berhasil.”

 
(sumber foto mythologger.com)
 

Satyaki dengan cepat berdiri. “Apa gunanya berkata manis dan berpura-pura? Pada pohon yang sama, sebatang dahan menghasilkan buah, sementara dahan yang lain mandul. Dalam keluarga yang sama, seorang bersikap gagah berani, yang lain pemalu. Apa perlunya Yudhisthira menggunakan cara halus? Mengapa ia harus memohon merendahkan diri guna mendapatkan apa yang menjadi haknya? Pilihannya apakah Yudhisthira diberikan kembali kerajaannya atau ia harus merebutnya kembali. Dengan Arjuna di pihak kita, kita tidak akan kalah”.

“Perkataan yang bijaksana,” kata Krishna,” dan juga menunjukkan loyalitas tinggi, yang kita sangat hargai. Namun kewajiban pertama tetap harus dilakukan yaitu mencoba untuk berunding; adalah bodoh kalau menggunakan pendekatan yang lain. Jika Kaurawa bersiap untuk menerima tawaran perdamaian dengan syarat-syarat yang terhormat, maka ini akan sangat bagus; namun jika mereka menolak jalan damai, maka kita siap menempuh jalan yang lain.”

Draupada mengirimkan utusan yaitu seorang Brahmana untuk menemui para Kaurawa dengan pesan perdamaian, dan Arjuna pergi ke Dwaraka bersama Krishna dan Balarama. Namun, pada saat yang sama, mata-mata Duryodhana membawa berita terkait perundingan yang terjadi di balairung istana kerajaan Virata. Duryodhana bergegas bergerak menuju Dwaraka ditemani oleh beberapa prajurit pilihan, tiba di Dwaraka pada hari yang sama dengan kedatangan Arjuna.

Duryodhana memasuki ruangan ketika Krishna masih sedang tertidur, dan ia duduk di sebuah kursi di dekat kepala Krishna. Arjuna hadir di ruangan yang sama dengan posisi berdiri dan mencakupkan kedua tangan. Krishna tiba-tiba bangkit dan melihat Arjuna terlebih dahulu; Dan Duryodhana berkata: “Wahai Krishna, aku memasuki ruangan ini pertama kali, bertujuan untuk memohon bantuan darimu.” Engkau tidak bisa menolak diriku.”

“Aku tahu engkau masuk pertama kali,” kata Krishna, “namun mataku melihat pertama kali ke Arjuna. Kalian berdua akan mendapatkan bantuan dariku. Anak yang lebih muda ini akan mendapatkan kesempatan memilih pertama kali. Pilihlah, Arjuna, di antara dua jenis bantuan dari diriku, pilihan pertama adalah kekuatan dari seratus juta prajurit yang siap untuk bertempur, pilihan kedua adalah sebaliknya yaitu hanya diriku seorang (sebagai penasehat) dan Aku tidak ikut bertempur di medan perang.   Arjuna memilih Krishna, walaupun Krishna telah bersumpah tidak akan mengangkat senjata dalam medan perang; dan Duryodhana tampak puas dan senang mendapatkan bantuan berupa seratus juta prajurit berada di pihaknya.

Ketika Duryodhana telah pergi, Krishna bertanya kepada Arjuna: “Kenapa engkau justru memilih aku yang engkau tahu Aku tidak akan ikut berperang?”
“Aku bisa mengatasi para prajurit oleh kekuatanku sendiri, Krishna, jika aku mendapat anugrah kehadiran dirimu memberikan dukungan moral, maka kejayaan dan anugrah darimu pasti akan datang padaku.”
“Saya akan menjadi kusir kereta perangmu,” kata Krishna. “Engkau bisa mengandalkan diriku.”

Mendengar bahwa raja Shalya, saudara dari Dewi Madri (Ibunda dari Nakula dan Sahadewa) telah mendirikan perkemahan dengan angkatan bersenjatanya di sebuah wilayah seluas 13.5 km persegi. Duryodhana datang ke perkemahan militer tersebut dan menjamu Prabu Shalya dengan segenap keramahtamahan dan kemewahan makanan lesat termasuk minuman anggur berkualitas tinggi. Merasa begitu puas, Prabhu Shalya merangkul pundak Duryodhana dan berkata, ”Apa yang bisa saya lakukan untukmu?”

“Aku meminta Baginda bisa menjadi Senapati Perang untuk angkatan bersenjataku,” sahut Duryodhana.   Tidak beberapa lama kemudian, pandita utusan Raja Draupada tiba di Balairung kerajaan Kaurawa, dan disambut oleh Dhristarashtra, Bhisma, dan Vidura.

“Wahai Baginda Raja,” katanya,“ adalah seharusnya saya tidak perlu menjelaskan kesatuan garis keturunan antara Kaurawa dan Pandawa. Adalah bukan bagian saya yang perlu menjelaskan bahwa kerajaan ini mesti dibagi sama rata antara putra-putra Dhrisarashtra dan putra-putra Pandu. Namun hamba berhak menyampaikan bahwa berdasarkan Dharma (kebenaran) menuntut agar sesuatu hak mesti dikembalikan, perjanjian antara Kaurawa dan Pandawa mesti dihormati.

“Kami senang mendengar bahwa kelima Pandawa semuanya sehat,” kata Bhisma, ”dan lebih senang lagi saya mendengar bahwa mereka menginginkan perdamaian dengan para sepupunya (Kaurawa). Semua pernyataanmu adalah kebenaran, dan karena engkau adalah seorang Brahmana, engkau mengerti bagaimana menempatkan segala sesuatunya dengan benar.

Karna dengan marah menyela, “Kami tahu semua tentang hal ini, hai Brahmana. Siapa yang tidak tahu tentang perjanjian ini. Apa perlunya mengulang kembali hal-hal yang sudah nyata? Jika Pandawa berfikir bahwa mereka bisa menekan Duryodhana untuk memberikan setengah dari kerajaan ini, mereka telah melakukan kesalahan. Jika keadilan menuntut hal ini, ia akan menyerahkan seluruh dunia, tapi tidak seorangpun boleh menekan Duryodhana.”

“Kamu cuma bisa omong besar Karna,” kata Bhisma. “Duryodhana telah disudutkan ketika Arjuna sendirian berhasil mengalahkan keenam pahlawan besar Kaurawa (Duryodhana, Kripa, Drona, Aswattama, Karna dan Dushasana) saat terjadi pertempuran di Kerajaan Virata. Dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Brahmana ini.”

Dhristarashtra berkata, ”Aku akan memikirkan hal ini dan akan memutuskan yang terbaik bagi semua pihak.” Kepada sang Brahmana ia berkata, “Engkau boleh pergi sekarang, aku akan mengirim Sanjaya untuk memberikan jawaban dariku.”

Kepada Sanjaya ia berkata,”Pergilah ke tempat para Pandawa. Bujuklah mereka dengan kata-kata manis. Juga doakan untuk kesejahteraan mereka. Mereka selama ini selalu baik dan patuh, dan mereka mulai akan menyukai kita. Berhati-hatilah jangan sampai engkau menyampaikan kata-kata kasar atau yang menjurus ke peperangan. Gunakan dengan baik akal dan kebijaksanaanmu, dan khususnya bersikap lembutlah kepada Krishna. Para Pandawa tidak akan melakukan apapun kecuali atas persetujuan Krishna.”

Sanjaya bergegas berangkat menuju Upaplavya (tempat kediaman Pandawa), dan Yudhishthira menyambutnya dan berkata: ’’Sangat senang bisa melihat dirimu lagi, Sanjaya. Bagaimana kabar setiap orang di istana? Bagaimana kamu sendiri apakah sehat sejahtera?”

“Aku membawa pesan dari Raja Dhritarashtra,” kata Sanjaya,” dan saya sarankan engkau mendengarkan pesan ini dengan cermat. Sang Raja menghargai kejujuranmu dan juga kerendahan hatimu, juga kebijaksanaan dan sikap yang merata ke semua orang. Ia juga berkata bahwa engkau tahu tentang apa yang seharusnya dilakukan. Ia juga tahu bahwa engkau memandang bahwa tindakan jahat akan merusak harga diri keluarga besar, seperti halnya sebuah noda pada lembaran putih.   Atas nama Beliau, saya bersujud di hadapan Krishna dan Drupada. Saya memohon agar engkau bertindak yang akan memberikan kesejahteraan kepada keluarga besar.”

“Namun ini sungguh aneh, Sanjaya,” kata Yudhishthira. “Apa yang pernah aku katakan atau pernah lakukan yang menyiratkan bahwa aku adalah dalang perbuatan jahat? Siapa yang tidak tahu bahaya dari menyulut peperangan? Bagaimana mungkin seseorang dalam kondisi panca indrianya seperti itu memikirkan tentang terjadinya peperangan? Kenapa para dewa pernah mengutuk dia seperti itu? Engkau mengetahui secara keseluruhan hubungan kami dengan Duryodhana. Kami tetap Pandawa yang dahulu.

Oleh: Gede Ngurah Ambara
Dari Mahabharata of Vyasa by P. Lal
Referensi: Majalah Media Hindu 174, Agustus 2018

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *