Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti

Tuhan hanya satu, tetapi orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama

Sloka ini pertama kali saya dengar dan baca ketika saya duduk di bangku SD. Saya tidak terlalu tahu akan makna dan manfaat dengan adanya sloka ini kala itu. Walaupun guru menyebut- kan berbagai sebutan pengganti nama Tuhan seperti Brahma, Wisnu dan Siwa dan dalam tri sandya bait ke-3. Tetap saja saya tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang sloka ini.

Untung saja ingatan saya sangat bagus sehingga sloka ini selalu bisa saya ungkapkan dan artikan. Pertanyaan ‘mengapa’ terus menyelimuti saya, hingga kemudian saya berpikir kenapa semua itu bisa terjadi.  

 
(sumber foto tripadvisodr.co.id)

Sejak lahir hingga SMA saya hidup dalam lingkungan yang mayoritas Hindu dan taat dalam menjalankan agama. Saya tidak pernah merasakan perbedaan yang berarti, hanya saja cara yang berbeda dalam setiap upakara yang dilakukan. Itupun sudah punya solusi yang jelas dengan adanya istilah “desa kala patre”.

Rutinitas Hindu seakan menjadi bagian sepenuhnya dalam hidup saya. Hingga saya lupa bahwa sebenarnya ada saudara-saudara saya di luar sana yang sedang berperang untuk mendapat pengakuan di tengah-tengah petualangan menjadi kaum minoritas.

Setelah SMA saya merantau, kuliah di salah satu universitas negeri di Lombok. Semester 1 (satu) berjalan datar, tidak ada tantangan yang berarti dalam hal agama. Hingga akhirnya seiring berjalannya waktu, perbedaan itu semakin melunjak saya rasakan. Agama A mulai berdebat dengan agama B, Agama C menjelek-jelekkan agama D, agama B tidak pernah mau mengalah dan menyatakan bahwa agamanya lah yang terbaik, begitu juga agama A, C, D, dan seterusnya, tidak ada yang mau mengalah. Semua merasa paling benar, paling hebat, dan paling lengkap.

Dari situasi inilah saya berpikir: “Kalau masing-masing pemeluk agama merasa benar, lalu kemudian siapa yang salah? “Kalau masing-masing agama merasa yang terbaik, lalu kemudian siapa yang terburuk? Kalau masing-masing pemeluk agama menjelek-jelekkan agama lain, lalu kemudian siapa yang pantas untuk tidak dijelek-jelekkan?” Dan jawaban yang paling bijak diantara yang terbijak adalah: ekam sat viprah bahudba vadanti. “Tuhan hanya satu, tetapi orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”.

Disini saya baru mendapatkan makna tentang maksud dan tujuan dari sloka ini. Saya berimajinasi bahwa sesuangguhnya matahari itu satu, tapi orang-orang menyebutnya dengan banyak nama, orang inggris menyebutnya “sun“, orang bali “matanai“, orang indonesia “matahari”, dan saya yakin orang-orang di daerah dan negara yang lain punya sebutan yang berbeda. Lalu kemudian kenapa kita harus saling menjelekkan kalau tujuan kita sama yaitu “menyebut matahari atau dalam hal ini menyebut nama Tuhan.

Melalui sloka ini saya mengajak kita semua, untuk bisa saling menghargai dan menghormati. Tak ada salahnya kita mengalah untuk kebaikan. Yang terpenting adalah saat ini kita tahu bahwa kita berada pada dimensi yang sama dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam perantauan menemukan banyak pertanyaan dan jawaban tentang lika-liku kehidupan sehingga selalu mencoba untuk mencari makna yang bisa di ambil di dalamnya. Sekian. Semoga bermanfaat.

Oleh: Dr. Kadek Adi Wibawa
Dosen di Universitas Mahasaraswati
Referensi: Majalah Media Hindu, Edisi 173, Juli 2018  

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *