NIRAKHYATAH SUDDHO: Suci Tak Tergambarkan

Om narayana evedam sarvam yad bhutam yac ca bhavyam nickalanko niranjano nirvikalpo nirakhyatah suddho devo eko narayanah na dvitiyo ‘sti kascit

(Om Narayana adalah semua ini. apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kekotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Narayana, la hanya satu tidak ada yang kedua.)

Petikan Tri sandhya bait ke dua ini memiliki makna cukup mendalam dimana secara hakikat menjelaskan bahwa Tuhan itu Esa adanya. Hal ini menegaskan sekaligus menepis paham polytheis yang yang selama ini melekat dan identik dengan agama Hindu yang memuja banyak Dewa. Eko Narayana na dvityo ‘sti kascit (Narayana, la hanya satu tidak ada yang kedua) merupakan kalimat utama yang menegaskan bahwa hanya satu Tuhan sebagai sumber segala yang ada (narayana evedam sarvam).


(sumber foto instagram HinduMenulis)

Segala yang ada di klasifika- sikan sebagai apa yang telah ada dan apa yang akan ada. Apa yang telah ada meliputi buana agung dan buana alit. Buana agung maupun buana alit terdiri atas unsur panca maha bhuta sebagai pembentuknya. Buana agung sebagai tempat dari buana alit terdiri atas surya (matahari), chandra (bulan), lintang tranggana (bintang dan planet-planet) termasuk bumi sebagai tempat tinggal makhluk hidup yang terdiri atas tumbuhan (trna, taru, lata, janggama), manusia (nara marga, wamana, jatma), dan hewan (swedaya, andaya dan jarayuja). Berbagai kehidupan yang telah ada di alam semesta ini bersumber dari Naranayana. Hal ini menandakan bahwa tak satu pun kehidupan yang telah berlangsung dari masa yang telah silam luput dari Narayana.

Apa yang akan ada di masa yang akan datang adalah juga bersumber dari Narayana, sehingga tak satupun yang ada di masa depan luput dari Narayana. Dengan demikian maka Tuhan adalah anadi (tanpa awal) dan ananta (tanpa akhir), dimana hanya satu yang tak berawal dan tak berakhir yaitu sebagai Narayana dalam bait kedua Tri sandhya. Dengan demikian Tuhan melampaui ruang dan waktu, la sebagai awal (Iswara). Rg Weda menegaskan:

Yo nah pita janita yo nidhata,
dhanani veda bhuvanani visva,
yo devanam namadha eka eva,
tam samprasnam bhuvana yantyanya

(Rg Veda X. 83. 3)

Terjemahan:
Oh, Bapa kami, Pencipta kami, pengatur kami yang mengetahui semua keadaan, semua apa yang terjadi, Dia hanyalah Esa belaka memikul nama bermacam-macam dewa. Kepada Nya-lah yang lain mencari-cari dengan bertanya-tanya.

Dalam syair Weda di atas Tuhan sebagai pencipta, pengatur, yang mengerti semua kondisi. Dia Esa adanya dengan berbagai nama Dewa yang disandangnya. Baik dalam Rg Weda mapun bait Narayana Upanishad terdapat semangat yang sama tentang Tuhan yang Esa yang merupakan sumber segala yang ada maupun yang akan ada. Sehingga seluruh makhluk termasuk manusia didalamnya sangat bergantung pada Tuhan sebagai penentu kehidupan. Maka hanya Tuhan Yang Esalah sebagai tambatan pertolongan manusia dalam mengarungi kehidupan.

Trataram indram avitaram hand ram have have suhavam suram indram,
hvayami sakram puruhutam indram svasti no maghava dhatvindrah

(Rg. Veda, VI.47.1I)

(Tuhan sebagai Penolong, Tuhan sebagai Penyelamat, Tuhan yang Maha Kuasa, yang dipuja dengan gembira dalam setiap pemujaan, Tuhan Maha Kuasa selalu dipuja, kami semoga Tuhan yang Maha Pemurah melimpahkan rahmat kepada kami)

Tuhan yang Maha Esa bukan hanya sebagai sumber segala yang ada, namun juga sebagai pelindung kehidupan sehingga la yang Esa merupakan objek pemujaan sekaligus sebagai subjek pelaku terhadap harmoninya kehidupan. Tuhan yang esalah yang patut di puja sebagai tempat memohon karunia agar manusia dapat mengarungi kehidupan. Sehingga dalam Weda Tuhan dipandang sebagai penentu atas karunia yang diterima oleh manusia selama di dunia, namun demikian Tuhan luput dari pengaruh duniawi sehingga Tuhan tetap suci adanya walaupun hadir dalam kehidupan manusia di dunia “Suddho devo eko narayana na dvitiyo ‘sti kascit

Suddho atau suddha artinya suci bebas dari noda, yang menegaskan suatu kondisi tanpa cela atau cacat, sehingga tak sepadan jika sebuah kata Suddho mengungkapkan sifat ini. Yang tanpa cela sesungguhnya tak dapat digambarkan yang ditegaskan dengan kalimat nirakhyatahBhagawad Gita VII.24 menegaskan:

Avyaktami vyaktim apannami manyante mam abuddhayaho
parami bhavam ajananto mamavyayam anuttamam

(Orang yang tanpa pemahaman berpikir tentang Aku yang tak berwujud sebagai memiliki wujud, tidak mengetahui sifat-Ku yang lebih tinggi, tak berubah dan Tertinggi)

Sloka Bhagawad Gita VII.24 menegaskan bahwa penggambaran atas Tuhan yang suci adalah sebuah kesalahan, karena tak satupun gambaran itu dapat secara sempurna mewakili kata suddha oleh karena la adalah nirakhyatah. Inilah kesempurnaan Tuhan yang Esa sebagai Narayana yang nirakhyatah (tak adapat digambarkan) dan suddha (suci), dalam bait ke-dua Tri sandhya.

Oleh: Gde Adnyana
Sumber: Majalah Wartam Edisi 39, Mei 2018  

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *