Manusia Murid

“Guru ditemukan di mana saja, asalkan siap menjadi murid!” Kalimat itu adalah sebuah ungkapan. Saya pernah mendengar atau barangkali membaca entah kapan dan entah di mana. Yang saya ingat, ungkapan itu ada dalam konteks spiritual. Apa maksud ungkapan itu?

Mari kita simak dari dekat. Yang dimaksudkan “menyimak dari dekat” adalah memahami teks berdasarkan apa yang dikatakan, atau apa yang tertulis. Seperti berikut inilah hasil menyimak ungkapan pendek satu kalimat di atas.

Pertama, siapa atau apakah guru itu? Kata guru ditempatkan sebagai kata pertama. Kata-kata selanjutnya sampai kata yang terakhir, semuanya menjelaskan siapa yang dimaksudkan guru. Ungkapan di atas tidak menyatakan guru itu dicari, melainkan guru itu ditemukan. Mencari dan menemukan adalah dua hal yang tidak sama. Mencari belum tentu akan menemukan. Menemukan belum tentu karena mencari.

(sumber foto dari ganlob.com)
 

Demikian juga apa yang ditemukan belum tentu apa yang dicari. Tahapan pencarian pada umumnya berakhir setelah menemukan. Sedangkan menemukan pada umumnya adalah awal dari tahapan selanjutnya. Karena guru itu ditemukan, berarti guru sesungguhnya sudah ada sebelumnya. Kalau misalnya guru tidak ditemukan, bukan berarti guru itu tidak ada. Ia hanya tidak ditemukan.

Oleh siapakah guru itu ditemukan? Guru tidak ditemukan oleh dirinya sendiri, tapi guru ditemukan oleh orang lain. Dengan lain perkataan, guru tidak menjadikan dirinya seorang guru, tapi orang lainlah yang menjadikannya guru. Guru tidak menyebut dirinya guru, melainkan orang lainlah yang menyebutnya guru.

Kedua, siapa atau apakah yang disebut murid? Kata murid ditempatkan sebagai kata terakhir pada kalimat di atas. Semua kata yang ada sebelumnya adalah penjelasan siapa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan murid. Menurut ungkapan di atas, murid adalah orang yang menemukan guru. Dengan logika sangat sederhana bisa dikatakan bahwa orang belum menjadi murid kalau guru belum ditemukan olehnya.

Bilamanakah seseorang akan menemukan guru? Hanya kalau orang itu siap lahir dan batin menjadi murid maka pada saat itu ia akan menemukan guru. Itulah jawabannya. Apabila sekarang ia siap, maka sekarang ia menemukan guru. Kalau di sini ia siap, maka di sini ia menemukan guru. Kalau di sana ia siap, maka di sana ia menemukan guru.

Ketiga, guru dan murid dipasangkan-pasangkan. Yang satunya ditemukan. Yang satunya lagi menemukan. Tidak ada guru kalau tidak ada murid. Tidak ada murid kalau tidak ada guru, muncul pertanyaan, kekuatan apakah yang memasangkan murid dan guru sedemikian rupa? Dalam ungkapan di atas ada sebuah kata kunci, yaitu kata asalkan.

Kata ini menunjuk ada prasyarat yang harus dipenuhi agar terjadinya pertemuan antara yang menemukan dengan yang ditemukan. Prasyarat itu adalah frase siap menjadi. Frase ini sepenuhnya ditimpakan pada murid. Murid harus siap menjadi murid. Namun demikian, secara tidak langsung frase itu juga berlaku untuk guru.

Karena hanya setelah murid siap menjadi murid, maka barulah guru itu “lahir”. Oleh karena itu, guru semestinya berterimakasih kepada orang yang siap menjadikan dirinya murid. Karena murid itulah yang mewisuda dirinya sebagai guru. Secara filosofis dikatakan, guru berguru pada murid. Logikanya sama dengan pernyataan, orang tua berguru pada anak. Banyak sekali hal yang dapat dipelajari seorang guru dari muridnya. Tidak sedikit pula hal yang dapat dipelajari orang tua dari anaknya.

Dalam bahasa Indonesia ada pepatah, pengalaman adalah guru utama. Pengalaman adalah sesuatu yang dialami. Orang umumnya belajar dari apa yang dialami. Karena itu maka pengalaman menjadi guru, sedangkan orang yang mengalami menjadi murid, masih banyak contoh lainnya. Intinya, guru dan murid memang berpasang-pasangan.

Keempat, frase “bisa ditemukan di mana saja” menunjukkan bahwa guru tidak dibatasi oleh ruang. Secara geografis guru bisa ditemukan di laut, di gunung, di hutan, di kota, di jalan, di pasar, di rumah perjudian, di kuburan, di kamar mandi, di kebun binatang, dan seterusnya. Guru juga bisa ditemukan di luar batas geografis. Guru bisa ditemukan di dalam mimpi, di dalam pikiran, di dalam perasaan, dan sebagainya. Karena guru bisa ditemukan di mana saja, maka murid pun bisa berada di mana saja.

Kelima, karena tidak dibatasi oleh ruang, maka guru tidak juga dibatasi oleh bentuk. Mengapa dikatakan guru tidak dibatasi oleh bentuk? Karena bentuk atau rupa dan warna, ada di dalam ruang. Rupa dan warna adalah isi dari ruang. Pengertian guru dengan demikian menjadi sangat luas. Selain berupa manusia, guru bisa pula berupa dewa, gandharwa, apsari, widhyadara, widhyadari, pisaca, detya, binatang, tanaman, alam, suka, duka, sakit, kelahiran, kematian, dan sebagainya.

Keenam, mana yang ada duluan, guru atau murid? Ini bukan teka-teki seperti telor dan ayam. Ungkapan di atas menunjukkan bahwa murid ada terlebih dahulu. Ada orang mempersiapkan dirinya menjadi murid. Setelah persiapan matang, barulah guru ditemukan. Dengan demikian, guru ada setelah ada murid. Guru adalah akibat. Murid itu sebab.

Kelak guru akan dibebaskan oleh muridnya. Kasusnya hampir sama dengan dialektika orang tua dan anak. Anaklah yang menyebabkan seseorang menjadi orang tua. Kelak anak itulah yang akan membebaskan orang tuanya. Selanjutnya, cuculah yang menjadikan mereka sebagai kakek atau nenek. Kelak cucu itulah yang akan membebaskan kakek neneknya.

Ketujuh, tugas kita bukanlah pergi ke sana ke mari mencari guru. Tugas kita adalah mempersiapkan diri menjadi murid. Ungkapan di atas menyebutkan secara eksplisit bahwa yang dipersiapkan oleh seorang calon murid adalah dirinya. Apa maksudnya? Seorang calon murid hendaknya mengenali apa dan siapa dirinya.

Tujuannya, agar tidak salah memandang diri sendiri. Kalau salah memandang diri, bisa jadi guru yang akan ditemukan juga salah. Ingatlah cerita seekor macan yang salah berguru pada sapi dalam cerita Tantri. Macan menemukan kehancuran dirinya karena ikut makan daun-daunan seperti gurunya. Macan salah memandang dirinya sebagai makhluk pemakan daging. Belajar dari kasus macan itu, maka seorang calon murid tidak perlu mempersiapkan diri menjadi orang lain.

Seperti itulah kita membaca dari dekat sebuah kalimat pendek. Walaupun pendek, sungguh banyak yang dikandung di dalamnya. Isi tujuh butir di atas cukup untuk dikonsumsi oleh pikiran. Isinya ditelan, bijinya biarkan berserakan di halaman depan pikiran. Kelak biji itu akan tumbuh sendirinya.

Ampas-ampasnya biarkan menjadi pupuk yang akan menyuburkannya. Intisarinya kita petik dan simpan di gedong buddhi. Dari gedong penyimpanan itu kelak akan kita keluarkan bila dibutuhkan.

Apa inti semua pembicaraan di atas? Tugas kita hanya satu. Lahir dan batin menyiapkan diri menjadi murid. Selebihnya akan terjadi dengan sendirinya. Pikiran akan terbuka dengan sendirinya tanpa dibuka dari luar. Inspirasi akan datang dengan sendirinya tanpa diundang. Kesadaran akan tumbuh dengan sendirinya tanpa ditumbuhkan. Bagaimanakah persiapan itu dilakukan?

Ungkapan di atas tidak menjawab pertanyaan itu. Oleh karena itu, mari menyimak ungkapan yang lain. Ada ungkapan tidak serupa tapi sama. Isinya kurang lebih seperti berikut ini. Bayangan bulan akan kelihatan di air yang jernih. Ungkapan itu dalam redaksi berbeda pernah saya baca dalam sebuah buku berjudul Niti Shastra.

Apa pesan dibalik ungkapan itu? Barangkali tugas kita sebenarnya bukan mencari bulan, bukan pula mencari bayangannya, tapi cukup menyiapkan air yang jernih di dalam wadahnya. Apabila air jernih itu sudah tersedia, di tempat yang tidak salah, pada waktu yang benar, maka bayangan bulan itu akan kelihatan dengan sendirinya.

Bayangan bulan tidak usah dicari jauh-jauh. Bayangan bulan sama dengan bayangan guru. Karena bulan adalah salah satu dari guru utama di jagat raya ini. Ada orang berguru pada bulan purnama. Ada orang berguru pada tilem [bulan mati]. Ada lagi fanatik berguru hanya pada gerhana bulan. Tidak ada yang aneh soal beda pilihan itu. Yang aneh malah kalau tidak punya pilihan. Seperti itulah persamaannya. Bayangan guru akan datang sendirinya apabila air di dalam wadahnya sudah heneng [diam] dan bening [bersih].

Kumbang akan datang dengan sendirinya pada bunga yang telah mekar dan harum. Lebah akan datang dengan sendirinya pada sarang yang digantung di pohon. Burung walet akan datang dengan sendirinya kalau ada orang membuatkannya rumah. Demikian seterusnya dan seterusnya demikian. Karena memang sudah hukum alam seperti itu. Jadi, tidak usah ke luar masuk hutan memburu lebah untuk diperas madunya. Tidak usah memasang jaring untuk menangkap burung walet agar mendapatkan air liurnya. Usaha itu akan sia-sia.

Orang yang bagaimanakah bisa menjadi murid? Orang yang bisa menjadi murid adalah orang yang merindukan pengetahuan. Bukan sekadar rindu, tapi benar-benar rindu. Tapi rindu tidak bisa dibuat-buat. Orang tidak bisa membuat dirinya rindu, kalau dasarnya memang tidak rindu.

Kalau ada orang rindu pada pengetahuan, itu pertanda Sang Hyang Shastra sedang bangkit dan bekerja dari dalam dirinya. Siapa yang rindu? Yang rindu adalah Sang Hyang Shastra. Apa yang dirindukannya? Yang dirindukannya adalah Shastra. Berarti sedang terjadi proses penubuhan. Tattwa mengajarkan bahwa yang merindukan tidak berbeda dengan yang dirindukan. Dirinya yang merindukan, dirinya pula yang dirindukan. Dirinya yang mencari, dirinya pula yang dicari. Itulah sebabnya dari jaman dahulu selalu ada ungkapan mencari diri sendiri.

Mengapa orang mencari dirinya sendiri? Karena Sang Diri merindukan dirinya. Dirinya lalu dijadikannya sebagai sarana untuk mencari dirinya. Ketika yang mencari telah bertemu dengan yang dicari, maka keduanya pun hilang. Pencarian dinyatakan selesai. Tidak ada lagi yang mencari. Tidak ada lagi yang dicari.

Keadaan “tidak ada” itulah yang disebut hilang. Begitulah dialektika murid dan guru. Keduanya hilang setelah “bertemu” di dalam pengetahuan. Pengetahuan pun hilang ketika sama yang mengetahui dengan yang diketahui. Maka, tidak ada lain tugas kita selain bersiap-siap menjadi murid!

Oleh: IBM Dharma Palguna
Sumber: Media Hindu, Edisi 173, Juli 2018

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *