Arjuna Dikeroyok Kurawa Panah Nagapasa Duryodhana Menyerempet Dahi Arjuna

Pada saat itu Karna melakukan serangan, mengarahkan ratusan anak panah ke arah Arjuna, Arjuna membalas dengan ratusan anak panah berbentuk bulan sabit dengan ketepatan dan kecepatan yang begitu tinggi menghancurkan semua anak panah Karna dan sisanya menyerang Karna yang melarikan diri ketakutan.

Sementara ribuan prajurit lain yang dipimpin oleh Duryodhana, semuanya binasa di sekitar Arjuna berdiri, Duryodhana merasakan gelombang besar menerjang dirinya, begitu kuat dan kokoh seperti nyala api tegak ke angkasa. Bagaikan burung elang yang dilepas oleh sang pemburu, ribuan anak-anak panah Arjuna yang haus darah ditembakkan ke arah angkasa. Dan banjir darah terjadi dimana-mana, tercampur dengan gumpalan debu, membuat sinar matahari menjadi berwarna kemerahan. Arjuna menembakkan tujuh puluh tiga anak panah ke arah Drona, duabelas kearah Dushasana, tiga mengarah ke Kripa, dan seratus anak panah mengarah ke Duryodhana.

(sumber foto dari majalah Media Hindu)
 

Para Korawa membalas dengan melepaskan ratusan anak panah bersayapkan bulu burung yang ujungnya dilapis emas, melintasi angkasa bagaikan kawanan burung angsa. Drona sangat kagum terhadap keahlian memanah Arjuna, dan para prajurit berdiri terpaku menyaksikan ribuan anak panah Arjuna menutupi angkasa. Bhisma mundur dari area pertempuran, ia terluka di sepuluh bagian tubuhnya, Duryodhana maju ke tengah medan tempur dengan suara gemuruh.

Panah nagapasa (ujungnya serupa ular) direntangkan dengan busur sekuat tenaga oleh Duryodhana menyerempet dahi Arjuna; namun Arjuna berdiri kokoh, setegar gunung batu yang perkasa, sementara darah mengalir turun membasahi tubuhnya bagaikan untaian kalung bunga. Menjadi begitu marah, kemudian Arjuna menembakkan sejumlah panah nagapasa ke arah Duryodhana.

Vikarna yang menunggangi seekor gajah menyerang Arjuna; dan Arjuna menembakkan anak panah ke dahinya Gajah. Gajah itu tersungkur jatuh, seperti halnya tebing batu dihantam oleh kilatan petir, dan Vikarna melompat ketakutan dan lari ke belakang barisan sejauh delapan ratus langkah berlindung di balik sebuah kereta perang.

Melihat gajah itu tumbang, Duryodhana dengan cepat membalikkan keretanya dan melarikan diri, namun Arjuna mengikutinya dan berteriak, “Jangan lari, bertempurlah Duryodhana! Aku ingin melihat keberanianmu yang konon luar biasa!” Duryodhana melarikan diri, seperti seekor ular yang berbalik ketakutan karena dipukul; yang lain mengalami nasib serupa, Bhisma, Drona dan Duhshasana, mereka menyerbu Arjuna bersamaan seperti hantaman gelombang bertubi-tubi. Bagaikan burung bangau membelah mega, Arjuna menghancurkan mereka semua, menembakkan senjata-senjata dewatanya ke arah kanan dan kiri, suara kerang dewata-nya yang nyaring mengerikan membuat semua musuh tuli di ke empat penjuru.

Para musuh Arjuna semuanya berdiri terpaku lumpuh tidak berdaya, busur dan anak-anak panah mereka terlepas dari kedua tangan mereka. “Pergilah cepat,” kata Arjuna kepada Uttara, “sementara mereka berdiri lumpuh tidak berdaya terkejut hebat karena ketakutan, bawakan padaku kain putih milik Drona dan Kripa, dan kain biru milik Duryodhana dan Ashvatthaman, dan kain kuning milik Karna. Bhisma dalam kondisi normal tidak lumpuh, lewati saja Beliau.” Beberapa saat kemudian setelah tersadar kembali dari ketidakberdayaan, Duryodhana bertanya kepada Bhisma. “Kenapa engkau tidak menembakkan anak panahmu kepada Arjuna?’   Bhisma tersenyum, “Saya tidak menduga bahwa hanya bunyi sebuah suara kerang Arjuna akan membuat dirimu lumpuh tidak berdaya?”

Ketika Uttara kembali membawa kain-kain musuh, Arjuna berkata, “Mari kita pulang ke kerajaan,” kata Arjuna. “Ternak-ternak yang mereka rampas sudah kita dapatkan kembali, dan para musuh telah bisa diusir.”

Pada saat perjalanan kembali ke ibu kota kerajaan Arjuna berbisik kepada Uttara, “Hanya engkau sendiri yang tahu tentang identitas diriku. Rahasiakanlah, agar ayahandamu tidak gelisah. Beritahukan pada raja bahwa engkau telah mengalahkan para Kaurawa sendirian, dan sendirian pula telah mengembalikan ternak-ternak tersebut.”

Pembawa berita yang dikirim oleh Uttara tiba di ibu kota dengan berita kemenangan. Yudhishthira berkata, “ Aku telah mengetahui itu akan terjadi. Tidak seorangpun akan kalah dalam pertempuran saat Brihannala menjadi kusir keretanya.”

Raja Virata memerinthakan para pangeran, para pejabat istana, para seniman musik dan tari untuk menyambut putranya kembali ke ibukota, dan mengirim puterinya, ditemani oleh para dayang-dayang dan para penyair, untuk menerima kedatangan saudara laki-lakinya.

Kemudian Virata berpaling menoleh ke Draupadi, “Bawakan dadu padaku,” dan kepada Yudhisthira, “Marilah kita saksikan ketrampilanmu Kanka. Mulailah bermain dadu.” “Berjudi sangat berbahaya wahai Baginda Raja,” kata Yudhishthira, “khususnya saat suasana hati sedang diliputi kegembiraan. Apakah Tuanku tidak pernah mendengar nasib Yudhisthira yang telah kehilangan kerajaan dan adik-adiknya (gara-gara judi)? Tapi kalau Baginda memerintahkan aku akan bermain.”   Selagi mereka bermain Raja Virata berkata, “Putraku telah mengusir para Kaurawa.”

“Mengapa tidak?” kata Yudhisthira. “Brihannala menjadi kusirnya saat itu.” “Apa maksudmu bajingan kurang ajar kamu?” teriak Virata sangat marah. “Apakah putraku perlu bantuan seorang banci untuk memenangkan pertempuran? Apakah mulutmu tidak memiliki kata-kata yang sopan? Aku memaafkanmu saat ini, karena aku suka padamu. Jangan pernah berkata lancang seperti itu lagi padaku.”

“Wahai Baginda, adalah benar bahwa Brihannala tidak ada tandingannya (dalam bertempur). Ia telah mengalahkan para dewa dan juga kaum rakshasa – apalagi terhadap Kaurava?” Raja Virata melemparkan dadu ke mukanya Yudhisthira. Darah mengucur dari hidung Yudhisthira, namun ia menutupinya dengan telapak tangannya dan memandang kepada Draupadi yang berdiri di sampingnya. Ia membawakan guci berwarna ke emasan yang penuh air dan Yudhisthira membasuh darahnya.

Pada saat yang sama Uttara telah memasuki ibukota, disambut meriah oleh kerumunan masa dan seluruh warga kota kerajaan. Ia mengirimkan seorang pembawa berita kepada Raja dengan pesan berbunyi: “Uttara, putramu, menunggu bersama dengan Brihannala di pintu gerbang istana mohon ijin darimu untuk memasuki istana.”

“Mereka berdua disambut dengan baik, sangat baik,” akta Virata. Namun Yudhishthira berbisik ke telinga pembawa berita: “Hanya Uttara; tidak termasuk Brihannala, Ia akan membunuh Raja Virata ketika ia melihat wajahku berdarah.”

Saat Uttara masuk istana, ia men- yaksikan hidung Yudhishthira berdarah. “Siapa yang telah memukul dia, wahai Ayahanda? tanya Uttara kepada Virata.

“Aku yang telah melakukannya. Ia sangat memuji si banci Brihannala jauh melebihi pujian kepadamu, wahai putraku.”   “Oh itu perbuatan yang sangat mengerikan!” kata Uttara. Minta maaflah kepadanya sebelum Brahmin ini mengutuk Ayahanda.“   Virata bangkit, namun Yudhishthira berkata, “Aku tidak apa-apa wahai Tuanku. Aku telah memaafkan dirimu sejak lama.”

Pendarahan dari hidungnya telah berhenti saat Brihannala memasuki balairung istana. Virata berkata pada putranya: “Wahai Uttara, putraku, perjuanganmu di medan perang telah membawakan kebahagiaan padaku. Telah berhasil mengusir begitu banyak musuh yang perkasa tanpa terluka sedikitpun pada tubuhmu! Semua musuh telah berhasil dihancurkan. Saya seolah merasakan seperti mendengar musik merdu ditelingaku.”

“Bukan aku yang telah merebut kembali ternak-ternak, dan juga bukan aku yang telah mengusir para Kaurawa,” kata Uttara. “Seorang putra Dewata telah menghentikan diriku saat aku berusaha lari dari pertempuran; ia menaiki kereta perangku, dan menghancurkan musuh. Dialah orangnya. Dan ketika perang telah dimenangkan, ia menghilang. Namun ia akan kembali, entah besok atau lusa — siapa yang tahu kapan?”

Oleh: Gede Ngurah Ambara Diterjemahkan dari Mahabharata ofVyasa by P. Lai
Sumber: Majalah Media Hindu, Edisi 173, Juli 2018

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *