Tumpek Uduh: Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Lingkungan Alam

Cikitsitamathaitesam
Sastrenadau visodanam
Vidangga-ghrtapankaktan
Secayet ksiravarina
(Brhat Samhita, 55.15)

 

“Jika pepohonan menunjukkan gejala penyakit. maka dia harus dirawat. Pada bagian luarnya, pohon harus dibersihkan dari bisul dan sejenisnya dengan pisau, lalu oleskan bedak yang terbuat dari campuran Vidanga, ghee, dan lumpur pada bagian-bagian tersebut dan harus dibasahi dengan air dan susu. Jika usaha dilakukan maka pohon akan terbebaskan dari penyakit.”

PUSTAKA suci Veda seperti Taittiriya Samhita, Rg Veda, Atharva Veda, Purana, Itihasa, dan lain-lain menunjukkan perhatian dalam kasih sayang yang baik serta pelestarian lingkungan alam dengan baik. Hal tersebut dibuktikan melalui pemaparan khusus perihal cinta kasih kepada bumi yang dinamakan Bhu Sukta, Bhumi Sukta, atau Prithvi Sukta. Sangat mengagumkan jika orang berusaha merenungkan bagaimana para leluhur memberikan perhatiannya sedemikian detail, mendalam dengan perhormatan tinggi kepada lingkungan alam? Para Maharesi mempunyai cinta kasih menyeluruh, tidak hanya kepada insan manusia melainkan pula kepada binatang dan tumbuhan.

Hindu Dharma tidak membeda-bedakan agama dengan lingkungan ekologinya. Hubungan dengan lingkungan bahkan dilekatkan dalam hubungan sebagai anggota keluarga (vasudhaiva kutumbakam). Binatang, tumbuhan dan lain-lain juga dibuatkan “otonan” (semacam ulang tahun). Suatu perwujudan rasa hormat dan kasih sayang yang sangat tinggi, dan menerimanya sebagai pelaksanaan Dharma, sebagai kewajiban sesama, agama dan spiritual. Jika tumbuhan mengalami sakit, seperti sloka di atas, adalah kewajiban Dharma untuk membantu mengobatinya.

Di Bali orang menyebutkan lingkungan dengan sebutan keluarga yang akrab. Untuk bumi orang-orang Bali menyebutnya dengan sebutan Ibu Perthiwi, dan langit angkasa dengan sebutan Bapa Akasa. Sebutan yang sangat akrab hormat, yang ternyata bukan tradisi sebutan kosong tanpa dasar melainkan berasal pada Rg Veda dan sastra suci lainnya. Rg Veda menyebutkan tan mata prthivi tatpita dyauh (bumi adalah Ibu dan langit angkasa adalah Bapak).

Rg Veda Samhita mengajarkan untuk tidak menghancurkan pepohonan, karena pepohonan adalah rumah bagi manusia. Pepohonan juga disebutkan sebagai harta karun bagi generasi manusia yang akan datang. Jika ia dihancurkan maka orang menghalangi generasi yang akan datang untuk hidup tenang damai sejahtera. Pemikiran indah penuh cinta kasih seperti inilah yang barangkali menjadi dasar dari lahirnya peringatan Tumpek Uduh.

Perwujudan rasa hormat tinggi terhadap alam beserta isinya antara lain menghormati tumbuh-tumbuhan, khususnya yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia telah mendarah daging dalam hidup orang-orang Bali. Penghormatan pada sarwa tumuwuh ini dilakukan pada hari Saniscara Kliwon Wariga yang disebut sebagai Tumpek Wariga, disebut pula dengan nama Tumpek Pangatag atau Tumpek Uduh. Ada juga yang menyebut Tumpek Bubuh karena salah satu sarananya adalah bubuh alias Bubur Sumsum. Tumpek Uduh muncul setiap 210 hari bertepatan dengan 25 hari sebelum hari raya Galungan. Tumpek Uduh ini diperingati melalui peritungan kalender Bali “nemu gelang” atau “puncak” Saptawara (Saniscara) dan “puncak” Pancawara (Kliwon) yang “muncak” atau “numpek” pada Wuku Wariga.

Baca: Setiap Orang Tidak Dapat Menghindar dari Hukum Karma

Pada Tumpek Wariga, Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Sangkara. Dalam Pangider Bhuwana/Pangider-ider. Sang Hyang Sangkara bersthana di arah Barat Laut dan memiliki simbol warna hijau. Barat laut adalah “pertemuan” arah utara dengan simbol warna hitam yang melambangkan mendung/ hujan dan arah Barat dengan simbol warna kuning yang melambangkan tanah. Sedangkan warna hijau jelas menunjukkan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan subur memberikan berbagai jenis makanan kepada umat manusia demi kelangsungan hidupnya serta keindahan alam demi kesejukan dan kedamaian batinnya.

Pada upacara peringatan Tumpuk Uduh, Hyang Sangkara dipuja sebagai Dewa yang menciptakan dan memelihara tumbuh-tumbuhan demi kemuliaan hidup umat manusia dan makhluk hidup lainnya di alam ini. Sangkara adalah Siva. Walaupun Siva dikenal sebagai manifestasi Tuhan dalam peleburan alam semesta, namun sebagai Sangkara khususnya sehubungan dengan Tumpek Uduh, pemujaannya adalah sebagai Dewa Pencipta dan Pemelihara tumbuh-tumbuhan. Sangkara memastikan agar alam memberikan yang terbaik demi kesejahteraan hidup manusia dan makhluk lainnya di alam ini. Oleh karena itulah Sangkara disebutkan berwarna hijau, warna tumbuhan yang subur menghijau. Pemujaan kepada Dewa dari tumbuh-tumbuhan memastikan terjalinnya hubungan timbal balik yang harmonis antara manusia dengan lingkungan alam khususnya pepohonan dan tumbuhan.

Menurut ajaran suci Hindu Dharma, pepohonan dan tumbuhan lainnya “berbicara”. Mereka bisa ber- “cakap-cakap” dengan insan manusia. Mereka bisa tukar menukar kasih dengan insan manusia. Mereka bahkan akan terus menerus memberi dan memberi walaupun dirinya selalu disakiti oleh manusia. Mereka tidak akan berhenti memberi, sebagai permintaan para Nenek dan Ibu-Ibu yang disampaikan dengan Bahasa Bali agar pepohonan dan tumbuhan itu berbuah lagi yang “ngeed…. ngeed.. ngeed…” (berbuah lebat, lebat, lebat).

Indah sekali jika umat berhasil memelihara, menjaga dan bahkan menumbuhkembangkan pepohonan dan tumbuhan dengan baik. Sesuai tradisi leluhur. jika orang menebang pohon, mereka harus meminta izin terlebih dahulu dengan menghaturkan canang, dupa dan air serta mereka bertekad untuk menanam pohon yang sama sebanyak 5 (lima) pohon. Menurut leluhur, kita tidak berhak mengambil nyawa melainkan menjaganya. Ajaran indah paraspara dalam cinta kasih seperti inilah yang melahirkan Tri Hita Karana, tiga perbuatan yang patut diusahakan demi terjadi hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pelaksanaan upacara Tumpek Uduh diharapkan dapat memurnikan tujuan dari upacara Tumpek Uduh itu sendiri, yaitu demi tercapai hidup manusia yang jagat-hita, hidup yang tenang damai dan sejahtera di dunia.

Oleh: Dharmayasa
Refensi: Koran Bali Post, Minggu Wage 29 April 2018

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *