Niskalanko: Bebas dari Noda

Keberadaan Tuhan tak pernah diketahui secara pasti oleh siapapun, namun keyakinan akan keberadaan-Nya selalu ada dari masa kemasa. Keyakinan akan adanya Tuhan melahirkan sederetan syair pujian yang membawa manusia mengalami evolusi “membangun” religi berdasarkan pengalaman dari para pencari. Sebagai pencari Tuhan, manusia memiliki keterbatasan sekaligus kesempurnaan sebagai makhluk yang berada pada puncak evolusi dari sederetan reinkarnasi. Keterbatasan manusia karena dibatasi oleh tubuh dan dikendalikan oleh pikiran.

Apa yang ada dalam analisa pikiran setiap orang tentang Tuhan seringkali berbeda, sehingga menimbulkan sudut pandang yang berbeda. Pikiran memberikan gambaran semu tentang Tuhan, seperti dalam wrhaspatti tattwa djelaskan:

(sumber foto dari 7topranking. com)

“Beberapa orang buta bersama-sama ingin mengetahui bentuk gajah. Karena tidak melihat dan tidak mendapat gambaran yang lengkap tentang gajah itu, mereka saling menyalahkan. Gambaran mereka tentang gajah itu kacau (samoha). Mereka ingin sekali mengetahui gajah. Oleh karena itu, mereka mohon agar diberi kesempatan meraba gajah itu. tetapi masing-masing meraba bagian yang berbeda dari gajah itu. Yang meraba kepala mengatakan bahwa gajah seperti periuk (kumba), yang lain meraba telinga, ia mengatakan bahwa gajah seperti kipas. Lainnya meraba gadingnya, ia mengatakan gajah seperti kayu yang dibubut. Ada yang meraba belalai, dan mengatakan gajah seperti ular. Yang meraba perut mengatakan gajah seperti lambung. Gajah seperti belut kata yang meraba ekor gajah. Dan yang meraba kaki mengatakan gajah seperti pilar.”

Pikiran yang diselimuti avidya memberikan kita pemahaman yang tidak lengkap tentang Tuhan itulah yang dinamakan kebingungan (vyamoha). Hal ini terjadi pada manusia secara umum sehingga merasa puas dan manyatakan diri sebagai yang paling mengetahui Tuhan. Yang lain salah sehingga dipandang sesat dan dapat di binasakan karena memuja atau menyembah Tuhan yang salah.

Baca: Kumpulan Kisah Ganesha yang Bijaksana

Disana pikiran bermain atas dasar pengetahuan terbatas memberi andil besar terhadap perilaku yang dapat berkontribusi besar bagi disharmoni kehidupan. Kenyataan seperti inilah yang membawa kekacauan bahkan dalam kehidupan masyarakat beragama yang seharusnya lebih santun, lebih mulia dan lebih baik.

Manusia lupa bahwa Tuhan “Niskalanko” bebas dari noda, tak terjangkau oleh pikiran namun ditafsirkan berdasarkan pikiran yang terbatas oleh selimut ego. Batasan tentang Tuhan dan klaim tentang kebenaran Tuhan tidak dapat di lakukan oleh pikiran yang berada jauh dari hakikat Purusha. Sehingga definisi Tuhan bedasarkan argumen pikiran tidak akan mampu mewakili “Narayana” bahkan nama itupun telah membatasiNya. Yang tak terbatas tak mampu dijelaskan oleh yang terbatas, yang tanpa noda tak mampu digapai oleh yang ternoda. Kakawin Arjuna Wiwaha menjelaskan bagiamana keberadaan Siwa yang tanpa noda dapat digapai melalui praktek yoga dengan tekun.

Sasi wimba haneng gata mesi banyu/ ndan asing suci nirmala mesi wulan/ iwa mangkana rakwa kiteng kadadin/ ringang-ambeki yoga kiteng sakala.

Terjemahan:
Seperti bayangan bulan yang ada di dalam tempayan yang berisi air. Hanya yang hening, bersih dan suci tanpa noda yang berisi bayangan bulan. Demikianlah kenyataanya kepada manusia yang benar-benar bersih suci lahir dan batin, paduka berkenan menampakkan diri.”

Katemunta mareka sitan katemu/ kahidepta mareka sitan kahidep/ kawenangta mareka sitan kawenang/ paramartasi-watwa nirawarana.

Terjemahan:
Dijumpailah olehnya yang tidak dijumpai. Terpikirkanlah olehnya yang tidak terpikirkan, tergapailah olehnya yang tidak tergapai. Tatwa Siwa yang utama, tak ada yang lain.”

Perumpamaan yang disampaikan dalam wirama totaka karya Empu Kanwa seolah tak pernah habis untuk menjadi bahan renungan, sejauhmana kita menjadikan diri kita sebagai “air dalam tempayan” yang tenang kemudian menjadi jernih tanpa noda “Nirmala”. Dimana Tuhan akan menampakkan diri, sehingga tergapailah hakikat Siwa, dan yoga menjadi jalan menuju “Paramartasiwatwa”. Apa yang tidak dapat digapai oleh pikiran yang bergejolak justru dengan keheningan hal itu menjadi mungkin. Sebuah petunjuk bagi kita bahwa pikiran berada jauh dari yang hakiki, namun sejatinya pikiran yang bergejolak merupakan kabut penutup sehingga yang hakiki tak dapat dilihat. Saat sinar buddhi menembus pikiran dalam keheningan tak tergoyahkan saat itu perjumpaan terindah diperoleh. Yang tanpa noda hanya dapat digapai oleh mereka yang memiliki kemauan membangun tanpa henti pohon-pohon kesadaran, menghayati dan melakoni hidup dalam kesucian lahir bathin menuju Narayana-Paramarta Siwa yang tanpa noda.

Baca: Perilaku Seseorang Menurut Wuku

Apa yang menjadi perenungan dan kontemplasi Empu Kanwa adalah sebuah pencarian dalam naskah Tri Sandhya bait kedua sebagai Narayana yang “nickala Eko” yaitu tanpa noda yang tiada lain adalah Paramarta Siwa dalam naskah-naskah bercorak Siwaistik. Dalam naskah puja disebutkan bahwa Siwa berstana ditengah kesucian:

Om agni madya rawis siwa, rawi madya tu candramam, candra madya bawus suklah, sukla madya stitah siwah.

Terjemahan:
Siwa yang suci bersemayam ditengah api, ditengah api ada bulan, ditengah bulan ada kesucian, dalam kesucian Siwa berstana.

Siwa yang suci tanpa noda atau nirmala adalah Narayana yang memiliki sifat “nickala Eko” dalam naskah tri sandhya bait kedua yang bersumber pada narayana upanishad. Sehingga Narayana maupun Siwa sesungguhnya adalah tunggal adanya namun beda nama, sebagaimana karakter theologi Hindu dalam Weda “ekam sat wiprah bahuda wadanti”. Dalam hal ini tuhan dihayati sebagai yang tanpa noda, sehingga dapat diartikan sebagai tanpa kemelakatan atau tanpa ikatan apapun yang menyertai-Nya. Jika kemelekatan adalah noda maka ia adalah mala yang merintangi manusia menuju moksah atau pembebasan, sebab hanya yang tanpa noda mencapai moksa. Hanya yang nirmala menuju yang “niskalanko”.

Oleh: Gde Adnyana
Sumber: Majalah WARTAM Edisi 23 April 2018

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *