Manusia “RA”

Terlebih dahulu mari berkenalan dengan aksara Bali. Ada aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka, dan seterusnya, disebut Aksara Wreastra. Aksara Wreastra dipergunakan untuk menuliskan hal yang sifatnya sehari-hari. Aksara Wreastra berjumlah 20 dan di Bali menjadi 18. Selanjutnya ada aksara Ka-Kha-Ga-Gha-Nga, dan seterusnya, disebut Aksara Swalalita. Aksara Swalalita berjumlah 47. Aksara Swalalita dipergunakan dalam penulisan ajaran shastra dan tattwa di dalam pustaka lontar dan berbagai bentuk pustaka lainnya. Kemudian ada aksara yang disebut Bija Aksara, seperti Ing-Bang-Sang-Tang-Ang, yang dipergunakan sebagai silabel suci atau biji mantra.
(aksara Ra Bali, sumber foto wikipedia.org)

Selain Wreastra, Swalalita, dan Bija Aksara, ada juga aksara yang dinamakan Modre, yang dipergunakan di dalam gambar rajahan. Rupa Modre adalah seperti gambar kumpulan aksara mati, yang dipasangkan satu sama lainnya dengan posisi tegak, miring, rebah, terbalik, bertumpuk, berjajar, berhadap-hadapan, dan posisi lainnya. Ada Modre yang dapat disuarakan, dan ada Modre yang memang tidak untuk disuarakan. Seperti itulah garis besar aksara Bali dalam berbagai jenisnya. Beragam jenis aksara Bali ini menandakan tingginya peradaban aksara di Bali.

Sekarang dalam tulisan ini mari kita berbicara hanya tentang satu aksara saja. Dalam kelompok Aksara Wreastra ada sebuah aksara yaitu aksara Ra. Mengapa kita membicarakan aksara Ra? Alasannya karena aksara Ra adalah aksara yang unik. Aksara Ra disebut unik karena dalam penulisannya bisa menempati posisi di mana saja. Ra bisa ditulis di depan, misalnya pada kata rangda yang berarti janda. Ra bisa ditulis di tengah, misalnya pada kata bherawi yaitu dewi penguasa tempat pembakaran mayat di kuburan. Ra bisa ada di atas (layar), misalnya pada kata durga yaitu penguasa kematian. Ra bisa ada di bawah (gantungan) misalnya pada kata setra yang berarti kuburan. Ra bisa ada di belakang misalnya pada kata sanghara yang berarti kehancuran.

 

Apabila penulisan Ra di belakang kata dan tidak lagi mengandung bunyi vokal, seperti kata lebur misalnya, tradisi Bali memiliki paling tidak tiga cara yang diketahui hingga saat ini. Cara pertama dengan menggunakan layar. Cara kedua dengan menggunakan tengenan. Cara ketiga dengan menggunakan pasang kapatyan. Tentang cara penulisan ini tidak akan kita bicarakan sekarang karena bersifat terlalu teknis. Singkat kata, di dalam penulisan aksara Bali tidak ada huruf selain Ra yang bisa menempati semua posisi. Jadi, aksara Ra memang unik.

Tubuh manusia adalah kumpulan aksara. Begitu menurut pandangan mistis. Aksara Ra juga ada di dalam tubuh manusia. Unsur apakah di dalam tubuh manusia yang posisinya serupa dengan aksara Ra, yaitu bisa di depan, di tengah, di belakang, dan dapat pula di atas atau di bawah? Jawabannya adalah darah! Dalam bahasa shastra, darah disebut Rah. Perhatikan, pada kata Rah, terdapat suku kata Ra dan wisarga “h”. Jadi, di dalam tubuh manusia, aksara Ra terdapat di dalam darah.

Baca: Bhima Bertemu Hanoman

Ra ternyata bukan hanya sebuah aksara Wreastra yang unik. Ra adalah juga sebuah bija mantra untuk api. Api adalah salah satu unsur dari panca mahabhuta. Bukan sekadar salah satu unsur, tapi api adalah unsur yang ada tepat di tengah-tengah panca mahabhuta. Di atas api ada dua unsur yang lebih ringan, yaitu angin dan udara. Di bawah api ada dua unsur yang lebih berat, yaitu air dan tanah. Masing-masing unsur dari panca mahabhuta tersebut memiliki bija mantranya sendiri-sendiri. Khusus untuk api, bija mantranya adalah Ra, atau Rang apabila disuarakan. Perhatikan dalam bija Mantra Rang, ada suku kata Ra dan anuswara “ng”. Aksara Ra dalam kasus ini menghubungkan darah dengan api.

Di manakah letak api di dalam tubuh manusia? Begini penjelasan menurut sumbernya. Api yang berasal dari bawah, yaitu api bumi berkumpul di pusar. Api bumi disebut Pawaka. Api yang berasal dari atas, yaitu api Surya berkumpul di hati. Api Surya disebut Suci. Pusar dan hati adalah dua terminal api yang satu sama lainnya saling berhubungan. Baik api di pusar maupun api di hati sama-sama menyusup ke dalam darah. Sehingga dapat dikatakan, bahwa tempat api di dalam tubuh adalah di dalam darah. Itulah sebabnya mengapa darah berwarna merah seperti warna api. Itulah pula sebabnya mengapa darah menjadi panas [baca: hangat] seperti api. Jadi, kesimpulannya, api di dalam tubuh menyusup di dalam darah. Darah kemudian menyebar ke mana-mana di dalam tubuh, atas bawah, muka belakang, kiri kanan. Oleh karena itu, di mana ada darah di sana ada api. Di mana ada api, di sana ada aksara Ra.

Kalau darah dan api itu dikatakan ada di ujung lidah, maka di ujung lidah itu ada aksara Ra. Kalau darah dan api itu disebutkan ada di kedua mata, maka di kedua mata itu ada aksara Ra. Kalau darah dan api itu dirasakan ada di bhaga, maka di alat vital itu ada Ra. Bhaga adalah sebutan untuk kelamin perempuan. Seperti api, bhaga itu berwarna merah dan panas. Bhagawati adalah nama lain untuk Durga.

Ada hubungan apa antara Durga dengan bhaga, sehingga beliau dijuluki Bhagawati? Saya tidak tahu jawabannya. Silahkan tanya para sulinggih. Yang sedikit saya ketahui, bahwa dalam tradisi Bali ada sosok perempuan dinamakan Rangda. Rangda itu dihubungkan atau berhubungan dengan Durga. Bahkan banyak orang berpendapat bahwa Rangda itu adalah Durga. Pandangan tersebut menurut pendapat saya tidaklah salah. Karena keduanya memiliki persamaan. Dalam berbagai narasi tentang Rangda dan Durga disebutkan bahwa dari ujung lidah keduanya ke luar api. Dari kedua matanya ke luar api. Dari ubun-ubunnya keluar api. Dari setiap persendian tulangnya ke luar api. Dan bahkan dari masing-masing bhaga atau kemaluannya keluar api. Bukan hanya dalam narasi teks, dalam seni lukis tradisional pun penggambaran Rangda dan Durga penuh dengan api sampai ke bhaganya.

Barangkali memang ada hubungan antara bhaga dan api. Dari api yang berwarna merah terbentuklah bhaga yang juga berwarna merah. Dari bhaga yang berwarna merah terbentuklah sel telur yang merah warnanya, disebut kama bang. Bang berarti merah. Menariknya, pada kata rangda ada suku kata Ra. Kata rangda sebenarnya berarti janda. Dalam bahasa Bali, selain berarti janda, kata rangda juga berarti karang panas. Yang dimaksud karang panas adalah karang penuh api. Itulah Rangda. Itulah Durga. Itulah Bhaga.

Baca: Manusia Bayangan

Kembali ke aksara Ra. Di atas disebutkan bahwa unsur panca mahabhuta memiliki bija mantranya sendiri-sendiri. Lengkapnya adalah seperti berikut ini, Bija mantra untuk tanah adalah La. Bija mantra untuk air adalah Wa. Bija mantra untuk api adalah Ra. Bija Mantra untuk angin adalah Ya. Bija Mantra untuk udara adalah Ha. Kalau disuarakan dari bawah ke atas, maka susunannya menjadi Lang Wang Rang Yang Hang. Kalau dibunyikan dari atas ke bawah, maka susunannya menjadi Hang Yang Rang Wang Lang. Disuarakan dari atas maupun dari bawah, bija mantra Ra tetap ada di tengah-tengah.

Penyuaraan dari bawah ke atas adalah proses peleburan. Maksudnya, tanah lebur ke air. Air lebur ke api. Api lebur ke angin. Angin lebur ke udara. Sedangkan penyuaraan dari atas ke bawah adalah proses penciptaan. Maksudnya, dari udara terciptalah angin. Dari angin terciptalah api. Dari api terciptalah air. Dari air terciptalah tanah. Kelima unsur itulah yang menjadi tubuh. Tubuh manusia disebut sarira [baca: sari-Ra]

Dalam tradisi Bali seperti berikut ini cara memahami kata sarira. Sari berarti inti. Ra adalah api. Jadi sarira menunjukkan bahwa inti dari tubuh ini adalah api. Karena api ada di dalam darah, maka inti dari tubuh ini adalah darah. Ketika manusia mati, yang mati adalah sariranya. Tanda sarira mati adalah hilangnya darah. Silahkan cari buktinya pada jasad orang yang mati. Pada jasad tersebut tidak lagi ditemukan adanya darah. Ke manakah darah itu menghilang?

Begini penjelasan tattwanya. Kandungan air yang ada di dalam darah lebur ke dalam api, karena dari api itulah air itu berasal. Kandungan api di dalam darah lebur ke dalam angin, karena dari angin itulah api berasal. Angin tidak lagi ke luar masuk tubuh, karena bayu prana atau nafas sudah putus. Begitulah darah hilang bersamaan dengan matinya api. Api mati bersamaan dengan hilangnya angin. Angin hilang bersamaan dengan putusnya nafas. Menurut pendapat umum, orang dikatakan mati setelah putusnya nafas. Menurut pendapat yang tidak umum, orang sebenarnya sudah mati setelah hilangnya api di dalam darah.

Apakah darah itu? Bagian yang kasar dan kasat mata dari darah adalah bhuta. Bagian yang halus dan bening dari darah adalah dewa. Bhuta dan dewa ada bersama-sama di dalam darah. Bhuta ada di bagian luar, Dewa ada di bagian dalam. Ra adalah Dewa.

Oleh: IBM Dharma Palguma
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 163/hal 40-41, September 2017

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *