Manusia Bayangan

Pagi hari ketika matahari terbit di timur, bayangan kita rebah ke barat. Senja hari menjelang matahari terbenam di barat, bayangan kita rebah ke timur. Sedangkan pada waktu matahari tegak lurus di atas kepala, bayangan kita malah tidak kelihatan di bawah kaki.
 
 

Seperti itulah kita diberitahu oleh alam, bahwa arah bayangan berbalik dengan arah matahari. Wajar saja kalau kita bertanya, apakah bayangan mengelabui kita tentang posisi matahari? Jawabannya, tentu saja tidak! Bayangan tidak mengelabui kita. Bayangan justru memberitahu kita di mana posisi matahari yang sebenamya. Bedanya, bayangan memberitahu kita justru dengan cara terbalik. Yang dibalikkan adalah arah pandangan. Dengan merebahkan dirinya ke arah barat, bayangan memberitahu kita bahwa matahari ada di belahan timur. Begitu pula dengan merebahkan dirinya ke arah timur, bayangan memberitahu kita bahwa matahari ada di belahan barat. Selanjutnya, dengan menghilangkan dirinya di bawah kaki, bayangan justru memberitahu kita bahwa matahari sedang mengambang di atas kepala. Intinya, bayangan mengajarkan orang membalikkan pandangan. Orang yang paham “ilmu bayangan”, akan tahu dengan sendirinya di mana posisi matahari tanpa harus menolehnya.

Dalam kepustakaan Jawa Kuno dan Bali ada banyak cerita perjalanan orang mencari matahari. Matahari dalam konteks cerita tersebut adalah Bapa Akasa. Shiwa itulah yang dimaksudkan Bapa Akasa. Mencari matahari adalah perjalanan spiritual mencari Shiwa. Orang yang tidak paham ilmu bayangan sering tersesat dalam perjalanannya. Maka dari itu, kata para pendahulu, jangan pemah menyepelekan bayangan, walaupun ia hanya sekadar bayangan. Sebaliknya, renung-renungkanlah dengan seksama.

Seperti itulah bayangan memberitahu kita di mana sebenamya posisi matahari dengan cara terbalik. Bukan hanya arah timur dan barat, atau atas dan bawah yang dibalikkan, tapi juga arah luar dan dalam. Agar lebih jelas, perhatikan contoh kasus berikut ini, tentang pembalikan arah luar dan arah dalam. Ketika bayangan mendiang ibu nampak samar-samar di hadapan mata, di manakah sebenamya beliau sedang berada?

Baca: Apa Rahasia Draupadi Membahagiakan Suaminya?

Beliau tidak ada di hadapan mata, tapi di belakang mata. Yang dimaksudkan belakang mata adalah pikiran. Di dalam pikiran itulah beliau berada berwujud kenangan. Manakala kenangan bangkit di dalam pikiran, maka bayangan mendiang ibu seakan muncul di depan mata. Begitu pula sebaliknya, kalau kenangan terkubur di dalam pikiran, alias tidak bangkit, maka tidak akan ada bayangan ibu di depan mata.

Dari mana datangnya kenangan itu? Kenangan datang dari sisa-sisa karma. Yang dimaksudkan sisa-sisa karma adalah bekas-bekas yang tertinggal dari setiap perbuatan, ucapan, dan pikiran. Bekas-bekas itulah yang berevolusi menjadi kenangan. Tumpukan kenangan itulah yang dinamakan uparengga. Pengertiannya, tumpukan kenangan itu menjadi “makanan” yang dikonsumsi oleh atma, dan sekaligus menjadi “busana” yang menutupi atma dengan cara menghiasinya. Karena mengkonsumsi kenangan maka kualitas atma semakin menurun dari aslinya. Karena ditutupi busana kenangan, maka kecemerlangan atma tidak memancar di wajah orang. Cahaya atma yang semakin lemah, tidak sanggup menerobos tumpukan sisa-sisa karma yang membungkusnya. Para sastrawan mengibaratkan atma seperti matahari. Sisa-sisa karma diibaratkan awan hitam yang tebal. Bagaimana mungkin cahaya kesucian memancar di wajah seseorang, apabila matahari pribadinya diselimuti awan gelap gulita.

Sungguh ironis keadaan orang seperti itu. Ia memiliki matahari pribadi, tapi tidak mendapatkan sinamya. Lebih ironis lagi adalah atma atau matahari pribadi yang ada di dalam diri orang tersebut. Atma sering diabaikan karena dikira tidak ada. Atma dikira tidak ada karena tidak kelihatan. Atma tidak bisa dilihat karena menggunakan mata biologis. Bagaimana mungkin atma yang ada di dalam bisa dilihat dengan mata biologis yang memandang ke luar diri. Yang dilihat oleh mata biologis adalah bayangan. Sedangkan kesejatian hanya dapat dilihat dengan mata jnana. Mata yang satu ini memandang ke arah dalam. Kalau mata biologis diibaratkan surya dan candra, maka menurut shastranya mata jnana disebut lintang tranggana.

Begitulah, dengan mempelajari bayangan maka banyak hal yang mulanya terselubung akhimya terungkap. Oleh karena itu, dalam batas tertentu bayangan dapat dijadikan guru. Inti ajaran Sang Guru Bayangan adalah membalikkan arah. Mata yang biasa memandang ke luar, mulailah balikkan ke dalam. Telinga yang biasa mendengar suara dari luar, mulailah dengarkan suara-suara dari dalam. Demikian seterusnya, seluruh indria yang biasanya mengarah ke luar dibalikkan arahnya ke dalam. Itulah inti latihan membalikkan arah pandangan menurut orang yang mengetahui.

Para guru mengatakan bahwa dengan membalikkan pandangan maka akan dilihatlah apa yang sebelumnya tidak dilihat dengan mata. Akan didengar suara yang sebelumnya tidak didengar oleh telinga. Selanjutnya akan didapatkan pengetahuan yang sebelumnya tidak didapatkan dengan pikiran. Pengetahuan itu datang melalui inspirasi yang menyebabkan pikiran terbuka. Pikiran yang terbuka diibaratkan sekuntum bunga sedang memekarkan dirinya. Para guru berpesan, balikkanlah pandangan dari arah yang ditunjukkan oleh bayangan.

Membalikkan pandangan dari arah bayangan perlu dilatih oleh orang yang hendak melakukan perjalanan menuju Asal. Yang dimaksudkan menuju Asal adalah melepaskan atma pada saat mati. Atma dikatakan kembali ke Asalnya. Perjalanan ke Asal diawali dengan berlatih membalikkan arah pandangan saat masih hidup. Menurut tattwanya, Asal adalah Shiwa. Menurut shastranya, Shiwa adalah matahari. Atma itulah matahari di dalam tubuh.

Baca: Tumpek Uduh: Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Lingkungan Alam

Tanpa membalikkan pandangan perjalanan tidak akan sampai. Bagaimana bisa sampai, karena bayangan menunjukkan arah barat sedangkan matahari di timur. Bukan makin mendekat, perjalanan malah semakin menjauh. Bayangan lantas dikatakan menipu. Bayangan tidak menipu, tapi orang bisa tertipu. Bayangan mengatakan kebenaran dengan cara terbalik. Menuju Asal adalah perjalanan terbalik yang diapit oleh matahari dan bayangan. Toleh ke atas, matahari. Toleh ke bawah, bayangan. Bayangan bukan milik kita, karena kita bukan penciptanya. Bayangan bukan milik matahari, karena bayangan tidak akan ada kalau tidak ada kita. Bayangan juga bukan milik dirinya. Karena bayangan ada dan hilang bukan oleh dirinya, tapi oleh kerjasama kita dengan matahari. Lalu, milik siapakah bayangan itu?

Bayangan adalah milik bumi. Bayangan muncul dan hilang di bumi. Arah yang ditunjukkan oleh bayangan dan arah yang kita balikkan adalah arah yang ada di bumi. Bumi ini sendiri menurut tattwanya disebut Maya. Salah satu arti Maya adalah bayangan. Semasih kita ada di bumi, kita dapat belajar arah dari bayangan. Arah di bumi tentu saja belum cukup. Karena arah tidak akan berguna kalau kita tidak punya tujuan. Tanpa tujuan, semua arah akan sia-sia, seperti sebuah jalan yang tidak ada orang menempuhnya. Sudahkah kita punya tujuan?

Kalau bayangan mengatakan matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, maka Tattwa mengajarkan bahwa matahari tetap di tempatnya. Matahari tidak berpindah-pindah. Tidak di timur, tidak di barat. Yang mengatakan timur dan barat adalah bumi. Pandangan Tattwa selanjutnya dijabarkan di dalam Shastra. Shastra mengajarkan bahwa orang hendaknya menjadikan yang tetap sebagai tujuan. Janganlah orang bertujuan pada sesuatu yang berubah-ubah. Singkat kata, yang berubah-ubah adalah tubuh dan bayangannya. Yang tetap adalah atma. Jadi, atma itu adalah tujuan. Sedangkan tubuh ini adalah jalan menuju tujuan. Tubuh inilah satu-satunya jalan menuju atma.

Sebagai sebuah jalan, tubuh akan sia-sia kalau tidak ditempuh. Maka tempuhlah tubuh dari luar ke dalam. Ada banyak pintu di dalam tubuh ini, baik yang terbuka lebar maupun yang masih tertutup. Bukalah pintu yang tertutup, dan tutuplah pintu yang terbuka itu. Semakin ke dalam semakin dekat pada kesejatian, dan semakin jauh dari bayangan. Kita tinggalkan bayangan bukan karena membencinya, tapi seperti meninggalkan SD karena mau melanjutkan ke SMP.

Oleh: IBM Dharma Palguna
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 160/hal 52-53, Juni 2017

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *