Kumpulan Kisah Ganesha yang Bijaksana

GANESHA MENDAPAT KEPALA GAJAH

Ketika Dewi Parwati ditinggal seorang diri di Gunung Kailash oleh Dewa Siwa, suaminya, ia menciptakan seorang bocah laki-laki yang berwajah manis. Bocah itu diberi nama Vinayaka.

“Vinayaka, kau harus terns berjaga saat ibu sedang mandi.” Parwati berpesan kepada Vinayaka.

“Baiklah, Bu. Aku akan selalu menjaga Ibu.” Jawab Vinayaka.

Akhirnya Dewa Siwa pulang seusai bertapa. Ia terkejut melihat ada seorang bocah yang berdiri di depan pintu. Bocah itu sama sekali tidak mengijinkan Dewa Siwa masuk ke dalam. Dewa Siwa pun menjadi marah. Ia menebas leher Vinayaka dengan Trisula hingga putus.

“Tidaaaak……..” Dewi Parwati terkejut saat melihat puteranya dengan leher terputus.

Untuk menghibur isterinya, Dewa Siwa memerintahkan para pelayannya mencari kepala binatang apapun yang sedang tertidur menghadap ke arah utara. Ternyata binatang yang ditemukan adalah seekor gajah. Maka, Dewa Siwa memasangkan kepala gajah itu ke leher Vinayaka. Ia juga menghidupkan kembali bocah itu.

“Mulai hari ini, putera kita akan bemama Ganesha.” Kata Dewa Siwa kepada Dewi Parwati, “Aku menganugerahinya pengetahuan dan kebijaksanaan.”

GANESHA MEMBUNUH GAJAMUGASURAM

Hiduplah seorang raksasa bernama Gajamugasuram. Ia bertapa dan memuja Dewa Shiva dengan kushuk hingga Dewa Shiva tergugah. Dewa Siwa menganugerahinya kekuatan yang membuat raksasa ini tidak dapat dikalahkan dengan senjata apapun.

Dengan kekuatan yang diperolehnya, Gajamugasuram menjadi sombong dan jahat. Ia membuat para dewa dan orang-orang suci berada dalam masalah. Bumi pun menjadi tidak aman.

Para dewa segera memohon pertolongan kepada Dewa Shiva. Dewa Shiva lalu mengutus Dewa Ganesha untuk menghadapi Gajamugasuram.

Baca: Perilaku Seseorang Menurut Wuku

Pertempuran hebat pun terjadi antara Dewa Ganesha dengan raksasa Gajamugasuram. Namun karena kekuatannya, tidak satu pun senjata Dewa Ganesha bisa menaklukkan Gajamugasuram.

Dewa Ganesha akhimya mematahkan gading kanannya dan digunakan untuk membunuh Gajamugasuram. Gajamugasuram berubah menjadi seekor tikus, tetapi tetap berlari menyerang Dewa Ganesha. Dewa Ganesha menghancurkan ego dan kesombongan Gajamugasuram, kemudian duduk di punggung tikus itu. Sejak saat itu; Gajamugasuram menyerah dan bersedia menjadi kendaraan Dewa Ganesha.

SELERA MAKAN GANESHA

Pada suatu hari, Dewa Kubera sebagai Dewa Kekayaan pergi mengunjungi Dewa Siwa di Gunung Kailash. Begitu melihat suasana di sekitar Kailash yang tampak berupa hutan belantara, timbullah sifat angkuh Dewa Kubera. Ia ingin menunjukkan harta bendanya kepada Dewa Siwa.

“Oh, Mahadewa, saya menyelenggarakan pesta besar di istana saya. Sudilah Dewa hadir di pesta saya.” Kata Dewa Kubera.

“Aku tidak bisa datang, tapi engkau bisa mengundang puteraku Ganesha.” Jawab Dewa Siwa sambil tersenyum. “Tapi kuperingatkan, Ganesha memiliki selera makan yang sangat tinggi.” Lanjut Dewa Siwa.

Dewa Kubera menyetujui perkataan Dewa Siwa. Ia pun mengajak Dewa Ganesha ke istananya yang megah di kota Alakapuri. Dewa Kubera begitu bangga memperlihatkan istana dan hartanya kepada Ganesha.

Di sana, Dewa Ganesha disambut dengan meriah. Dewa Kubera mempersembahkan makanan-makanan yang lezat dan mewah kepada para undangan.

Tibalah kini waktu untuk makan. Ganesha dengan cepat menghabiskan makanan yang disuguhkan kepadanya, juga makanan untuk tamu lainnya. Begitu makanannya habis, segera pula pelayan Dewa Kubera mengambilkan makanan yang lain. Ganesha melahapnya begitu cepat hingga para pelayan itu kewalahan.

Akhirnya Dewa Ganesha melahap piring, meja, peralatan makana, hingga tempat lilin. Dewa Kubera menjadi sangat ketakutan. Kini istananya hampir habis dimakan oleh Ganesha.

“Aku lapar! Jika kau tidak memberiku sesuatu untuk dimakan, aku akan memakanmu juga!” Kata Ganesha.

Dewa Kubera berlari ke gunung Kailash untuk memohon perlindungan dari Dewa Siwa. “Berikan nasi ini kepada Ganesha. Ini akan membuatnya kenyang.” Dewa Siwa menyerahkan semangkuk nasi pada Kubera.

“Sesederhana apapun pemberianmu, asalkan dengan hati yang tulus dan rendah hati, itu akan membuat pemberianmu bermanfaat. Kekayaan tidak bisa memberikan kedamaian dan kepuasaan kepada seseorang.” Sambung Dewa Siwa.

Dewa Kubera menerima nasi itu dan langsung kembali ke istananya. Segera ia menyerahkan nasi itu kepada Ganesha. Dewa Ganesha langsung menjadi kenyang setelah menghabiskan nasi tersebut.

GANESHA DAN DEWA BULAN

Sepulangnya dari pesta yang digelar di istana Dewa Kubera, Ganesha pulang dengan menunggangi kendaraannya, yaitu seekor tikus. Kala itu sedang malam bulan pumama.

Dalam perjalanan, tikus kendaraan Dewa Ganesha melihat seekor ular di depannya sehingga tikus itu pun berlari ketakutan dan bersembunyi di balik semak. Akibat kelakuan si tikus, Ganesha jatuh tersungkur ke tanah dan perut besarnya robek. Semua makanan dalam perutnya berhamburan keluar. Ganapati segera memunguti makanan itu dan memasukkannya kembali ke dalam perutnya.

Tanpa ia sadari, kejadian itu disaksikan oleh Dewa Bulan. Dewa Bulan tertawa terbahak-bahak tak kuasa menahan rasa geli atas kelakuan Ganesha yang lucu.

“Kenapa Anda menertawaiku, Dewa Bulan?” Tanya Ganesha.

Dewa Bulan tetap tergelak, tidak bisa menjawab. Dewa Ganesha pun menjadi marah. Ia pun langsung mengutuk Dewa Bulan.

“Anda akan selalu gelap dan tidak akan pernah bisa dilihat oleh siapa pun!”

Dewa Bulan terkejut dan sangat ketakutan mendengar kutukan Dewa Ganesha. Segera ia meminta maaf atas ulahnya tadi.

“Maafkanlah saya, Dewa Ganesha. Maafkanlah kelancangan saya.”

“Baiklah kalau begitu,” jawab Dewa Ganesha, “kutukan ku tidak bisa dibatalkan. Tapi Anda akan bisa berubah dari bulan baru ke bulan penuh. Dan, jika ada seseorang yang melihat bulan tepat pada hari ulang tahunku, maka orang itu tidak akan mendapat kebahagiaan abadi.”

Dewa Bulan terdiam. Dia tidak dapat berkata apa-apa. Dewa Ganesha segera meraih ular dari balik semak, dan mengikatnya pada pemtnya. Kemudian Ganesha kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke Kailash.

GANESHA DAN SEEKOR KUCING

Pada suatu hari, Ganesha sedang bermain-main dengan seekor kucing. Ia sangat senang bermain dengan kucing itu. Tapi ia tidak menyadari kalau ia telah menyakiti kucing itu.

Ganesha menarik-narik ekor kucing itu hingga si kucing menjerit kesakitan. Ganesha juga menggelindingkan kucing itu di tanah sehingga kucing itu menjerit.

Setelah puas bermain dengan si kucing, Dewa Ganesha melepaskan kucing itu dan ia pun kembali pulang ke Kailash.

Setiba di gunung Kailash, Ganesha menjadi sangat terkejut. Ia melihat ibunya, Dewa Parwati sedang menangis kesakitan. Tubuhnya penuh luka. Badan dan pakaiannya tampak kotor diliputi debu dan tanah.

“Ibu, kenapa ibu bisa seperti ini? Apa yang terjadi, Bu?” Tanya Ganesha.

“Kamulah penyebabnya! Kamu hams tanggung jawab!” Hardik Dewi Prwati dengan geram.

“Saya tidak mengerti, Ibu.” Sangkal Ganesha.

“Tadi kamu telah melukaiku!” Jawab Dewi Parwati.

Ganesha terdiam. Ternyata ia baru menyadari bahwa jika ia menyakiti seekor binatang, itu juga akan menyakiti orang tuanya. Kucing itu ternyata adalah jelmaan ibunya.

GANESHA YANG BIJAKSANA

Dewa Siwa dan Dewi Parwati sangat senang bermain dengan kedua puteranya, Kartikeya dan Ganesha.

Suatu ketika, Dewa Siwa dan Dewi Parwati memberikan sebuah mangga kepada Kartikeya dan Ganesha. Mangga itu bukanlah mangga biasa. “Cairan nektar kepintaran dan keabadian ada di dalam mangga ini.” Dewa Siwa menjelaskan.

Tentu saja Kartikeya dan Ganesha sama-sama ingin memakan mangga itu. Namun mereka sama sekali tidak mau berbagi.

“Baiklah. Kalian berdua harus berlomba. Siapa pun yang paling cepat kembali setelah mengelilingi dunia sebanyak tiga kali, dialah yang berhak mendapat mangga ini.” Kata Dewa Siwa.

Kartikeya pun langsung melesat ke langit dengan kendaraannya, seekor burung merak. Selama perjalanannya mengelilingi dunia, dia tidak lupa untuk singgah dan berdoa di setiap tempat suci yang dijumpainya.

Sementara itu, Ganesha tampak kebingungan. Mana mungkin ia bisa mengelilingi dunia sebanyak tiga kali. Lihatlah, perutnya sangat besar dan kendaraannya hanyalah sesekor tikus. Tapi kebijaksanaannya telah memberikannya solusi yang tepat. Ganesha berjalan mendekati orang tuanya, lalu ia mengelilingi mereka sebanyak tiga kali dengan penuh rasa bhakti.

“Hey, kenapa kamu belum berangkat? Dan kenapa kamu malah mengelilingi kami?” Tanya Dewa Siwa.

“Orang tuaku adalah penguasa alam semesta dan seluruh jagat raya. Di dalam alam semesta adalah dunia. Saya tidak perlu mengelilingi dunia. Sudah cukup mengelilingi kalian.” Jawab Dewa Ganesha.

Jawaban Dewa Ganesha membuat Dewa Siwa dan Dewi Parwati sangat bangga. Ganesha pun mendapatkan mangga ajaib itu sebagai hadiah.

GANESHA DAN SUNGAI KAVERI

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pertapa bemama Rsi Agastya. Pertapa ini ingin membuat sebuah sungai di wilayah utara India. Dengan berkah dari Dewa Brahma, Rsi Agastya mendapat sedikit air suci Dewa Siwa. Air itu ditampung dalam Kamandalunya.

Tibalah ia di pegunungan Kodagu. Di sana, Rsi Agastya bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sedang melintas. Anak itu sebenarnya adalah Dewa Ganesha yang sedang melintas. Anak itu sebenarnya adalah Dewa Ganesha yang sedang menyamar.

“Nak, tolong pegangi dulu kamandaluku. Aku mau mencari tempat untuk buang air sebentar.” Kata Rsi Agastya.

Baca: Tidak Menyimpan Keburukan Sampai Mati

Dewa Ganesha yang sedang menyamar itu menyetujuinya. Ia tahu bahwa Rsi Agastya sebenamya sedang mencari tempat yang cocok untuk membuat sungai.

Maka Ganesha meletakkan kamandalu itu di tanah. Beberapa saat kemudian, Rsi Agastya kembali. la melihat seekor gagak hinggap di mulut kamandalu itu sehingga air suci di dalamnya tumpah.

Air yang tumpah itu kian lama kian banyak. Dan akhirnya terbentuklah sebuah sungai. Hingga kini sungai itu disebut sungai Kaveri oleh orang-orang India.

PERTARUNGAN GANESHA DENGAN DURASADANA

Tersebutlah seorang iblis bemama Basmasuran. Ia berhasil dibinasakan oleh Dewa Siwa dan Dewa Wisnu. Akibatnya, anak Basmasuran yang bemama Durasadana menjadi marah ingin membalas dendam. Ia bertapa yang keras sehingga mendapat anugerah dari Dewa Siwa bahwa ia tidak akan bisa mati.

Berkat kesaktiannya itu, semua dewa berhasil dikuasainya. Para dewa berlari ketakutan untuk bersembunyi. Di sana, para dewa berdoa memohon perlindungan Dewa Siwa. Setelah para dewa berdoa, akhirnya Dewa Ganesha muncul dengan mengendarai seekor singa.

Terjadilah pertempuran sengit antara Dewa Ganesha dengan Durasadana. Dewa Ganesha berubah wujud menjadi sangat besar. Ia meletakkan kakinya di atas Durasadana. Seketika semua pikiran iblis dan efek dari perilaku iblisnya keluar dari Durasadana.

“Aku mengampunimu, Durasadana. Sekarang, engkau kuberi tugas,” Dewa Ganesha berkata. “Tugasmu adalah membinasakan semua iblis di Kasi”.

Hingga kini, Durasadana tetap menjadi abdi Dewa Ganesha yang setia.

RAVANA DAN ATHMA LINGGAM

Meskipun Raja Alengka, Rahwana adalah seorang raksasa, namun ia adalah seorang pemuja Dewa Shiva yang teguh. Pada suatu ketika, Rahwana menuju Gunung Kailash. Sesampainya di sana dia memohon pada Dewa Siwa agar kerajaan Alengka tidak pernah bisa dihancurkan. Dewa Siwa kemudian memberinya Atma linggam dengan syarat bahwa ia harus kembali ke Alengka dengan berjalan kaki dan tidak boleh meletakkan Atma linggam itu di mana pun juga semasih dalam perjalanan. Jika hal itu terjadi, linggam itu akan terpasak di tempatnya dan tidak bisa dipindahkan selamanya. Rahwana pun menyetujuinya.

Para dewa merasa cemas linggam itu akan menambah kekuatan Rahwana sehingga ia tidak dapat dibinasakan jika dibawa ke Alengka. Maka mereka segera berdoa meminta bantuan kepada Dewa Ganesha.

Dewa Ganesha lalu membuat pemt Rahwana penuh berisi air sehingga Rahwana segera merasa ingin buang air kecil. Dewa Ganesha muncul di hadapan Rahwana sebagai bocah laki-laki. Rahwana pun menitipkan linggamnya pada bocah itu sementara ia pergi buang air kecil. Dewa Ganesha lalu memperingatkan Rahwana bahwa jika ia telah kelelahan memegang linggam itu, dan ia tidak dapat menunggu Rahvana lebih lama lagi maka ia akan memanggil nama Rahwana sebanyak 3 kali. Jika Rahwana tidak juga datang untuk mengambil kembali linggamnya, ia akan meletakkannya di atas tanah dan meninggalkannya begitu saja. Rahwana menyetujuinya.

Saat Rahwana pergi buang air kecil, Ganesha langsung saja memanggil nama Rahwana sebanyak 3 kali dengan cepat. Karena Rahwana tidak kunjung datang untuk mengambil linggamnya, Ganesha meletakkan linggam itu di atas tanah.

Rahwana yang murka segera mencoba mengangkat linggam itu dari tanah. Tapi meski telah menggunakan ke-20 lengannya, ia tidak dapat memindahkan linggam itu. Tekanan tapak tangan Rahwana meninggalkan bekas seperti kuping sapi pada linggam tersebut, sehingga tempat di mana linggam itu berada disebut Kokamam (ko-sapi, karnam-kuping), dan linggam itu sendiri disebut Mahabaleswarar karena tidak bisa diungguli oleh Rahwana yang sangat sakti.

Ganesha adalah dewa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Ganesha digambarkan sebagai dewa berperut besar dan berkepala gajah yang dicintai semua orang. Tingkahnya yang lucu membuat Ganesha makin disenangi dan dipuja. Termasuk kalian, bukan?

Nah, tulisan ini khusus menyajikan kumpulan kisah-kisah Ganesha yang terkenal, seperti kisah bagaimana Ganesha memperoleh kepala gajahnya, kisah dikala Ganesha diundang oleh Dewa Kubera, dan termasuk kisah-kisah ksatria saat Ganesha berhasil mengalahkan raksasa Gajamugasuram dan Durasadana. Atau, kalian pasti tertarik untuk membaca kisah perlombaan Ganesha dengan Kartikeya dalam mengelilingi jagat raya sebanyak tiga kali.

Semua kisah-kisah tentang Ganesha dalam buku ini sarat akan nilai moral yang dapat diteladani. Pada akhimya, kalian akan mengakui kebijaksanaan Ganesha.

Referensi:
Kalender Kementerian Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu
Ditulis oleh: Ayu Rini

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *