Kompetisi Arjuna dan Karna

Guru Drona muncul paling akhir ditemani oleh puteranya, Ashvattama. Busanannya berwarna putih total – dihiasi benang suci warna putih, janggut putih,kalungan bunga warna purih, luluran bedak cendana putih diseluruh tubuh – seperti bulan yang ditemani oleh planet mars , kedua sosok ini muncul dilatarbelakangi oleh langit yang cerah. Kaum brahmana melantunkan mantra-mantra pujaan, dan setelah pertunjukkan pembuka, para ksatria pejuang memasuki arena. Para hadirin begitu terpesona dengan kelenturan, kekuatan, dan simetri yang mereka perlihatkan.
 
(sumber foto istimewa)

Memerintahkan agar alunan musik dihentikan, Drona maju ke depan dan bersuara keras dan lantang.
“Sekarang hadir Arjuna, yang tersayang seperti puteraku sendiri.”

Arjuna kemudian muncul, mengenakan baju zirah keemasan, dengan pelindung jari-jari tangan, busur, dan anak-anak panah. Ia tampak seperti mega senja hari yang memantulkan sang surya yang sedang tenggelam dan menangkap warna pelangi dan kilatan cahaya petir.

Kerang-kerang ditiup, dan para hadirin bersuka cita. “Putra Kunti yang perkasa!” “Penengah Pandawa!” “Penyelamat keluarga Kuru.” “Penjaga nilai-nilai kebenaran dan sumber pengetahuan!” Begitu besarnya kebahagiaan Ibu Kunti hingga meneteskan air mata, tercampur dengan keluarnya susu dari payudaranya, membasahi dadanya.

Baca: Air dalam Perspektif Hindu

Kemudian Arjuna mulai menunjukkan keahliannya. Panah api-nya mengeluarkan api secara instan, senjata Varuna menghasilkan air, awan, tanah, udara, dan gunung tampaknya tercipta dari berbagai senjata; dan dengan kekuatan magis, semuanya itu kemudian dihancurkan kembali dengan senjata yang dikenal sebagai “antardhana”. Pada suatu saat Arjuna tampak begitu tinggi, saat lain terlihat pendek; sekarang ia berdiri di atas sebuah kereta, lalu segera bersembunyi di balik roda kereta, lalu berbaring di tanah. Menembak sekali, namun mengeluarkan lima anak panah sekaligus menembus rahang babi hutan yang terbuat dari besi dan saat bersamaan melesatkan dua puluh anak panah menembus lubang sebuah tanduk sapi yang terayun pada sebuah tali. Ia memutari lapangan beberapa kali, mempertunjukkan keahliannya menggunakan pedang, panah, dan gada.

Berikut muncul Karna dengan mata yang besar, tinggi seperti pohon palma, seorang pejuang  dengan kulit terlindungi oleh baju zirah dan anting-anting alami yang bersinar, yang melangkahkan kakinya seperti batukarang yang berjalan. Dengan penuh hormat ia membungkuk ke hadapan Guru Drona dan Bhagavan Kripa. Ia mempertunjukkan perilaku yang sama dengan tingkat kemahiran yang sama dibandingkan Arjuna, sementara itu Arjuna menyaksikan dengan rasa malu dan menyimpan  kemarahan. Duryodhana merangkul Karna dengan hangat dan berkata: “Selamat bergabung dengan kami, wahai pejuang hebat! Berikan titah anda dan menjadi pemimpin atas kerajaan kami, jika engkau menginginkannya.”

“Tawaran anda adalah sebuah perintah dan instruksi yang cukup untuk saya,” kata Karna. “Saya datang kesini tujuan utamanya untuk menantang Arjuna.”

Kemudian Arjuan yang dipermalukan berkata kepada Karna yang melayangkan tantangan secara langsung. “Takdir bagi tamu yang tidak diundang dan bersikap sombong akan menjadi milikmu, Karna. Aku akan membunuhmu hari ini.”

“Engkau membual terlalu banyak Arjuna. Arena pertunjukkan ini buka milikmu – engkau lupa disini ada banyak ksatriya dan para raja, beberapa diantara mereka lebih digdaya dibandingkanmu. Kata-kata bukan senjata yang ksatriya gunakan. Marilah kita berbicara melalui anak-anak panah.”

Setelah memberi hormat kepada saudara-saudaranya, Arjuna maju ke depan siap untuk bertempur. Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap dan pelangi Dewa Indra menaungi arena; awan-awan tampak memperlihatkan gigi-gigi mereka dalam barisan bulatan-bulatan putih dipinggirannya.

Dewi Kunti, ibu dari Karna maupun Arjuna, jatuh pingsan; ia kemudian disadarkan oleh Vidura dan para pelayan dengan bubuk kayu cendana dan air. Ketika ia menyaksikan kembali kedua putranya mengenakan baju tempur, kecemasan luar biasa mencengkram hati Dewi Kunti.

Bhagavan Kripa yang paham tentang aturan pertempuran, berkata kepada Karna: “Engkau menghadapi putra bungsu Dewi Kunti, Arjuna, dari keluarga besar Kuru. Tolong jelaskan garis keturunan kebangsawananmu? Siapa bapak dan ibu kamu? Arjuna mesti tahu sebelum ia berperang denganmu, karena para putra raja hanya boleh  berperang dengan ksatriya penantang yang sebanding dengan status mereka.”

Wajah Karna menjadi pucat, seperti kembang teratai yang diguyur oleh hujan saat pergantian musim. Kemudian Duryodhana berbicara. “Itu tidak benar, wahai Kripa yang mulia, kitab suci menyatakan ada tiga jenis masyarakat yang bisa memperoleh kebangsawanan – mereka yang memang dari keturunan bangsawan (ksatriya), para pahlawan dan para pemimpin pasukan tempur. Jika Arjuna hanya mau berperang melawan raja, baiklah – sekarang juga aku mengangkat Karna sebagai Raja di kerajaan Anga.”

Baca: Manusia “RA”

Bahan upakaran seperti nasi, bunga dan kendi-kendi air suci dengan segera disiapkan; Karna didudukkan di atas siangasana berwarna keemasan, dan para Brahmana melantunkan mantra-mantra untuk upacara penobatan Karna; Karna berkata kepada Duryodhana: “Apa yang bisa aku berikan sebagai balas  jasa atas kerajaan yang engkau berikan?”

“Persahabatan kamu dengan ku,” sahut Duryodhana. Gemetar dan bercucuran keringat, kusir kereta yang sudah tua. Adhiratha memasuki arena. Karna menjatuhkan busur panahnya dan bergegas mendekati Adhiratha, dahinya masih basah karena air suci penobatan-nya menjadi Raja Anga, Karna merangkul ayah angkatnya. Dan kemudian dihadapan semua hadirin Adhiratha menyatakan bahwa Karna adalah putranya.

“Anak kusir kereta!” kata Bhima mengejek Karna. “Biarlah kami berdoa agar engkau menemui ajalmu dengan terhormat hari ini. Wahai Raja Anga! Engkau berhak memperoleh sebuah kerajaan sama seperti seekor anjing yang berhak atas prasadam “dadih suci” dari sebuah persembahan (yadnya)!” Bibir Karna bergetar menahan kemarahan: ia mengeluh dalam dan menatap ke arah matahari.

Namun Duryodhana bangkit penuh kemarahan. “Mulutmu bodoh sekali berkata seperti itu Bhima. Seorang ksatriya berhak atas penghargaan yang lebih. Garis keturunan ksatriya yang mana yang bersih (asal-usulnya)? Drona terlahir dari dalam kendi air, dan Kripa lahir dari sebuah semak-semak. Apa hubungan kebangsawanan dengan sebuah pertarungan yang adil? Aku juga tahu tentang kisah kelahiranmu. Apakah engkau pikir seorang manusia harimau seperti Karna terlahir dari seekor rusa? Jika ada seseorang disini yang tidak suka atas dukunganku kepada Karna, biarkanlah ia naik ke kereta-nya dan menarik tali busur panahnya atas upayanya sendiri.”

Warga yang kebingungan menangis di tengah-tengah kerumunan yang bertepuk tangan gembira menyambut pidato Duryodhana. Namun matahari telah tenggelam, dan Duryodhana merangkul Karna meninggalkan arena yang sekarang diterangi oleh nyala-nyala lampu. Para Pandawa  juga beristirahat; kerumunan warga membubarkan diri, sebagian dari mereka memuji Arjuna, sebagian juga ada yang memuji Karna, dan sebagian lagi berbicara atas nama Duryodhana.

Dewi Kunti merasa senang, demikian juga Duryodhana karena telah mendapatkan sekutu yang kesaktiannya setara dengan Arjuna. Inilah saatnya Guru Drona meminta imbalan atas jasa pelatihan sebagai guru militer yang ia berikan selama ini, dan ia berkata kepada para pangerang Kuru:   “Tangkaplah Raja Drupada, dan bahwa ia kehadapanku! Hanya itu imbalan yang aku inginkan.”

Oleh: Gede Ngurah Ambara.
Referensi: Majalah Media Hindu Edisi 138, Agustus 2015 Dari The Mahabharata of Vyasa Condensed from Sranskrit and Transcreated into English by P. Lal Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *