Hari Suci Purnama Kaitannya dengan Kehidupan Manusia

Umat Hindu dalam menjalankan setiap kegiatan keagamaannya selalu berpatokan pada tiga aspek yang disebut dengan Tri Kerangka Dasar agama Hindu. Tiga aspek yang dimaksud yaitu tattwa atau filsafat Hindu, susila atau etika, dan acara atau ritual agama. Ajaran tattwa agama Hindu pada umumnya membahas mengenai kebenaran yang terdapat dalam ajaran Hindu.
 
(sumber foto infoastronomy.org)
 

Dalam agama Hindu khususnya di Bali memiliki hari suci yang didasarkan pada sasih/bulan yaitu hari suci Purnama. Hari suci Purnama merupakan bagian dari naimitika yadnya yaitu pelaksanaan ritual yang dilakukan pada waktu atau hari-hari tertentu. Kata Purnama berasal dari kata “purna” yang artinya sempurna. Purnama dalam kamus umum Bahasa Indonesia berarti bulan yang bundar atau sempurna. Saat hari suci Purnama pemujaan ditujukan kepada Sanghyang Candra dan Sanghyang Ketu sebagai manifestasi Tuhan dalam wujudnya sebagai dewa kecemerlangan untuk memohon kesempurnaan dan cahaya suci dari Hyang Widhi. Biasanya pada hari suci Purnama umat Hindu menghaturkan daksina dan canang sari pada setiap pelinggih dan pelangkiran yang ada pada setiap rumah.

Umat Hindu pada umumnya sangat meyakini dan memiliki rasa kesucian yang tinggi terhadap hari Purnama, sehingga hari suci Purnama sering juga disebutkan dengan ”Devasa Ayu” atau hari yang baik. Setiap datangnya hari-hari suci yang bertepatan dengan hari Purnama maka pelaksanaan upacaranya disebut, ”Nadi”.

Baca: Kompetisi Arjuna dan Karna

Purnama adalah saat posisi bulan terlihat bundar utuh. Sinar yang terpancar memantulkan cahaya matahari dengan begitu terang dan sangat indah. Oleh masyarwakat, kemunculan bulan Purnama sering kali dikaitkan dengan suatu peristiwa atau kejadian. Seperti misalnya peristiwa alam atau bahkan sampai yang berbau mistis. Selain itu, kemunculan bulan Purnama erat kaitannya dengan kondisi tubuh dari manusia itu sendiri.

Pada saat bulan Purnama kondisi masa seluruh kehidupan dibumi ikut terpengaruhi. Seperti contoh, pada saat bulan Purnama frekuensi tubuh yakni pikiran manusia ikut terpengaruhi. Pikiran manusia disini adalah perasaan, emosi, dan hawa nafsu kita.

Yang di maksud hawa nafsu kita adalah ketika kita ingin makan makanan yang enak. Di saat makan, kita rasakan enaknya makanan itu, terlaksanalah keinginan nafsu itu. Bagaimana setelah kita puas (kenyang) memakannya dan merasakan enaknya makanan itu? Setelah kita puas memakan dan merasakannya, maka kita tidak bernafsu lagi untuk memakannya. Ya, karena nafsunya telah hilang. Begitu juga bila kita bernafsu ingin melakukan hubungan seksual dengan pasangan kita (istri). Apa yang Anda rasakan di saat sebelum melakukannya, di saat ketika melakukannya, dan di saat setelah melakukannya? Sebelum melakukan hubungan, nafsu kita sangat menggebu-gebu, pandangan terasa indah. Di saat melakukan hubungan, perasaan terasa nikmat. Dan bagaimana setelah kenikmatannya itu tersalurkan? Ya, setelah hubungan badan itu selesai, semua yang kita pandang indah, maka tidak indah lagi. Semua yang kita rasakan nikmat, maka tidak nikmat lagi. Kita tidak ingin berhubungan lagi. Ya, karena nafsu itu telah hilang.

Setelah nafsunya itu hilang, maka tidak ada lagi keinginan apa-apa. Tidak ada lagi keinginan untuk makan-makanan yang enak itu. Tidak ada lagi keinginan untuk berhubungan badan dengan pasangannya. Begitulah contoh perbuatan yang kita lakukan berdasarkan keinginan hawa nafsunya. Hal ini dikarenakan unsur Panca Maha Bhuta antara Alam dan Manusia mempunyai unsur yang sama, yang biasa di sebut Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Bhuana artinya, alam, dunia jagat. Agung artinya besar atau jagat raya. Alit artinya kecil. Bhuana agung artinya dunia besar atau alam semesta. Bhuana Agung disebut dengan istilah Makrokosmos. Bhuana alit artinya dunia kecil (mahluk hidup). Bhuana alit disebut dengan istilah Mikrokosmos.

Kesamaan unsur-unsur Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang menyembabkan ada reaksi tubuh manusia pada saat hari Purnama. Karena salah satu unsur dalam Bhuana Agung yaitu unsur apah (air) mengalami pasang. Begitu juga unsur cair di Bhuana Alit (tubuh manusia) mengalami reaksi. Tingkat emosi dan hawa nafsu secara otomatis mengalami perubahan karena hari Purnama.

Dengan hal itu kita harus melakukan persembahyangan pada saat purnama karna pada dasarnya hawa nafsu itu tidak bisa dihilangkan, namun bisa dikontrol dengan hal-hal positif, dan sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi.

Seperti yang di katakana Di dalam Lontar ”Purwana Tattwa Wariga” diungkapkan antara lain: ”Risada Kala patemon Sang Hyang Gumawang Kelawan Sang Hyang Maceling, mijil ikang prewatekening Dewata muang apsari, saking swargo loko, purna masa ngaran”.

Maksud lontar di atas, bahwa Sang Hyang Siva Nirmala (Sang Hyang Gumawang) yang beryoga pada hari Purnama, untuk menganugerahkan kesucian dan kerahayuan (Sang Hyang Maceling) terhadap seisi alam dan Hyang Siva mengutus para dewa beserta para apsari turun ke dunia untuk menyaksikan persembahan umat manusia khusunya umat Hindu kehadapan Sang Hyang Siwa.

Baca: Air dalam Perspektif Hindu

Dapat di simpulkan bahwa, bulan Purnama adalah saat dimana bulan terlihat bundar utuh, memantulkan cahaya matahari dengan terang dan indah. Kemunculan bulan Purnama kerap kali dihubung-hubungkan dengan suatu peristiwa atau kejadian, baik itu peristiwa alam, mistis, dan lain halnya. Dan ternyata bukan hanya itu saja, kemunculan bulan pada saat bulan Purnama erat kaitannya dengan kondisi tubuh seorang manusia. Pada saat itu dimana masa seluruh kehidupan dibumi dipengaruhi hingga ketitik puncaknya baik dalam hal yang baik maupun yang buruk.

Bulan Purnama mempengaruhi frekuensi tubuh mental yakni pikiran manusia. Pikiran manusia disini adalah perasaan, emosi dan hawa nafsu kita. Tingkat emosi dan hawa nafsu secara otomatis mengalami perubahan karena hari Purnama.

Dengan hal itu kita harus melakukan persembahyangan pada saat purnama karna pada dasarnya hawa nafsu itu tidak bisa dihilangkan, namun bisa dikontrol dengan hal-hal positif, dan sudah seyogyanya kita semua, baik itu para rohaniawan serta semua umat manusia perlu mensucikan diri secara lahir dan batin dengan melakukan upacara persembahyangan serta menghaturkan yajna kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa.   Semoga bermanfaat buat kita semua.

Oleh: Ni Ketut Deni Wiryanthari
Referensi: Dari naskah Dharmawacana  

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *