DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [4]

KRISHNA AWATARA


 (sumber foto es.pseudociencia.wikia. com)

Krishna adalah putera dari Dewaki dan Wasudewa. Dewaki sendiri adalah adik perempuan Kansa, dan ayah mereka adalah Raja Ugarsena di Mathura. Kansa adalah seorang raja jahat yang terkenal akan kekejamannya. Pada suatu ketika, Kansa mengatur pemikahan Dewaki dengan salah seorang temannya, Wasudewa. Setelah usai pemikahan mereka, Kansa memutuskan untuk memimpin rombongan pengantin hingga sampai di rumah Wasudewa. Pada saat sedang berada di atas keretanya, tiba-tiba terdengar suara dari langit, “Kansa, engkau akan mati karena dibunuh oleh putera ke-8 Dewaki!”

Mendengar suara peringatan itu, Kansa bemsaha untuk membunuh Dewaki dengan pedangnya, narnun segera Wasudewa menghentikannya.

“Jangan bunuh Dewaki, Kansa. Asalkan engkau membiarkan dia tetap hidup, aku berjanji akan menyerahkan putera ke delapan kami padamu. Engkau bisa melakukan apa saja terhadap putera ke delapan itu nantinya.” Wasudewa berkata kepada Kansa. Kansa menyetujui permintaan Wasudewa. la lalu memenjarakan Dewaki dan Wasudewa, termasuk pula ayahnya sendiri, Raja Ugarsena.

Selama berada dalam penjara, Dewaki mengandung dan melahirkan puteranya. Setiap bayi yang dilahirkan Dewaki dirampas oleh Kansa dan dilemparkan ke atas batu hingga mati. Satu per satu anak Dewaki tewas dibunuh oleh Kansa dengan tanpa belas kasihan sedikit pun. Kemudian, Dewaki kembali mengandung anak ke-7 nya.

Dewa Wisnu memanggil Dewi Mahamaya dan memerintahkannya untuk memindahkan anak ke-7 dalam kandungan Dewaki ke dalam kandungan Rohini. Rohini adalah istri pertama Wasudewa. Dewi Mahamaya pun melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Dewa Wisnu. Anak ke-7 Dewaki yang masih dalam kandungan dipindahkan ke dalam kandungan Rohini yang saat itu tinggal di Gokul bersama Yashoda dan Nandaraja. Nandaraja adalah saudara ipar Wasudewa. Anak ke-7 ini lahir dan diberi nama Balarama. Balarama tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat dan berani.

Setahun kemudian, Dewaki kembali mengandung dan kali ini ia mengandung puteranya yang ke-8. Putera yang ke-8 itu tak lain adalah Krishna. Krishna dilahirkan tepat tengah malam pada hari ashtami diikuiti dengan turunnya hujan yang sangat deras. Ketika Krishna lahir, para penjaga penjara sedang tertidur pulas. Dewaki dan Wasudewa berdoa kepada Tuhan agar melindungi putera ke-8 mereka dari Kansa. Tiba-tiba rantai yang membelenggu Wasudewa patah dan pintu-pintu penjara terbuka dengan sendirinya. Dewaki memberikan Krishna kepada Wasudewa, dan segera Wasudewa berlari ke luar membawa Krishna ke Gokul.

Dalam perjalanan menuju Gokul, Wasudewa menemukan sebuah keranjang di tepi sungai Yamuna. Maka ditaruhlah Krishna di dalam keranjang itu dan dibawanya di atas kepalanya. Air sungai Yamuna mengalir dan bergolak dengan ganasnya. Wasudewa melangkah masuk ke dalam sungai untuk menyeberanginya. Ketinggian air sungai Yamuna telah mencapai sebatas hidung Wasudewa seolah-olah air sungai Yamuna sangat bersemangat ingin menyentuh kaki Krishna. Begitu kaki-kaki mungil Krishna menyentuh air sungai Yamuna, serta merta tinggi air sungai Yamuna menumn.

Hujan terus turun dengan derasnya tanpa menunjukkan tanda- tanda akan berhenti. Tiba-tiba Wasudewa melihat Sheshanaga yaitu seekor ular snagat besar dengan lima kepala.

“Wasudewa, jangan takut. Aku datang untuk melindungi Krishna dari hujan agar dapat sampai di Gokul dengan selamat.” Kata Sheshanaga sambil memayungi Wasudewa dengan kelima kepalanya sehingga Krishna yan berada di dalam keranjang di atas kepala Wasudewa tidak terguyur air hujan. Sheshanaga terns mengikuti dan memayungi Wasudewa hingga tiba di seberang sungai.

Akhirnya, Wasudewa sampai juga di rumah Nandaraja di Gokul. Yashoda, istri Nandaraja juga kebetulan barn saja melahirkan bayi perempuan. Yashoda dan Nandaraja sangat terkejut dan prihatin begitu mendengar cerita dari Wasudewa tentang nasibnya selama ini. Kemudian, Yashoda meminta Wasudewa agar memberikan Krishna kepadanya. Dan, agar Kansa tidak curiga, ia merelakan bayi perempuannya dibawa oleh Wasudewa kembali ke penjara Kansa. Yashoda pun memberikan bayi perempuannya kepada Wasudewa, dan Wasudewa membawanya kembali ke Mathura.

Wasudewa tiba di Mathura. Begitu ia masuk kembali ke dalam penjara, rantai-rantai bergerak dengan sendirinya dan kembali membelenggu Wasudewa. Pintu-pintu penjara juga kembali terkunci. Bayi perempuan Yashoda mulai menangis hingga membangunkan para penjaga penjara. Kansa datang ke tempat itu dan merampas bayi perempuan itu dari tangan Dewaki. Ketika Kansa hendak melemparkan bayi itu ke batu, tiba-tiba bayi itu lenyap menuju ke langit. Lalu muncullah seorang dewi yang mengingatkan Kansa bahwa orang yang akan membunuhnya sedang tumbuh di Gokul, jauh di luar jangkauannya, dan bahwa kematian akan segera menjemputnya.

Krishna aman bersama Yashoda di Gokul. Yashoda membesarkan Balarama dan Krishna dengan penuh kasih sayang seperti membesarkan anak-anaknya sendiri. Nandaraja juga sangat senang memiliki Krishna sebagai puteranya.

Di Mathura, Kansa terns dihantui rasa takut, seakan-akan ribuan anak-anak menertawainya dari dalam semua pilar-pilar di istananya. Kansa kemudian memanggil Putana, iblis wanita kejam yang dapat merubah-ubah wujudnya. Putana diperintahkan pergi ke Gokul untuk membunuh bayi-bayi di sana.

Di Gokul, Putana merubah wujudnya menjadi seorang wanita. Ia masuk ke rumah-rumah penduduk yang memiliki bayi dan menyusui bayi-bayi itu dengan air susunya yang beracun. Kini tiba saatnya Putana sampai di rumah Nandaraja. Setelah melihat Krishna, ia langsung menyusuinya. Namun Krishna malah menghisap nyawa Putana hingga iblis wanita itu tewas.

Baca: DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [3]

Berita kematian Putana oleh Krishna sampai juga ke telinga Kansa. Sekarang ia yakin bahwa Krishna bukanlah anak manusia biasa. Maka dari itu, ia pun mulai menyusun rencana demi membunuh Krishna. Sementara itu, Krishna tumbuh bersama anak-anak lain di Gokul. Ia sangat gemar memakan mentega segar sehingga sering kali ia bersama teman-temannya mencuri mentega di setiap dapur di Gokul. Krishna juga senang bermain-main dengan para Gopi, yaitu gadis- gadis pemerah susu.

Pada suatu ketika, air sungai Yamuna tiba-tiba berubah menjadi hitam akibat tercemar oleh racun yang disebarkan oleh ular Kaliya. Ular Kaliya memiliki ribuan kepala dan telah mulai mendiami sungai Yamuna bersama para istrinya. Padahal, penduduk Gokul di Brindawan sangat tergantung pada air sungai Yamuna. Oleh karena ulah Kaliya, air sungai Yamuna bembah beracun. Siapa pun yang meminum air sungai Yamuna, baik manusia maupun hewan semuanya menjadi mati keracunan.

Pada suatu hari, Krishna dan teman-temannya sedang bermain bola di tepi sungai Yamuna. Namun, bola itu malah tercebur ke sungai Yamuna, dan Krishna harus mengambilnya. Krishna melompat ke dalam sungai Yamuna untuk mengambil bola itu. Ia lalu berenang ke arah goa dimana Kaliya tengah beristirahat bersama istri-istrinya. Krishna menyerang Kaliya dan berdiri di atas kepala Kaliya sambil menari. Akibat perkelahian antara Krishna dan Kaliya, air sungai Yamuna menjadi semakin hitam. Penduduk Gokul berkumpul di sekeliling tepi sungai Yamuna menanti Krishna keluar dari dalam sungai. Krishna sedang menghukum Klaiya hingga berdarah. Sesaat kemudian Krishna keluar dari dalam sungai sambil berdiri di atas kepala Kaliya dan memegang ekor ular itu. Istri-istri Kaliya juga muncul dan mereka memohon kepada Krishna agar Kaliya dimaafkan. Krishna lalu menyuruh Kaliya pergi dari Yamuna dan agar tidak pemah kembali lagi. Maka pergilah Kaliya bersama istrinya meninggalkan Yamuna sementara semua orang mulai memuja-muja Krishna.

Di Gowardhana, para penduduknya memuja Dewa Indra, yaitu raja sorga dan sekaligus dewa hujan. Penduduk Brindawan yang biasa memelihara temak (orang-orang Braj) memuja Indra dan mempersembahkan buah-buahan dan bunga sebagai hadiah kepada Indra. Krishna menyuruh mereka memuja Gunung Gowardhana karena hanya gunung itulah yang satu-satunya berperan dalam memberikan hujan. Orang-orang Braj mengikuti perintah Krishna dan mulai memuja Gunung Gowardhana.

Dewa Indra menganggap hal itu sebagai suatu penghinaan baginya karena penduduk Gowadhana berhenti mempersembahkan hadiah kepadanya. Maka, Indra yang marah segera memerintahkan raja awan untuk menurunkan hujan di kediaman orang-orang Braj sampai seluruh tanah dan gunung Gowardhana tersapu habis oleh banjir. Sekelompok awan mulai menurunkan hujan lebat di atas tempat orang- orang Braj sehingga dunia seakan-akan menjelang kiamat. Krishan berkata bahwa Gunung Gowardhana akan melindungi mereka. Krishna kemudian mengangkat Gunung gowardhana dengan kelingkingnya. Orang-orang Braj segera berlindung dibawah Gunung Gowardhana yang diangkat oleh Krishna selama 7 hari. Akhimya, Dewa Indra menyerah dan menyadari bahwa Krishna tiada lain adalah Dewa Wisnu sendiri. Untuk itu, Indra memohon maaf atas kekeliruannya kepada Krishna.

Pada lain kesempatan, Kansa menyusun rencana untuk membunuh Krishna melalui Dhanoriya Yugana. Kansa mengirim sepupunya Akrura ke Gokul untuk mengundang Krishna dan Balarama. Semua orang tidak mau membiarkan Krishna pergi tetapi Krishna meyakinkan mereka bahwa ia haras memenuhi tujuan dari hidupnya. Akrura mengantar Krsihna dan Balarama ke Mathura.

Setelah memasuki Mathura, rombongan Krishna tiba-tiba berhenti karena seorang wanita tua dan buta berdiri di tengah-tengah jalan sambil membawa pasta cendana. Setelah memberikan pasta cendana itu kepada Krishna, tubuh wanita itu kemudian hancur dan lenyap. Ia adalah wanita yang dikutuk akibat perbuatan jahatnya di kehidupannya terdahulu sewaktu ia menjadi Manthara. Dengan bertemu Krishna, wanita itu mencapai pembebasan atas dosa di masa lalunya.

Kansa mengetahui kedatangan Krishna dan Balarama. Ia lalu memerintahkan pengawalnya untuk melepaskan gajah gila Kuwalayapidain untuk menyerang Krishna. Krishna berhasil memotong belalainya dengan pedang sehingga gajah itu pun mati.

Kansa pergi ke arena pertarungan dan duduk di atas tahtanya. la menyuruh Akrura untuk menunjuk Krishna dan Balarama agar beradu gulat dengan pegulat-pegulat tangguh. Siapa pun yang kalah dalam adu gulat itu harus dibunuh. Kansa menantang Krishna dan Balarama agar menghadapi dua prajurit ibilis terkuatnya, yaitu Mushtika dan Chanura. Balarama menyerang Mushtika dengan tombaknya, sementara Krishna menghadapi Chanura. Kedua iblis itu berhasil dikalahkan oleh Krishna dan Balarama.

Kemudian Krishna bersuara dengan lantang, “Oh iblis, paman Kansa, sekarang adalah giliranmu untuk pergi ke neraka!” Semua orang di arena pertarungan mulai berteriak, “bunuh Kansa! Bunuh iblis itu! Akhiri pemerintahannya yang kejam!”

Kansa mencoba untuk melarikan diri dari arena itu, tetapi Krishna telah memegangnya dan menyuruhnya untuk menghitung dosa-dosa yang telah ia lakukan, antara lain membunun anak-anak tak berdosa, memenjarakan Dewaki dan Wasudewa, memenjarakan ayah kandungnya sendiri yaitu Raja Ugarsena, dan memperlakukan rakyat Mathura secara tidak adil. Akhimya Krishna memenggal kepala Kansa dengan Chakra Sudarshana. Surga kemudian menghujani Krishna dengan bunga-bunga dari atas langit.

BUDDHA AWATARA


(sumber foto jibonkrocksite. blogspot.co.id)

Buddha adalah Awatara Dewa Wisnu yang ke sembilan setelah Awatara Rama dan Krishna. Tujuan kedatangan Awatara Buddha ialah untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan total bagi semua manusia. Bagimanakah kisah dan kehidupan Awatara Buddha ini?

Pada abad ke-5 SM, sebuah suku bangsa Arya yang bemama Suku Shakyas diperintah oleh Raja Suddhodana. Suku Shakyas berdiam di Kapilawastu, sebuah tempat di antara Benares dan Himalaya. Penduduknya hidup sebagai petani dan setiap harinya memakan nasi. Dikisahkan Raja Suddhodana menikahi dua orang puteri dari Koliyan, suku tetangganya.

Pada suatu malam, Mahamaya, istri pertama sang raja mendapat sebuah mimpi yang mencengangkan. Dalam mimpinya itu, ia diarahkan oleh dewa-dewa dari empat penjum mata angin ke Himalaya. Di sana, ia dimandikan dan disucikan dengan suatu upacara. Kemudian, Bodisatwa muncul dari arah utara dalam wujud seekor gajah putih. Dan begitu Buddha memasuki rahim Mahamaya, keanehan yang agung pun terjadi. Pohon dan semak-semak berubah menjadi bunga, dan alat- alat musik berbunyi dengan sendirinya.

Sembilan bulan kemudian, yakni pada tahun 563 SM, Mahamaya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan. Bayi itu diberi nama Pangeran Siddharta Gautama. Namun, tujuh hari setelah pangeran dilahirkan, Mahamaya meninggal dunia.

Ketika Siddharta berusia 12 tahun, seorang brahmana berkata pada Raja Suddhodana bahwa masa depan sang pangeran memiliki dua kemungkinan, yaitu, sang pangeran akan bisa menjadi seorang raja yang agung, atau bahkan bisa menjadi seorang pertapa jika melihat banyak penderitaan, masalah, penyakit dan kematian. Raja Suddhodana pun menjadi was-was. Ia tidak ingin kalau pangeran menjadi seorang pertapa. Ia mulai menjaga sang pangeran dengan segenap jiwa raganya. Ia berusaha membuat sang pengeran merasa selalu bahagia dan nyaman agar terhindar dari masalah-masalah dunia. Pangeran Siddharta tinggal di sebuah istana yang megah dengan segala kenyamanan dan keindahan alam sekitar.

Pangeran Siddharta kemudian menikah dengan saudara sepupunya yang bemama Yashoda, puteri dari Raja Koli. Menginjak usia 29 tahun, Siddharta mulai menaruh perhatian pada segala masalah dan penderitaan di dunia. Rasa penasaran selalu membayangi hidupnya. Bahkan ketika Rahula, puteranya lahir sepuluh tahun kemudian, Siddharta justeru merasakannya sebagai bentuk keterikatan. Hatinya semakin tergerak untuk menemukan jalan keluar dari segala permasalahan yang terjadi di dunia.

Akhirnya, Siddharta memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan keluarganya demi menemui banyak pertapa dan orang diri di hutan. Ia bertapa dan berpuasa yang keras selama beberapa waktu hingga ia merasa hampir mencapai pencerahan.

Kemudian, Siddharta meninggalkan kehidupan pertapaannya. Ia mulai memakan makanan secara teratur dan mempersembahkan hidupnya kepada para pengikutnya. Sejak saat itu Siddharta mulai dikenal dengan nama Buddha.

Buddha berkelana sepanjang sisi Sungai Nairanjara dan duduk di bawah pohon Bo. Setelah duduk di sana selama beberapa waktu, pikirannya menjadi semakin mumi, keragu-raguannya sima, dan kedamaian muncul. Pagi dan malam datang silih berganti, dan Buddha pun menjadi tercerahkan. Buddha memberikan ceramah tentang cinta kasih dan ahimsa (tanpa kekerasan) kepada semua orang yang mau mendengarkan ajarannya.

Baca: DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [2]

Ketika Buddha mengunjungi Kapilawastu, ayahNya, Raja Suddhodana merasa sangat gembira dan segera menyiapkan sebuah kebun yang indah untuk menyambut kedatangan puteranya. Yashoda juga mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Buddha dengan cara menggundul kepalanya. Ketika Yashoda melihat Buddha, ia segera bersujud penuh rasa bhakti, bukan penuh rasa cinta kepada suami, tetapi luapan cinta seorang bhakta (penyembah Tuhan).

“Pada kehidupan terdahulu, engkau memang berharap bisa menjadi istri Buddha agar dapat terus berada di dekatNya dan meolongNya bertahun-tahun.” Demikian Buddha berkata kepada Yashoda.

Orang tua Buddha, termasuk juga anakNya mengikuti Sang Buddha dan menjadi bhaktaNya. Yashoda pun demikian. Yashoda mencapai Nirwana dua tahun sebelum Sang Buddha wafat diusia 54 tahun, yakni pada 483 SM.

KALKI AWATARA
 
(sumber foto id.wikipedia.org)
 

Awatara Kalki adalah awatara ke-10 dari Tuhan Yang Maha Esa yang menjelma di akhir zaman, yaitu Kaliyuga. Tuhan turun ke dunia di akhir zaman Kali demi menghukum semua iblis atau manusia berwatak raksasa dan memumikan kembali dunia yang telah tercemar oleh banyak dosa, yang mana pada zaman tersebut hampir semua masyarakat manusia mengalami kemerosotan moral. Kedatangan Kalki ke dunia telah diramalkan dalam berbagai kitab-kitab kuno, yaitu dalam kitab-kitab sastra Hindu maupun non-Hindu. Ramalan-ramalan tentang Kalki telah ditulis sejak lama oleh para orang suci. Berikut adalah ciri-ciri Kalki sesuai ramalan dalam kitab-kitab kuno tersebut:

Kitab non-Hindu

1. Kitab Perjanjian Baru, wahyu 19 ayat 11-15
Di Sebutkan bahwa Kalki turun sebagai seorang penunggang kuda putih, yang mana penunggang kuda tersebut memakai jubah yang telah dicelup dengan darah, di atas kepalanya terdapat banyak mahkota, Ia diikuti oleh semua pasukan sorga yang memakai pakaian lenan halus yang putih bersih, Ia mengeluarkan pedang dari mulutnya dan memukul semua bangsa, dan namaNya berarti ‘yang setia dan yang benar’.

2. Kitab Cina Kuno (Chinese Future)
Dalam kitab ini dinyatakan bahwa seseorang yang bemama Kau Sathya akan membunuh 75% dari penduduk dunia. Dari kedua buah kitab kuno non-Hindu tersebut, kita hendaknya menganalisa secara hati-hati makna yang terkandung di dalamnya. Para ahli sastra agama dan orang-orang suci telah menafsirkan ramalan tersebut berdasarkan konteks zaman modem saat ini. Sekarang kita telah berada di zaman Kali, yaitu zaman modem, tentu saja Kalki tidak mungkin datang di tengah-tengah umat manusia modem sebagai seseorang yang menunggangi kuda putih. Berdasarkan penafsiran mereka, mungkin saja bahwa Kalki akan turun sebagai seseorang yang memakai jubah merah dan mengendarai kendaraan modem berupa sebuah mobil putih. Pedang yang keluar dari mulut Kalki juga adalah simbol belaka yang mana menjelaskan bahwa sebenamya Kalki memiliki lidah setajam pedang sehingga dapat memberi ceramah pencerahan kepada masyarakat dunia demi memberantas kebodohan sehingga semua manusia mengetahui jati diri mereka.

Kitab Hindu

1. Kitab Mahabharata
Dalam kitab Mahabharata ini terdapat percakapan antara Rsi Markandeya dengan Yudistira. Sang Rsi mengatakan bahwa menurut informasi Dewa Wisnu, awatara Kalki akan memiliki pengamh amat kuat, menarik setiap orang sehingga datang kepadaNya, lahir dalam keluarga biasa di India Selatan, memakai jubah kuning, berambut lebat keriting dan tidak berjenggot. Kalki juga akan mampu menciptakan segala sesuatu atas kehendaknya dan juga mampu mengeluarkan sesuatu dari mulutNya.

2. Catatan Rsi Agasthva (Agasthvanaadi)
Dalam catatan ini disebutkan bahwa Awatara di zaman Kali menyembuhkan penyakit lebih cepat daripada kilat, mendirikan banyak yayasan demi pelayanan kepada umat manusia, dan awatara ini meninggalkan orang tuanya karena hams mengajarkan ilmu spiritual kepada umat manusia.

3. Catatan Rsi Brighu (Brighunaadi)
Rsi Brighu telah meramalkan Awatara Kalki sebagai berikut, yakni ia akan bemama “kebenaran”, selalu bahagia, dan masyarakat ditempat awatara ini turun akan menyaksikan Tuhan dalam wujud manusia.

Catatan-catatan kuno lainnya yang meramalkan tentang kedatangan Awatara Kalki juga telah ditulis oleh Rsi Brahma (Brahmanaadi), Rsi Sri Aurobindo, dan lain-lain. Dunia akan mencapai zaman emas begitu Awatara terakhir ini muncul di bumi. Akan terjadi perubahan besar dalam kehidupan dunia dari segi material dan spiritual, sebab Awatara ini mengemban tugas seperti yang telah disabdakan oleh Sri Krishna kepada Arjuna di Kurukhsetra, yaitu antara lain:

  1. Weda Phosana yaitu melindungi atau menjaga Weda
  2. Vithvath Phosana yaitu melindungi orang-orang suci yang ahli Weda
  3. Dharma Raksaka yaitu menjaga dharma
  4. Bhakta Raksaka yaitu melindungi bhaktanya

Pada akhimya, semua umat manusia akan mencapai pencerahan sehingga menyadari jati diri mereka sebagai satu kesatuan yaitu atma. Alhasil, selanjutnya selumh umat manusia akan menyadari kebenaran sejati yaitu hanya ada satu agama yakni agama kasih sayang, Tuhan itu berada di mana-mana, hukum kerja adalah satu-satunya peraturan, hanya ada kasta kemanusiaan, dan bahwa hanya ada satu bahasa yakni bahasa hati.

Hendaknya kita jangan sampai melewatkan kesempatan emas bisa mengenal sang Awatara zaman Kali sehingga dapat menyucikan diri kita sekaligus menolong kita dari berbagai masalah duniawi dan spiritual, termasuk pula menyelamatkan kkta dari pengaruh Kaliyuga. Kita harus membuka pintu hati, meningkatkan cara berpikir, tidak cuek terhadap hal-hal spiritual serta semakin meningkatkan bakti kepada Tuhan, sebab Awatara hanya bisa dikenal oleh orang-orang yang telah membuka pintu hatinya, bukan orang-orang yang berhati sekeras batu.

Oleh: Ayu Arini
Referensi: Kalender Kementerian Agama Direktorat Jenderlal Bimbingan Masyarakat Hindu Ditulis

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *