DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [3]

PARASURAMA AWATARA


(sumber foto  mgmplampung.blogspot.co.id)

Parasurama adalah inkarnasi Dewa Wisnu yang ke enam yang juga dikenal dengan sebutan Rama yang menggunakan kapak. Parasurama terlahir sebagai seorang brahmana, putera orang suci bemama Jamadagni. Parasurama dianugerahi sebuah senjata super sakti berupa kapak oleh Dewa Siwa yang terkesan pada kebaktian dan pertapaannya. Ia memiliki kekuatan luar biasa dan naluri seorang pemusnah, jauh melebihi naluri-naluri para ksatria lainnya. Parasurama juga mempakan seorang chiranjiwi, yang berarti abadi, karena ia masih hidup hingga mahapralaya di zaman kiamat nanti.

Tujuan utama datangnya Parasurama ke bumi ini adalah untuk membebaskan bumi dari kekuasaan para ksatria yang sudah melenceng dari dharma (kebenaran), terutama pada masa pemerintahan Raja Arjuna dan puteranya yang telah membunuh ayah Parasurama. Sang Awatara terlibat banyak peperangan selama 21 tahun, dan akhimya dapat memusnahkan para ksatria yang lalim.

Selain bersenjatakan kapak, Parasurama juga dianugerahi dua busur sakti, yakni Siwa Danush dan Wisnu Danush. Busur Siwa milik Parasurama tersebut diserahkan kepada Raja Janaka, yang akhirnya dipatahkan oleh Sri Rama saat sayembara memperebutkan Dewi Sita. Setelah mengetahui bahwa Sri Rama juga adalah Awatara seperti dirinya, busur Wisnu Danush akhimya diserahkan kepada Sri Rama yang nantinya digunakan dalam perang melawan Rahwana.

Parasurama juga sangat berpengaruh dalam hasil peperangan di Kurukshetra. Karna yang berpura-pura sebagai keturunan Brahmana berguru pada Parasurama. Sang Awatara pun menganugerahi Karna ilmu Brahmastra, yaitu ilmu taktik perang yang luar biasa dahsyat. Sri Krishna sendiri ragu bahwa Pandawa akan berhasil memenangkan Bratayudha, karena Korawa didampingi oleh Karna.

Baca: DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [2]

Pada suatu hari, Parasurama tertidur di atas pangkuan Karnaa. Tiba-tiba seekor lebah beracun menyengat Kama. Akan tetapi Kama tetap tenang menahan rasa sakit akibat sengatan lebah itu. Parasurama terjaga akibat terkena darah yang mengucur dari kaki Karna. Ia baru menyadari bahwa hanya seorang ksatria sejatilah yang dapat menahan rasa sakit sehebat itu, sedangkan seorang brahmana tidak. Akhimya Parasurama mengutuk Karna, bahwa akan tiba saatnya nanti pengetahuan menerapkan Brahmastra akan hilang dari ingatan Karna.

Demikianlah, dalam perang Bratayudha, Karna dan Korawa dapat dikalahkan oleh Pandawa akibat dari Kama yang lupa akan taktik perangnya dalam ilmu Brahmastra.

SHRI RAMA AWATARA

(sumber foto gammassulistyawan.blogspot.co.id)

Dahulu kala di daerah yang sekarang menjadi Uttar Pradesh, India berdirilah sebuah kerajaan Kosala dengan rajanya bemama Dasharatha. Raja Dasharatha memiliki semua harta dunia dan sangat dicintai rakyatnya. Walau pun demikian hatinya selalu sedih karena ia tidak memiliki seorang anak pun.

Pada waktu yang bersamaan, di Pulau Ceylon di sebelah selatan India, hiduplah juga seorang raksasa yang sangat kuat dan sakti bemama Rahwana. Kekejamannya sungguh keterlaluan, tiada mengenal belas kasihan, dan para pengikutnya selalu mengganggu upacara-upacara suci yang dilakukan oleh para rsi.

Kita kembali pada Raja Dasharatha. Rsi Washista memberi saran agar Raja Dasharatha melaksanakan upacara korban api demi memohon keturunan kepada Tuhan. Saran itu pun segera disetujui oleh sang raja. Selama upacara berlangsung, Dewa Wisnu selaku pemelihara alam semesta memutuskan untuk menjelma sebagai anak tertua dari Raja Dasharatha agar hisa membunuh raksasa Rahwana. Dari dalam api, muncullah sesosok tinggi besar yang membawa semangkuk kue.puding di tangannya. Sosok itu memberikan kue puding kepada Raja Dasharatha sambil berkata, “Tuhan sangat senang denganmu dan menyuruhmu untuk memberikan kue ini kepada istri-istrimu. Mereka akan segera melahirkan anak-anak untukmu.”

Dengan rasa bahagia Raja Dasharatha membagikan kue itu kepada tiga orang istrinya, yaitu Kauslya, Kaikeyi, dan Sumitra. Setelah memakan kue puding, ratu tertua, Kausalya melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Rama. Selanjutnya ratu ke dua, Kaikeyi melahirkan Bharata. Sementara ratu ke tiga, Sumitra melahirkan dua anak kembar yang diberi nama Lakshmana dan Shatrughna.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Lima belas tahun telah berlalu. Keempat pangeran putra Raja Dasharatha tumbuh menjadi pangeran-pangeran yang tampan dan berani. Kemudian, seorang rsi bemama Wiswamitra datang berkunjung ke kerajaan Kosala. Wiswamitra meminta Raja Dasharatha agar mengijinkan Rama pergi bersamanya untuk membunuh raksasa yang tengah mengganggu upacara korban apinya. Raja Dasharatha meskipun sangat keberatan merelakan Rsi Wiswamitra mengajak Rama pergi membasmi raksasa. Maka berangkatlah Wiswamitra Rama dan Lakshmana ke hutan Dandaka, tempat raksasi Tadaka tinggal bersama anaknya yang bemama Madeira. Wiswamitra menyuruh Rama menantang raksasa wanita itu. Rama pun merentangkan tali busumya dan melentingkannya sehingga mengeluarkan suara keras yang menggelegar. Mendengar suara keras itu, semua binatang di hutan lari ketakutan dan bersembunyi. Raksasi Tandaka yang juga mendengar suara itu seketika menjadi berang. Ia berlari mengamuk menyerang Rama. Pertempuran sengit tak dapat dielakkan anatara Rama dan raksasi Tandaka. Namun akhimya Tandaka tewas terkena panah Rama. Rsi Wiswamitra sangat puas dengan keberhasilan Rama membunuh Tandaka. Oleh karena itu, Rsi Wiswamitra menganugerahi Rama beberapa mantera yang dapat digunakan untuk memanggil berbagai senjata sakti dengan cara meditasi untuk melawan ibils.

Kemudian Rsi Wiswamitra mengajak Rama dan Lakshmana menuju asaramanya. Rama dan Lakshmana diminta menjaga proses upacara korban api. Selama upacara berlangsung, tiba-tiba Maricha, anak raksasi Tandaka datang bersama para mengikutnya. Mereka berusaha menyerang Rama dan Lakshmana, namun kembali Rama berhasil menghalau para raksasa itu.

Keesokan pagi, Rsi Wiswamitra, Rama dan Lakshmana melanjutkan perjalanan ke kota Mithila, yaitu ibu kota dari kerajaan Janaka. Raja Janaka mengundang Rsi Wiswamitra untuk memimpin upacara korban api di istananya. Janaka adalah seorang raja yangnjuga seorang rsi. Dari upacara korban api itu, Raja Janaka memperoleh sebuah busur Siwa yang sangat berat dan kuat. Raja Janaka Memiliki keinginan agar puterinya yang cantik dapat menikah dengan pangeran yang paling berani dan paling kuat di negaranya. Ia pun mengadakan sayembara di mana siapa pun yang bisa mengangkat dan menarik busur siwa akan dinikahkan dengan puterinya yang bemama Sita. Tiada seorang pun yang dapat mengangkat bususr Siwa itu apalagi menariknya, kecuali Rama. Rama berhasil mengangkat dan menarik busur Siwa hingga patah. Maka, Janaka pun memberikan Sita kepada Rama untuk dinikahkan.

Raja Dasharatha sangat gembira mengetahui hal ini. Bersamaan dengan dinikahkannya Rama dan Sita, Ketiga saudara Rama yang lain juga menikahi tiga saudara sita. Lakshmana menikahi adik Sita, Urmila. Bharata dan Sathrughna menikahi sepupu Sita, yaitu Mandawi dan Shrutakirti. Upacara pemikahan keempat pangeran Kosala pun berlangsung sangat meriah.

Selama 12 tahun Rama dan Sita hidup bahagia di Ayodhya. Ketika Raja Dasharata mulai renta, dia memutuskan untuk menobatkan Rama menjadi raja. Semua orang menyambut keputusan Raja Dasharatha dengan gembira karena Rama dicintai oleh semua orang. Maka, raja pun mengumumkan keputusannya itu kepada seluruh rakyat Ayodhya. Saat itu, Bharata dan Sathrughna sedang pergi mengunjungi nenek mereka di luar kota Ayodhya. Kaikeyi, ibunda Bharata pada mulanya sangat menyayangi Rama seperti mencintai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi Manthara, seorang pelayannya yang jahat menghasutnya agar mencegah penobatan Rama menjadi raja, sebab Manthara menginginkan Bharata lah yang menjadi Raja Kosala, bukannya Rama.

“Ratu Kaikeyi, betapa bodohnya dirimu, ” kata Manthara kepada Kaikeyi, “raja sekarang memang lebih mencintaimu daripada ratu-ratu yang lain. Tetapi setelah Rama dinobatkan menjadi raja, Ratu Kausalya akan menjadi sangat berkuasa, dan dia akan menjadikanmu budaknya!”

Karena Manthara telah berkali-kali meracuni pikiran Kaikeyi, pada akhimya ia pun terpengaruh juga. Manthara menyuruh Kaikeyi untuk menagih 2 janji yang pemah diberikan sang raja kepada dirinya. Ketika raja Dasharatha terjebak dalam perang melawan para raksasa, Kaikeyi menyelamatkan nyawanya dengan cara mengajaknya kahur dengan kereta kuda. Sebagai rasa terimakasih, Dasharatha memberi dua janji kepada Kaikeyi, yakni akan mengabulkan dua permintaannya tanpa syarat.

“Sekaranglah saatnya untuk menagih dua janji sang raja.” Manthara menghasut Kaikeyi.

Kaikeyi segera mengutarakan dua permintaan kepada Raja Dasharatha tetapi begitu mendengar dua permintaan Kaikeyi itu Raja Dasharatha sangat terkejut hingga jatuh sakit. Bagaimana tidak, permintaan Kaikeyi adalah menobatkan Bharata puteranya sebagai raja dan mengasingkan Rama selama 14 tahun ke hutan.

Rama menyanggupi permohonan ibu tirinya demi melaksanakan kewajiban seorang anak dalam memenuhi janji sang ayah. Sita dan Lakshmana memohon agar ikut menemaninya tinggal di hutan selama 14 tahun. Urmila, istri Lakshmana juga memohon ikut pergi tetapi Lakhsaman memintanya agar tetap tinggal di isitana menjaga keluarganya yang sedang dilanda duka cita.

Malam itu, Rama, Sita, dan Lakhsmana berangkat meninggalkan Ayodhya. Rombongan rakyat Ayodhya yang mengantar mereka hingga ke tepi sungai Gangga diminta oleh Rama agar kembali ke Ayodhya, sementara ia, istrinya beserta Lakshmana melanjutkan perjalan mereka ke tengah hutan. Guha, kepala desa setempat membantu menyeberangkan mereka bertiga dengan perahunya melewati sungai Gangga.

Sementara itu di kerajaan Kosala, setelah kepergian dua orang anaknya dan menantunya, Raja Dasharatha meninggal dunia karena tidak kuasa menanggung derita kerinduan dan berpisah dengan Rama. Sang Raja meninggal setelah terus-menerus memanggil nama anaknya, “Rama.Rama..Rama”. Bharata dan Sathrughna dipanggil pulang ke Ayodhya oleh Wasista. Setibanya di istana Kosala, Bharatah segera mengetahui apa yang telah terjadi selama ia tidak berada di istana. Bharata menjadi sangat benci kepada ibunya karena mengetahui bahwa ibunyalah yang menjadi penyebab kematian ayahnya dan pengasingan kakak tercintanya, Rama ke hutan. Bharata menolak menjadi raja untuk menggantikan Rama. Kepada Ratu Kausalya, Bharata berjanji akan membawa kemabali Rama ke istana secepat mungkin.

Maka seusai upacara pembakaran jenazah Raja Dasharatha, Bharata berangkat ke Chitrakut, tempat dimana Rama berada. Begitu menjumpai Rama, Bharata menceritakan semua keadaan di istana termasuk berita duka kematian ayah mereka. Bharata memohon agar Rama kembali dan memerintah kerajaan Ayodhya, namun Rama menolah sambil berkata: “Aku tidak mungkin melanggar ayah. Aku akan memenuhi janji ayah kita kepada Ibu Kaikeyi. Engkau perintahlah kerajaan. Aku akan pulang hanya sesudah 4 tahun.” Rama begitu kukuh kepada pendiriannya sehingga Bharata tidak bisa lagi membujuknya. Maka Bharata meminta alas kaki Rama untuk dibawa kembali ke Ayodhya. Menurut Bharata, alas kaki Rama itu akan menjadi perwujudan Rama, dan dia sendiri akan melaksanakan tugas-tugas kerajaan sebagai perwakilan dari Rama. Ketulasan Bharata membuat Rama menyetujui permintaan itu. Bharata pun kembali ke Ayodhya dan meletakkan alas kaki Rama di atas tahta kerajaan, ia memerintah kerajaan atas nama Rama namun juga meninggalkan kerajaan dan hidup sederhana sambil menunggu Rama kembali pulang.

Kita kembali kepada Rama, Sita dan Lakshmana. Sepeninggal Bharata, Rama pergi menemui Rsi Agastha. Rsi Agastha meminta Rama untuk pergi ke Panchawati di tepi sungai Godawari. Panchawati adalah tempat yang indah sehingga mereka memutuskan untuk tinggal di sana. Lakshmana sendirilah yang membuatkan gubuk kecil untuk mereka.

Di Panchawati, tinggallah pula Surpanakha, adik perempuan Rahwana. Surpanakha mengetahui keberadaan Rama dan langsung menaruh hati padanya. Segera Surpanakha menemui Rama dan memintanya untuk menjadi suaminya. Namun Rama menjawab, “seperti yang engkau lihat, aku sudah menikah. Engkau bisa meminta Lakshmana. Dia muda, tampan, dan sendirian tanpa istrinya.”
Surpanakha kemudian meminta Lakshmana menjadi suaminya, namun Lakshmana menjawab, “aku hanyalah pelayan Rama. Engkau seharusnya menikahi tuanku, bukan diriku yang hanya pelayan ini.”

Surpanakha menjadi marah atas penolakan Rama dan Lakshmana. Ia kemudian menyerang Sita. Lakshmana spontan menjadi murka. la memotong hidung Surpankha dengan pisaunya. Surphanaka berlari sambil menjerit kesakitan mencari dua kakak raksasanya, yaitu Khara dan Dushana. Kedua raksasa itu pun segera menuju Panchawati bersama pasukan mereka untuk menuntut balas kepada Rama dan Lakshmana. Tapi, Rama dan Lakshmana berhasil menumpas mereka semua.

Surpanakha tidak berhenti sampai di situ. Dia terbang ke Alengka untuk meminta perlindungan Rahwana, kakaknya. Surphanaka menceritakan semua yang telah terjadi padanya, dan Rahwana menjadi sangat tertarik ketika mendengar bahwa istri Rama yang bemama Sita adalah wanita paling cantik di dunia. Maka timbullah niat Rahwana untuk menculik Sita. Apalagi, menurut Surpanakha, Rama sangat mencintai Sita dan tidak bisa hidup tanpa dia. Jadi, dengan menculik Sita, Surpanakha sudah membalas dendamnya kepada Rama.

Rahwana kemudian menemui Maricha, memaksanya untuk membantunya menculik Sita. Sebenamya, Maricha tidak mau melakukan perintah Rahwana karena ia sangat takut dengan Rama setelah Rama berhasil melempamya jauh ke laut. Namun akhimya Maricha bersedia juga membantu Rahwana, sebab kalau tidak maka Rahwana akan membunuhnya.

Untuk menjalankan rencana penculikan Sita itu, Maricha yang ahli merubah diri menjadi wujud apapun sekehendak hatinya pergi ke dekat gubuk Rama sebagai seekor rusa emas. Sita sangat tertarik ketika melihat rusa emas itu dan meminta Rama untuk menangkapnya. Rama pun segera mengejar rusa emas itu, sementara Lakshmana disumh menjaga Sita. Rama terns mengejar msa emas hingga jauh ke tengah hutan. Namun kemudian Rama mengetahui kalau sebenamya msa emas itu adalah jelmaan raksasa. Rama pun memanah msa itu hingga akhimya berabah menjadi wujud raksasa Maricha. Sebelum mati, Maricha meniru suara Rama dan berteriak, “Lakhsamana…..Sita…….tolong……..tolong…….!”

Sita yang mendengar jeritan minta tolong itu sebagai Rama, lalu mendesak Lakshmana untuk menyusul Rama, meski pun Lakshmana yakin bahwa suara itu tidak mungkin dari Rama. Tetapi karena Sita terns mendesaknya akhimya Lakshmana setuju. Sebelum berangkat, Lakshmana membuat lingkaran sihir dengan menggunakan ujung anak panahnya di sekeliling gubuk “Kakak ipar, jangan sekali-kali melewati garis yang aku buat, ” Lakshmana berpesan kepada Sita, “karena selama engkau tetap tinggal di dalam lingkaran ini, maka engkau akan aman atas perlindungan Tuhan.”

Begitu Lakshmana pergi meninggalkan Sita seorang diri, Rahwana muncul dari persembunyiannya dan menyamar sebagai seorang rsi yang datang meminta sedekah. Sita ingin menyerahkan semangkuk beras ke rsi itu tetapi ia dilarang dilewati garis sihir yang dibuat Lakshmana. Rsi itu pura-pura kecewa dan bemiat pergi. Sita tidak mau kalau rsi itu pergi dengan tangan hampa. Maka Sita pun terpaksa keluar dari garis sihir itu dan mendekati sang rsi. Segera rsi itu menangkap Sita dan memegang tangannya erat-erat sambil berkata:”Aku adalah Rahwana Raja Alengka. Ikutlah bersamaku dan jadilah ratuku.”

Rahwana memaksa Sita naik ke keretanya dan kereta itu pun terbang ke atas awan menuju kerajaan Alengka. Rama sangat terkejut kedatangan Lakshmana. Mereka berdua cepat- cepat kembali ke gubuk dan mendapati gubuk telah kosong. Mereka mencari Sita ke segala penjuru tempat namun tidak satu pun ditemukan jejak-jejak keberadaan Sita. Setelah lelah mencari kemana-mana akhimya Rama dan Laksmana menemukan seekor burung elang yang terluka parah. Burung itu adalah Jatayu, si raja elang yang juga mempakan sahabat Raja Dasharatha.

“Aku melihat Rahwana tengah menculik Sita. Aku menyerangnya, namun Rahwana memotong sayapku dan membuatku tidak berdaya. Lalu dia terbang ke selatan.” Jatayu yang sekarat menjelaskan apa yang telah teijadi padanya. Setelah mengatakan hal itu, Jatayu mati. Jasadnya dikuburkan oleh Rama dan Lakshmana.

Kemudian berangkatlah Rama dan Lakshmana ke selatan. Di tengah perjalanan, Rama dan Lakshmana diserang oleh raksasa Kabandha. Rama berhasil membunuhnya, namun sebelum mati, i Kabandha menyatakan identitasnya bahwa ia sebelumnya adalah seorang wanita cantik yang dikutuk menjadi raksasa. Kabandha meminta Rama membakar jasadnya hingga menjadi abu supaya ia bisa kembali ke wujud aslinya. Kabandha juga menasehati Rama agar pergi ke tempat raja kera, Sugriwa, yaitu di gunung Rishyamuka untuk mencari bantuan demi menyelamatkan Sita.

Dalam perjalanan ke gunung Rishyamuka, Rama dan Lakshmana juga sempat bertemu dengan Shabari, seorang wanita tua yang telah lama menunggu kedatangan Rama sebelum dia meninggalkan dunia ini untuk mencapai surga. Selanjutnya Rama dan Lajshman melanjutkan perjalana mereka ke gunung Rishyamuka. Setibanya di gunung itu, Sugriwa melihat kedatangan Rama dan Lakhmana. Sugriwa adalah saudara Subali, yaitu raja Kishkinda. Pada mulanya Sugriwa dan Subali mempunyai hubungan yang sangat baik. Tapi hubungan persaudaraan mereka berubah menjadi permusuhan ketika mereka berdua melawan seorang raksasa. Raksasa itu melarikan diri ke dalam gua, dan Subali mengejamya. Subali menyuruh Sugriwa menunggunya diluar gua. Sugriwa menunggu Subali sangat lama sehingga akhimya Sugriwa mengira Subali telah tewas di dalam gua dan dia terpaksa kembali ke kerajaan Kishkinda dengan perasaan dukacita. Di Kishkinda, Sugriwa dinobatkan sebagai raja atas permintaan para menteri kerajaan. Namun, setelah beberapa waktu kemudian Subali tiba-tiba muncul. Ia menjadi sangat murka kepada Sugriwa, “engkau mengkhianatiku. Engkau seorang penipu. Demi tahta kerajaan, engkau menipu rakyat Kishkinda dengan mengatakan kepada mereka bahwa aku telah mati.”

Subali sangat kuat. Dia mengusir Sugriwa dari Kishkinda dan merampas istrinya. Sejak saat itu, Sugriwa tinggal di gunung Rishyamuka. Kedatangan Rama dan Lakshmana diamati oleh Sugriwa dari jauh. Ia kemudian menyuruh Hanuman, teman baiknya untuk menyelidiki mereka berdua. Kepada Hnauman, Rama menjelaskan tujuannya untuk mencari Sugriwa demi meminta bantuan dalam menyelamatkan Sita. Hanuman sangat terkesan akan sikap mulia Rama dan Lakshmana. Kemudian Hanuman pun menerbangkan Rama dan Lakshman di kedua pundaknya menuju ke tempat Sugriwa. Sugriwa bersedia membantu Rama menyelamatkan Sita asalkan Rama mau membantunya membunuh Subali.

Setelah Rama berhasil membunuh Subali, Sugriwa kembali ke Kishkinda dan menjadi raja. Sebagai raja Kishkinda, Sugriwa memerintahkan bala tentaranya yang bemama pasukan Wanara untuk membantu Rama merebut Sita. Demikianlah Rama, Lakshmana, Hanuman, putera raja Sugriwa yang bemama Angada bersama pasukan wanara melanjutkan perjalan ke selatan.

Kemudian, Hanuman diminta oleh Rama terbang ke Alengka untuk memberikan cincin Rama kepada Sita. Untuk mencapai Alengka, Hanuman hams menyeberangi samudera. Hanuman adalah putera Pawana, dewa angin sehingga hanya dia sendirilah yang bisa terbang menyeberangi samudera untuk menuju Alengka. Setiba di Alengka, Hanuman mengecilkan ukuran tubuhnya, menyelinap di tengah-tengah kota Alengka hingga akhimya berhasil masuk ke dalam kerajaan Alengka. Setelah mencari-cari ke semua ruangan kerajaan, Hanuman berhasil menemukan Sita di sebuah kebun Rahwana yang bemama Ashoka Growa dengan dijaga ketat oleh para raksasi. Begitu para raksasi itu menjauh dari tempat Sita, segera Hanuman menyerahkan cincin Rama kepadanya. Hanuman meminta Sita naik ke punggungnya dan terbang melarikan diri dari alengka. Namun Sita menolak dengan berkata, “aku tidak mau kembali pulang secara diam-diam. Aku ingin Rama mengalahkan Rahwana dan mengajakku pulang dengan terhormat.”

Hanuman menyetujui keputusan Sita. Sebelum meninggalkan taman Ashoka Growa, Hanuman ingin memberi Rahwana pelajaran atas kejahatannya. Ia mengobrak-abrik taman sehingga para prajurit raksasa yang dipimpin oleh anak Rahwana, Indrajeet menangkapnya. Hanuman kemudian dibawa ke hadapan Rahwana. Di depan Rahwana, Hanuman memperkenalkan dirinya sebagai utusan Rama. Ketika Rahwana hendak membunuh Hanuman, Wibhishana yang tidak lain adalah adiknya sendiri mencegahnya, “kakak, engkau tidak boleh membunuh duta seorang raja. Lepaskan dia.”

Rahwana yang marah kemudian menyuruh prajuritnya untuk membakar ekor Hanuman. Dengan ekor yang terbakar, Hanuman memanjangkan ekomya lalu ia beplari ke seluruh kota Alengka, melompat dari atap ke atap sehingga menimbulkan kebakaran hebat di mana-mana. Kota Aleneka henar-benar dibuat kacau. Hanuman sendiri selanjutnya pergi ke laut untuk memadamkan api di ekornya, lalu terbang kembali kepada Rama.

Rama, Lakshman, dan pasukan kera telah tiba di bukit Mahendra. Bukit Mahendra terletak di sebelah kerajaan Alengka dan terpisah oleh lautan. Sementara itu, Rahwana menjadi semakin marah. Ketika ia bemiat untuk membunuh Rama saat itu juga, Wibhishana selalu berusaha mencegahnya dengan berkata,”kakak Rahwana, engkau harus segera mengembalikan Sita kepada Rama, suaminya. Mi’ntalah maaf darinya dan ciptakan perdamaian.”

Kesabaran Rahwana habis. Ia mengusir Wibhishana dari kerajaan Alengka. Setelah diusir dari Alengka, Wibhishana pergi ke bukit Mahendra untuk menemui Rama. Ia menceritakan semua kejadian di Alengka dan meminta perlindungan dari Rama. Kepada Wibhishana, Rama berjanji akan menjadikannya raja Alengka.

Baca: DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [1]

Untuk mencapai kerajaan Alengka, Rama memutuskan untuk membangun sebuah jembatan dengan bantuan pasukan kera dan perancang bangunan yang bemama Nala. Rama juga memerintahkan Wamna, Dewa laut untuk bekerjasama dengan cara mempertahankan air laut agar tetap tenang selama proses pembangunan jembatan itu. Maka semua pasukan kera bekerja keras membangun jembatan dari tumpukan batu hanya dalam waktu 5 hari. Rama, Lakshmana dan pasukan kera menggunakan jembatan itu untuk menyeberangi samudera sehingga mereka tiba di Alengka. Anggada diutus ke kerajaan Alengka sebagai pembawa pesan.

“Kembalikan Sita secara terhormat atau bersiaplah menghadapi kehancuran!” Anggada menyampaikan pesan Rama di hadapan Rahwana. Rhwana memilih perang melawan Rama.

Perang pun tak bisa terelakkan. Perang itu berlangsung sangat lama. Ribuan pasukan dari kedua belah pihak tewas dan tanah menjadi basah oleh darah. Ketika Indrajeet, anak Rahwana berhasil mengikat Rama dan Lakshmana dengan banyak ular berbisanya, Garuda sang raja burung datang menolong. Dengan bantuan Garuda, akhimya Rama dan Lakshmana bisa terbebas dari ular-ular itu. Rahwana maju ke medan perang. Dengan shakti, senjata seperti petir, Rahwana berhasil mencelakai Lakshmana. Namun segera Lakshmana dapat disembuhkan. Bersamaan dengan itu, Rama juga berhasil melukai Rahwana.

Karena kewalahan menghadapi Rama, Rahwana lalu memanggil adiknya yang bemama Kumbhakama, yaitu raksasa yang suka tidur selama 6 bulan dan mampu melahap segunung makanan. Raksasa Kumbhakama yang tingginya seperti menara tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh Rama sendiri dengan menggunakan senjata pemberian Dewa Angin. Indrajeet menyerang Rama dan pasukannya secara sembunyi-sembunyi. Ia menghujankan panah-panah saktinya sambil bersembunyi di bali awan dan membuat dirinya tidak terlihat. Akhimya, satu dari panah sakti Indrajeet mengenai Lakshmana sehingga ia nyaris mati. Sushena ahli kimia dari pasukan kera memerintahkan Hanuman untuk pergi ke bukit Gandhamadhana yang berlokasi di dekat pegunungan Himalaya untuk mencari tanaman obat sanjiwani.

Hanuman terbang menjelajahi semua tempat untuk mencari bukit Gandhamadhana. Karena tidak mengetahui lokasi tanaman obat yang dimaksud, Hanuman mengangkat seluruh gunung dan dibawanya ke Alengka. Sushena langsung mengambil tanaman obat dari gunung yang dibawa Hanuman dan akhimya dapat menyelamatkan nyawa Lakshmana.

Indrajeet dan pasukannya terns menyerang Rama dan pasukan wanara dengan berbagai tipu muslihat. Indrajeet menjelma menjadi bermacam-macam rupa termasuk sebagai Sita, guna membunuh Rama. Wibhishana memberitahukan Rama tentang rahasia kesaktian Indrajeet.

“Indrajeet selalu melakukan upacara korban sebelum menjadi sakti dan tak terlihat. Untuk itu, Indrajeet hams dibunuh sebelum ia menyelesaikan upacara korbannya.” Kata Wibhishana.

Rama memerintahkan Lakshmana dengan ditemani oleh Wibhishana dan Hanuman untuk menghancurkan upacara korban yang dilakukan Indrajeet dan membunuhnya. Lakshmana pun berhasil memenggal kepala Indrajeet.

Dengan matinya Indrajeet, Rahwana menjadi sangat sedih dan putus asa. Ia menyerbu Rama dan pasukannya. Rama menggunakan brahmastra untuk memanah jantung Rahwana sehingga Rahwana pun tewas. Setelah kematian Rahwana, Wibhishana dinobatkan menjadi raja bam di kerajaan Alengka.

Oleh: Ayu Arini
Referensi: Kalender Kementerian Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *