DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [2]

KURMA AWATARA

 

(sumber foto hindufaqs.com)

Kisah Awatara Kurma melibatkan peperangan antara para dewa dengan asura (iblis). Pada saat musim perang itu, para dewa kehilangan kekuatannya akibat kutukan seorang rsi yang cepat marah. Kejadiannya berawal dari sikap acuh Dewa Indra saat ia diberikan sebuah kalungan bunga oleh Rsi Durwasa. Dewa Indra malah membuangnya sehingga diinjak-injak oleh gajahnya, Airawata. Akibatnya, Rsi Durwasa mengeluarkan kutukan yang menyebabkan para dewa kehilangan kekuatannya. Sejak itu, para iblis dan raksasa, khususnya Bali merajalela menguasai alam semesta.

Para dewa yang diketuai oleh Indra kemudian menghadap Wisnu untuk minta pertolongan. Wisnu lalu menyumh para dewa untuk mencari tirta amerta berupa cairan nektar ajaib dengan cara mengaduk samudera susu setelah menambahkan obat ke dalamnya. Gunung Mandara akan digunakan sebagai poros untuk mengaduk samudera. Wisnu juga meminta para dewa untuk minta bantuan kepada para asura dengan perjanjian bahwa tirta amerta (nektar keabadian) yang nanti keluar akan dibagi rata, karena para dewa sudah tidak punya kekuatan lagi.

Pada waktu yang telah ditentukan, dewa-dewa dan asura mulai mengaduk samudera susu dengan menggunakan ular Basuki sebagai tali yang dililitkan pada Gunung Mandara. Dewa Indra mulai menjalankan triknya. Ia memberikan para asura bagian kepaia ular Basuki untuk dipegang sehingga bisa ular keluar dan melemahkan para asura.

Akan tetapi, saat pengadukan samudera dimulai, Gunung Mandara terns meluncur ke bawah samudera dan tenggelam. Dewa Wisnu lalu mengambil wujud seekor kura-kura maha besar dan meletakkan gunung itu di atas punggungnya sehingga tetap mengapung. Saat samudera kembali diaduk, ombak besar pun bergolak sehingga keluarlah minuman yang sangat beracun bemama Halahala. Para dewa dan asura sangat cemas dengan minuman berwama biru itu karena bisa memusnahkan semua ciptaan di muka bumi. Mereka kemudian berdoa minta bantuan kepada Shiva. Dewa Shiva pun muncul dan meminum semua Halahala itu. Shiva tidak menelannya, tapi menahannya di tenggorokannya. Akibatnya leher Shiva menjadi berwama bim. Sejak saat itu, Shiva diberi julukan Neelakantha.

Pengadukan samudera yang disebut Samudera Manthan kembali dilanjutkan. Keluarlah sejumlah hadiah dan harta karan dari dalam samudera, seperti Kamadhenu (sapi pemenuh keinginan), Laxmi (Dewi kemakmuran), Kalpavriksha (pohon pemenuh keinginan), dan Dhanvantari yang membawa semangkuk amrita dan Ayurweda (buku pengobatan). Begitu amrita itu muncul, Asura dengan cepat merampas nektar itu. Dua orang iblis bemama Rahu dan Ketu menyamar menjadi dewa dan meminum amrita itu. Dewa matahari dan bulan mengetahui kecurangan para asura tersebut lalu mengadu kepada Wisnu. Wisnu pun segera memenggal kepala kedua iblis tadi dengan senjata chakra Sudarshananya. Karena amrita belum sempa turun sampai ke perutnya, Kepala asura tetap abadi, sedangkan badannya mati. Kepala Rahu dan Ketu pun membalas dendam kepada bulan dan matahari dengan cara menelannya selama terjadi gerhana.

Dalam kitab suci Weda dan sastra-sastra Hindu kuno telah banyak disebutkan perihal penjelmaan Tuhan sendiri ke dunia yang dikenal sebagai Awatara, yang mana Awatara tersebut muncul di dunia sebanyak sepuluh kali yang dikenal sebagai Dasa Awatara. Cerita-cerita tentang Awatara juga telah banyak dijelaskan melalui berbagai media, seperti buku-buku, syair dan nyanyian, dharma wacana, maupun film. Sebut saja kisah-kisah Awatara Krishna dan Rama yang sudah sangat terkenal dalam kehidupan masyarakat dunia. Meskipun demikian, temyata tidak semua orang mengetahui bahwa Krishna dan Rama adalah jelmaan Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa orang dari masyarakat malah menganggap tokoh-tokoh Awatara tersebut sebagai manusia biasa yang Cuma kebetulan dianugerahi kemampuan supranatural dan bahkan ada juga beberapa orang yang menganggap tokoh Awatara tersebut hanyalah sebagai tokoh khayalan yang diciptakan oleh seorang ahli cerita.

Pertarungan sengit antara dewa dan iblis berlanjut. Akhimya, Wisnu mengambil wujud sebagai pelayan yang sangat cantik bemama Mohini dan menggoda para asura sehingga amrita berhasil didapatkan kembali. Karena haras mengejar gerombolan asura yang hendak melarikan diri, Wisnu terpaksa menitipkan amrita itu kepada Garuda, kendaraan sucinya. Saat itu, ada beberapa amrita yang menetes ke bumi dan menjadi Ujjain, Nasik, Allahabad, dan Haridwar. Garuda lalu menyerahkan amrita itu kepada Mohini. Akhimya para dewa berhasil meminum amrita tersebut sehingga kekuatan mereka pulih kembali. Segera setelah para dewa diberi amrita, Mohini menghilang.

WARAHA AWATARA

(sumber foto jurusapuh.com)

Pada suatu hari, Dewa Wisnu sedang beristirahat di dalam kerajaannya ketika keempat putra Dewa Brahma satang ingin mengunjunginya. Akan tetapi tepat di depan pintu gerbang istana Dewa Wisnu, keempat putra Dewa Brahma tersebut dihadang oleh dua orang penjaga Dewa Wisnu yang bemama Amar dan Vimal. Mereka tidak memperbolehkan keempat putra Dewa Brahma itu untuk rnasuk karena majikan mereka sedang beristirahat dan tidak boleh diganggu. Marahlah keempat putra Dewa Brahma itu demi menerima perlakuan dari Amar dan Vimal.

“Kalian berani menolak kami? Siapa yang melarang setiap bhakta ke kediaman Dewa Wisnu?! Kalian belum tahu akibatnya.” Kata salah satu dari keempat putera Dewa Brahma tersebut.
Maka, keempat putra Dewa Brahma mengutuk Amar dan Vimal agar dilahirkan ke bumi sebagai manusia dan kehilangan statusnya sebagai dewa.

Baca: DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia

Sesaat kemudian, Dewa Wisnu tiba di tempat kejadian lalu memintakan maaf Amar dan Vimal atas tindakan mereka yang hanya sedang menjalankan tugas. Keempat putera Dewa Brahma tersebut memberi hormat kepada Dewa Wisnu, lalu berkata: “Baiklah, Dewa. Kami akan memberi sedikit pengampunan kepada Amar dan Vimal. Kutukan itu akan hilangjika Amar dan Vimal yang sudah berwujud manusia kelak menemukan ajalnya di tangan Anda sendiri, Dewa Wisnu.”

Maka dilahirkanlah Amar dan Vimal ke bumi menjadi manusia. Mereka dikenal dengan nama Hiranyakashipu dan Hiranyaksha. Ketika mereka baru dilahirkan, dunia dan surga bergoncang sehingga menimbulkan bencanaa alam di mana- mana. Semua makhluk hidup dan para dewa pun menjadi was was.

Dewa Indra, sebagai raja para Dewa di surga menemui Dewa Wisnu.
“Baru dilahirkan saja mereka sudah membuat banyak bencana. Bagaintana pula bila mereka tumbuh dewasa nanti?” Tanya Dewa Indra.

“Jangan cemas, Indra. aku akan membinasakan mereka pada saatnya kelak sehingga tidak akan ada orang yang menderita.” Jawab Dewa Wisnu.

Tahun demi tahun berganti. Hiranyaksha tumbuh menjadi seorang pemuda. Ia adalah bhakta Dewa Brahma. Ia banyak menghabiskan waktunya dengan bertapa pada wujud Brahma. Akhimya, Dewa Brahma muncul dan memberinya anugerah. “Tidak seorang pun yang dapat membunuhmu, termasuk pada dewa, manusia, daitya, dan asura.” Begitu kata Dewa Brahma.

Akibat anugerah dari Dewa Brahma tersebut, Hiranyaksha menjadi sombong. Ia mulai memamerkan kekuatannya dan semakin yakin bahwa dirinya yang paling kuat. Hiranyaksha memutar pinggangnya ke Sana kemari dan mulai mengaduk samudera. Karena ulahnya ini, ombak samudera berguncang hebat. Dewa Baruna menjadi sangat ketakutan. la segera berusaha mencari tempat persembunyian, tapi Hiranyaksha selalu mengikutinya dan menantangnya bertarung. Dewa Baruna pun terpaksa haras mengaku kalah dan haras mengumumkan kepada dunia serta alam semesta bahwa tidak ada yang dapat menyaingi kekuatan Hiranyaksha. Dengan puasnya Hiranyaksha kini mejadi semakin sombong dan melanjutkan mengaduk samudera dan berjalan jalan dilautan.

Bertemulah Hiranyaksha dengan Narada Muni, atau Dewa Sri Narada. Ia pun bertanya kepada Dewa Sri,”Katakan kepadaku, adakah seseorang yang lebih kuat daripada aku?” “Ya, tentu saja ada. Dewa Wisnu lah yang paling kuat!” Jawan Dewa Sri.

“Tidak mungkin! Tidak ada yang bisa membunuhku, bahkan para dewa sekalipun!”
“Tidak. Dewa Wisnu adalah dewa yang paling kuat, tidak ada yang meragukannya.”
“Baiklah, aku akan mencari Dewa Wisnu dan mengalahkannya.”

Hiranyaksha mencari Dewa Wisnu ke segala arah, tapi tidak dapat menemukannya. Kemudian ia menyatukan seluruh bumi, membentuknya menjadi sebuah bola, lalu pergi ke bawah laut menuju Patala Loka demi mencari Dewa Wisnu. Para dewa menjadi sangat cemas dan ketakutan. Mereka bersama- sama menuju kediaman Dewa Wisnu dan menceritakan segala kejadian yang berlangsung.

“Dewa Wisnu, tolong selamatkan kami. Hiranyaksha tela mengambil bumi dan kini ia menghilang entah kemana.” Kata para dewa.

“Jangan cemas. Aku sudah tahu Hiranyaksha mengambil bumi dan membawanya ke patala Loka. Aku akan segera mengembalikan’bumi ke posisinya semula.” Jawab Dewa Wisnu.

Kemudian Dewa Wisnu mengambil wujud sebagai Varaha, si babi hutan dengan dua buah taring yang panjang. Semua deva memberi hormat pada wujud Dewa Wisnu tersebut. Varaha segera berangkat ke Patala Loka dan menantang Hiranyaksha untuk berperang. Hiranyaksha yang sangat marah karena ditantang itu pun langsung menyetujuinya.

Dalam peperangan, Hiranyaksha menggunakan banyak senjata untuk menggempur Varaha. Tapi senjata-senjata tersebut seolah tidak memberi pengaruh apa-apa pada Varaha. Sebaliknya, Hiranyaksha lah yang terluka parah. Pada waktu yang paling khusus itu, Varaha barubah menjadi Dewa Wisnu. Dewa Wisnu kemudian mengarahkan cakranya ke Hiranyaksha. Senjata Dewa Wisnu itu langsung memenggal kepala Hiranyaksha hingga iblis tersebut menemui ajalnya.

Dewa Wisnu kembali berubah menjadi Varaha. Ia mengambil bumi dan meletakkannya di atas kedua taringnya. Varaha kemudian meninggalkan Patala Loka melalui samudera. Sesaat kemudian, Varaha berhasil meletakkan bumi ke tempatnya semula. Ia lalu berubah menjadi Dewa Wisnu kembali. Para dewa bersorak gembira. Mereka memuji kehebatan Dewa Wisnu setelah mendengar kabar yang menggembirakan tersebut.

WAMANA AWATARA

(sumber foto vikhramaditya’s blog)

Setelah pengadukan samudera, para dewa menjadi abadi dan kuat. Prajurit Dewa Indra berhasil mengalahkan Daityaraja Bali dan pasukannya, termasuk para asura dan daitya. Sebuah kemenangan yang membanggakan bagi para dewa, tetapi merupakan sebuah pukulan dan hinaan bagi Daityaraja Bali.

Hingga pada suatu hari, Daityaraja Bali pergi menemui Rsi Sukracharya dan bertanya, “Acharya, saya mohon bantuan Anda.”

“Hal apa yang membuatmu risau, Bali?” Tanya Rsi Sukracharya.
“Tolong tunjukkan pada saya bagaimana caranya untuk mengembalikan kekuatan dan kerajaan saya yang telah musnah.”

Rsi Sukracharya menjawab, “Kamu harus melakukan Mahabhisheka Wihwajeeta Yagya jika ingin mengembalikan semua kekuatanmu.”

Daityaraja Bali setuju dengan saran Rsi Sukracharya untuk menggelar yagya dibawah pengarahan sang rsi. Setelah yagya selesai dilakukan, Daityaraja Bali memperoleh sebuah kereta kuda keemasan yang ditarik oleh empat ekor kuda yang bisa berlari secepat angin. Ia juga memperoleh sebuah busur dengan banyak anak panah, sebuah bendera bergambar kepala singa dan juga mendapat malaikat. Bersamaan dengan itu, Rsi Sukracharya menganugrahkan sebuah kalungan bunga yang sedang mekar dan sebuah kulit kerang yang bersuara seperti gemuruh.

Segera setelah memperoleh kembali kekuatannya dan banyak mendapat senjata, Daityaraja Bali pergi bertempur melawan Dewa Indra. Dalam perang ini, Dewa Indra berhasil ditaklukkan oleh Daityaraja Bali.

Daityaraja Bali kembali meminta panduan kepada Rsi Sukracharya untuk mempertahankan kekuatannya itu.

“Jika kamu tetap melakukan yagya, kamu akan hidup tenang, tanpa ketakutan dan hidup penuh kekuatan. Tapi, kamu juga haras member sedekah kepada orang-orang miskin dan para pertapa.” Kata Rsi Sukracharya. Daityaraja Bali menyanggupi semua arahan dari sang rsi.

Sementara itu, Dewa Indra menemui Acharya Brihaspati untuk belajar cara mengembalikan kekuatan kedewataannya. “Pergilah menemui Dewa Wisnu. Mintalah tolong kepadaNya.” Demikian kata Acharya Brihaspati. Dewa Indra segera menurati saran Acharya Brihaspati. la mulai bertapa agar menyenangkan hati Dewa Wisnu.

Sementara itu, istri Maharsi Kashapa, yang juga ibu dari Dewa Indra, merasa sangat cemas mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh puteranya. Istri Maharsi Kashapa yang bemama Aditi segera pergi menemui Dewa Wisnu untuk memohon pertolongan.

“Tenanglah, ibu. Aku pasti akan menolongmu. Aku akan lahir sebagai puteramu dalam waktu dekat ini. Akulah yang kemudian akan membunuh Bali.” Kata Dewa Wisnu.

Apa yang diucapkan Dewa Wisnu akhimya benar-benar terjadi. Aditi melahirkan seorang bocah laki-laki. Bocah itu diberi nama Wamana.

Pada suatu hari, Wamana menyamar sebagai seorang brahmana. Ia pergi ke kediaman Rsi Sukracharya dan Daityaraja Bali yang sedang melakukan yagya. Daityaraja Bali menyambut brahmana muda itu sambil berkata, “apa yang bisa aku bantu, brahmana muda? ”

“Aku sudah mendengar kabar bahwa Anda telah banyak memberi sedekah pada para brahmana,” jawab sang brahmana muda, “aku tidak menginginkan harta dan perhiasan. Aku hanya ingin meminta tanah seluas tiga langkah kakiKu saja. ”

Semua orang yang berada di sana terkejut mendengar permintaan aneh sang brahmama muda. Daityaraja Bali tersenyum dengan sombongnya. Ah, hanya tanah seluas tiga langkah kaki yang diminta sang brahmana. apa sih susahnya? Demikian yang ada di benak Bali. Tapi Daityaraja Bali memenuhi permintaan sang brahmana muda itu.

Tiba-tiba brahmana muda itu mulai berabah menjadi sangat besar sehingga membuat orang-orang terkejut bukan main. Dalam waktu sekejap, brahmana itu telah memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar daripada bumi. Ia mengayunkan kakiNya satu langkah, lalu berkata, “sekarang bumi adalah milikKu.”

Kemudian brahmana muda itu mengayunkan kakiNya selangkah lagi dan menapakkan kakiNya itu di Amrawati, ibu kota Surgaloka. “Sekarang Amrawati adalah milikKu,” kata brahmana muda itu. Para dewa bersorak penuh kegembiraan.

“Bali, di mana sebaiknya langkah kakiKu yang ke tiga diletakkan? Bumi dan surge telah menjadi milikKu. Sekarang tidak ada lagi tempat yang tersisa,” kata brahmana muda itu.

Semua yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi ngeri sekaligus takjub. Bagaimana mungkin seorang brahmana muda bisa berubah menjadi sangat besar dan sakti mandra guna. Bahkan, Ia telah menguasai segala-galanya!

Sukracharya segera mendekati Daityaraja Bali, sembari berkata, “hati-hati, Bali. Aku snagat yakin kalau brahmana ini bukanlah bocah biasa.”

“Apa maksud Anda, Rsi?” Tanya Daityaraja Bali.
“Dia sebenamya adalah Wamana, jelmaan Dewa Wisnu sendiri.”
“Lalu apa yang haras saya lakukan?”
“Jangan biarkan Ia melangkahkan kakiNya untuk ke tiga kalinya, atau kamu akan kehilangan segalanya.”

Akan tetapi Daityaraja Bali telah menyadari kekalahannya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa.
“Acharya, aku telah berjanji akan mengabulkan permintaannya. Kata-kataku tidak dapat kutarik lagi.” Kata Bali.

Para asura dan daitya yang mendengar itu segera melangkah maju dan melawan Wamana. Namun, senjata dan kesaktian mereka tidak dapat mengalahkan Wamana, sang brahmana muda. Akhimya Daityaraja Bali bersera, “karena sudah tidak ada lagi tanah yang tersisa, silahkan melangkah yang ketiga dan injakkan kaki Anda di atas kepala saya!”

Mendengar ucapan Daityaraja Bali, brahmana muda itu benar-benar menapakkan kakiNya di atas kepala Bali sebagai langkah kakiNya yang ke tiga. Kemudian, Dewa Wisnu pun menampakkan diri. Wamana berubah menjadi Dewa Wisnu, sosok dewa bertangan empat.

“Aku memberkatimu, Bali. Mulai dari sekarang, Aku menganugrahimu kekuasaan. Engkau akan menjadi penguasa di Patala loka untuk selamanya. ” Kata Dewa Wisnu.

Setelah memberi hormat pada Dewa Wisnu, Daityaraja Bali lalu berangkat menuju Patala loka. Sementara itu, para dewa, termasuk Dewa Indra kembali ke Amrawati sesuai perintah Awatara Dewa Wisnu.

NARASIMHA AWATARA

(sumber foto ceritadewata.blogspot.co.id)

Masihkan Anda ingat dengan Hiranyakasipu? Ya, dia adalah saudara Hiraksha. Sebenamya, dua bersaudara ini adalah dua orang penjaga di kediamana Dewa Wisnu yang dikutuk oleh empat putera Dewa Brahma sehingga mereka dilahirkan ke bumi menjadi Hiranyakasipu dan Hiranyaksha.

Begitu Hiranyakasipu mendengar kabar kematian Hiranyaksha, ia menjadi sangat marah dan bertekad untuk balas dendam. Segera ia mengadakan pertemuan dengan para asura dan daitya. Dalam pertemuan itu, ia mengambil keputusan bahwa ia bersumpah akan membunuh Dewa Wisnu.

Demi memulai rencananya itu, Hiranyakasipu memerintahkan pasukannya untuk mengganggu ketenteraman para orang suci. Pasukan Hiranyakasipu pergi dan membunuh setiap pertapa, brahmana dan bhakta. Terjadilah petaka di segala penjuru dunia. Para asura dan daitya berkeliaran di mana- mana. Mereka membunuh para orang suci, menghancurkan dan membakar asrama-asrama para pertapa.

Hiranyakasipu sendiri pergi ke Mandranchala Parwata untuk bertapa. la berdiri di atas satu jempol kaki kanannya dengan kushuk untuk meluluhkan hati Dewa Brahma. Setelah lama bertapa dalam posisi seperti itu, akhimya Dewa Brahma menampakkan diri. Hiranyakasipu sangat senang dan berkata, “oh, Dewa. Bermurah hatilah pada saya.”

“Kamu sudah bertapa sangat keras. Kamu berhak mendapat anugrah dariKu. Apa yang kau inginkan?” Tanya Dewa Brahma.

“Dewa, berikanlah saya anugrah dimana saya tidak akan bisa mati di tangan manusia, daitya, asura, bahkan dewa. Dan, jika Anda memang senang dengan pertapaan saya, anugrahkanlah saya kekuatan dimana tidak ada alat atau senjata apapun yang akan bisa membunuh saya. Anugrahkan saya dimana saya tidak dapat dibunuh baik siang maupun malam. Saya juga tidak akan dapat mati di tanah dan di langit.”

“Dikabulkan,” jawab Dewa Brahma dan lalu menghilang.

Baca:  Hari Suci Purnama Kaitannya dengan Kehidupan Manusia

Kini, Hiranyakasipu merasa yakin pada kekuatannya karena ia telah dianugrahkan keabadian oleh Dewa Brahma. Maka, Hiranyakasipu mengumumkan pada setiap orang bahwa siapapun yang memuja Dewa Wisnu, apalagi ketahuan melakukan pemujaan kepada Wisnu akan dibunuh. Semua orang menjadi was-was akan pengumuman dari Hiranyakasipu yang sakti itu.

Diceritakan Hiranyakasipu memiliki empat orang putera dimana putera bungsunya bemama Prahlada. Kepribadian Prahlada sangat berbeda daripada ketiga kakaknya. Ia adalah anak yang sangat baik sekaligus bhakta Dewa Wisnu. Keempat putera Hiranyakasipu dijaga dan diajar oleh dua orang putera Maharsi Sukracharya yang bemama Acharya Shanda dan Acharya Amarka.

Pada suatu hari, Acharya Shanda dan Acharya Amarka pergi menemui Hiranyakasipu dan berkata, “Tuanku, puteramu tidak mau menuruti apa yang kami ajarkan kepadanya. Sepanjang waktu dia sibuk mengulang-ulang nama Dewa Wisnu.”

“Apa? Puteraku yang mana?” Tanya Hiranyakasipu.
“Prahlada, tuanku.”

Maka, segera Hiranyakasipu menemui Prahlada dan menanyai kenapa Prahlada selalu mengulang-ulang nama Wisnu, musuh besamya.

“Anakku, kenapa kau selalu menyebut nama Wisnu? Siapa dia?” Hiranyakasipu bertanya.
“Ayah, Dewa Wisnu adalah pelindung dari seluruh alam semesta. Itulah sebabnya saya memuja Dewa Wisnu. Saya tidak bisa mengikuti orang lain yang mengikuti perintah ayah untuk memuja ayah.” Prahlada menjawab.

“Berani sekali kau menentangku! Hiranyakasipu berang. Ia lalu memerintahkan pendeta istana untuk mengawasi Prahlada agar berhenti memuja Dewa Wisnu. Tapi semuanya sia-sia. Prahlada tetap memuja Dewa Wisnu dengan penuh rasa bhakti. Malahan, murid-murid pendeta di asrama justru terpengaruh dan ikut memuja Dewa Wisnu.

Hiranyakasipu kembali bertanya pada Prahlada dengan marah.

“Anakku, siapa yang paling kau sukai, siapa idolamu?”
“Dewa Wisnu, Sang Pelindung,” jawab Prahlada dengan mantap.
“Siapa yang paling kuat di dunia dan alam semesta
ini?”
“Tentu saja Dewa Wisnu. Sang Pelindunglah yang paling kuat.”

Hiranyakasipu benar-benar tidak dapat menahan emosinya. la kehilangan kesabarannya. Maka, disuruhlah seorang penjaga untuk meracun Prahlada. Penjaga itu menghidangkan secangkir minuman berisi racun kepada Prahlada. Akan tetapi, begitu Prahlada meminumnya, tidak terjadi apa-apa padanya. Semua orang yang mengetahui hal itu menjadi sangat takjub.

Kemudian, Hiranyakasipu memerintahkan penjaganya untuk mengikat Prahlada pada sebongkah batu besar lalu melemparkan tubuh Prahlada ke samudera. Dan memang begitulah yang terjadi. Prahlada yang telah memiliki kepasrahan total kepada Dewa Wisnu dilemparkan ke dalam lautan dalam keadaan terikat pada batu besar. Namun sekali lagi mukjizat terjadi. Tali yang mengikat tubuh Prahlada tiba- tiba terlepas, dan Prahlada pup berjalan keluar dari dalam samudera sambil mengulang-ulang nama Dewa Wisnu.

Pada kesemnatan yang lain Prahlada dipaksa duduk di atas tumpukkan kayu yang terbakar. Tapi ajaib, begitu nyala api menjilat tubuhnya, api itu mendadak padam. Prahlada tetap duduk dengan tenang ditumpukkan kayu sambil menyebut nama Dewa Wisnu.

Akhimya Hiranyakasipu benar-benar marah. Ia sudah tidak memandang Prahlada sebagai puteranya, melainkan sebagai musuhnya. Prahlada diikatnya pada sebuah pilar.

“Sekarang lihatlah, aku sendiri yang akanmenghabisimu sekarang juga. Apakah dewamu itu bisa menolongmu kali ini?” Hiranyakasipu bertanya lalu mengambil sebuah pedang dan bersiap-siap menebas kepala Prahlada. Tanpa rasa gentar sedikit pun, Prahlada terus menyebut nama Dewa Wisnu.

“Mampus kau!” Hiranyakasipu menyayunkan pedangnya.

Tapi mendadak bumi bergetar hebat, pilar itu terbelah, hancur berkeping-keping. Lalu sesosok makhluk aneh muncul dari dalam pilar itu. Dialah Awatara Narasimha. Ia memiliki kepala singa tetapi berbadan manusia.

Narasimha menyergap Hiranyakasipu dan meletakkannya di atas pangkuanNya.
“Siapa pun kamu, kamu tidak akan bisa niembunuhku. Aku sudah mendapat anugrah dari Dewa Brahma.” Hiranyakasipu berteriak angkuh.

Narasimha mengaum begitu mengerikan.

“Hari ini bukanlah siang maupun malam, tapi senja hari. Aku bukanlah manusia, dewa, asura, ataupun daitya. Aku sedang tidak menggunakan senjata apapun untuk membunuhmu. Aku menggunakan kuku-kukuKu yang tajam untuk membinasakanmu. Aku tidak membunuhmu di tanah maupun di langit, tetapi di atas pangkuanKu. Dengan begitu, Aku bisa membunuhmu, tanpa menunjukkan penghinaan terhadap anugrah Dewa Brahma.” Kata Narasimha.

Kemudian Narasimha mencabik-cabik tubuh Hiranyakasipu dengan cakarnya hingga iblis itu menemui ajalnya.

Oleh: Ayu  Rini
Referensi: Kalender Kementerian Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *