DASA AWATARA: Sepuluh Inkarnasi Tuhan Turun ke Dunia [1]

Yadā-yadā hi dharmaya,
Glanir bhavati Bharata
Abhyutthānam adharmasya
Tada ‘tmanam srijamy aham

(Bhagavad Gita, IV.7)

Artinya:
Manakala dharma (kebenaran) akan sirna, dan adharma (kejahatan) hendak merajalela saat itu, wahai keturunan Bharata, Aku (Tuhan) sendiri turun menjelma.

 

(sumber foto scoopwhoop.com)

Dalam beberapa pustaka suci Veda dinyatakan bahwa, Tuhan turun ke dunia dan menjelma sebagai berbagai tingkat kehidupan, mulai dari wujud binatang hingga wujud manusia demi melakukan tugas menegakkan dharma (kebenaran). Turunnya Tuhan ke dunia dalam wujud nyata ke dunia tersebut dikenal dengan sebutan Awatara.

Dalam kisah Purana di India Kuno, kisah Awatara diterima sebagai cerita yang paling penting dari kebudayaan Veda. Cerita tentang Awatara mengandung kisah-kisah Dewa Wisnu yang merupakan fungsinya sebagai pemelihara alam semesta dalam Tri Murti yang juga melibatkan Dewa Brahma sebagai pencipta, dan Dewa Siwa sebagai pelebur. Demi melaksanakan peran-Nya fungsinya atas alam semesta, Dewa Wisnu secara bertahap mengikuti perkembangan evolusi dan penjelmaan ke dunia dengan mengambil suatu wujud tertentu.

Turunya Tuhan ke dunia dengan wujud tertentu diuraikan dengan sangat jelas dalam Veda seperti yang tertuang dalam Bhagavad Gita, IV.7 di atas. Sloka tersebut diungkapan Krishna kepada Arjuna ketika berada di meda perang Kuruksetra. Sri Krishna merupakan awatara Dewa Wisnu yang ke-8 yang bertugas menegakkan kebenaran di jagat raya ini.

Dalam sloka Bhagavad Gita IV.8 dijelaskan kembali kenapa Tuhan mewujudkan dirinya turun ke dunia:

Paritrānāya sādhūnām
Vināsāya cha dhuskrtitām
Dharma samsthāpanārthāya
Sambhavāi yuge-yuge

Artinya:
Demi melindungi orang suci (orang bebuat dharma) dan untuk memusnahkan kejahatan (adharma) demi menegakkan kebenaran (dharma). Aku (Tuhan) lahir dari zaman ke zaman.

Baca: Hari Suci Purnama Kaitannya dengan Kehidupan Manusia

Kedua sloka di atas adalah fakta membuktikan bahwa Awatara memang benar-benar ada. Tuhan sendiri telah berinkarnasi ke dunia kapanpun dan dimanapun jika kejahatan merajalela. Veda juga memberi penjelasan tentang inkarnasi Tuhan bahwa Ia akan turun ke dunia hanya untuk melindungi yang sibuk dalam pelayanan tanpa pamrih, yang telah menghilangkan sifat ego, yang melakukan pekerjaan mulia, yang rela menempuh bahaya demi menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan, dengan semangat pesan persaudaraan di mana Tuhan Tuhan merupakan Ayah dari alam semesta.

Dewa Wisnu dengan fungsinya sebagai pemelihara alam semesta memiliki tugas untuk melindungi dan mempertahankan semua hal yang baik-baik di duni ini. Ini bukanlah tugas yang mudah sehingga Wisnu muncul dalam inkarnasi-inkarnasi yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda pula, mengikuti sejarah dunia. Disebutkan bahwa Dewa Wisnu turun ke dunia dengan sepuluh wujud yang berbeda yang dikenal dengan Dasa Awatara. Berikut penjelasannya:

MATSYA AWATARA

(sumber foto ekawiranatha.blogspot.com)

Pada zaman Satya Yuga, hiduplah seorang raja bernama Manu. Manu adalah seorang pemuja Wisnu yang sangat taat dan memiliki keinginan yang sangat kuat agar bisa melihat Dewa Wisnu secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Untuk itu, Raja Manu telah melakukan pertapaan yang sangat keras selama ribuan tahun demi menarik perhatian Dewa Wisnu. Saat itu Satya Yuga menjelang berakhir dan banjir maha besar akan melanda dunia untuk menhancurkan semua bentuk zaman berikutnya.

Dewa Brahma selaku dewa pencipta telah selesai melakukan tugasnya yakni menciptakan bentuk-bentuk kehidupan baru untuk mengisi dunia di zaman selanjutnya. Dewa Brahma begitu lelah setelah seharian melakukan penciptaan hingga akhirnya tidur pulas. Ketika Dewa Brahma tengah tidur, sosok raksasa bernama Hayagriwa keluar dari hidungnya. Raksasa Hayagriwa segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri ilmu pengetahuan Veda dari Dewa Brahma. Hayagriwa kemudian memusatkan pikirannya dan menyerap ilmu pengetahuan Veda itu. Setelah berhasil mendapatkan Veda, raksasa Hayagriwa bersembunyi jauh di dasar semuadera agar tidak seorang pun dapat menemukannya.

Akan tetapi Dewa Wisnu menyaksikan semua tindakan Hayagriwa. Ia merasa khawatir, sebab jika ilmu pengetahuan Weda dicuri oleh raksasa maka Weda tidak akan bisa dibawa ke zaman berikutnya yang sebentar lagi akan tiba. Sebagai dewa pemelihara, sudah menj adi kewajiban bagi Dewa Wisnu untuk memastikan bahwa Weda tetap bertahan hingga zaman baru tiba. Di tengah kebingungan untuk mengambil sikap, Dewa Wisnu menemukan Manu yang sedang melakukan pertapaan. Dewa Wisnu tersenyum menyadari bahwa la akan dapat menyelesaikan lebih dari sekedar menyelamatkan ilmu pengetahuan Weda.

Pagi berikutnya, Manu pergi ke sungai untuk melakukan pemujaan. Dia meraup air dengan kedua tangannya dan mempersembahkannya kepada Dewa Wisnu, dewa pujaannya. Manakala ia hendak menuangkan air itu ke sungai, mendadak didengamya suara lemah dari tangannya, “oh raja yang agung, Aku mohon jangan kembalikan Aku lagi ke sungai. Ada banyak sekali ikan-ikan besar di sini yang ingin memakanKu.”

Raja Manu sangat terkejut melihat ke arah tangannya. Di telapak tangannya terdapat seekor ikan kecif yang berenang ke sana-kemari sambil terns memohon agar ia tidak dikembalikan ke sungai. Raja Manu pun merasa iba. Sebagai seorang raja, melindungi siapa pun yang meminta bantuan adalah sebuah kewajiban. Raja Manu akhimya mengangguk dan kemudian meletakkan ikan kecil itu ke dalam kamandalam miliknya. Kamandalam adalah kendi kecil yang biasa dibawa oleh para resi sebagai wadah penyimpanan air. Setelah itu, Manu pun memulai pertapaaanya hingga matahari terbenam.

Pada malam hari sepulangnya dari melakukan pertapaan, Manu meninggalkan ikan kecil itu tetap di dalam kamandalam untuk pergi tidur. Keesokan paginya, ia dibangunkan oleh suara panggilan ikan itu dari dalam kamandalam. Kali ini suara ikan itu bertambah keras, “oh raja tolonglah Aku. Kamandalam Anda menekanKu. Aku tidak bisa bemapas di dalam sini. ”

Sangat kaget Raja Manu ketika melihat ikan itu telah berubah membesar di dalam kamandalamnya. Ikan itu mendorong-dorong sisi kamandalam yang sudah tidak muat lagi baginya. Raja Manu cepat-cepat berlari mengambil wadah yang lebih besar. Ikan itu pun ia pindahkan ke wadah yang lebih besar itu.

“Terima kasih, raja yang baik hati.” Ikan itu berkata lega. Raja Manu tersenyum dan hendak bersiap untuk pergi ke tampat pertapaan. Namun tiba-tiba Raja Manu kembali dikejutkan oleh suara ikan tadi di belakangnya.

“Raja, wadah ini terlalu kecil untukKu. Tolong carikan Aku wadah yang lebih besar.” Ikan itu berkata.

Raja Manu melihat ikan itu telah berubah semakin membesar hanya dalam hitungan menit. Ikan itu megap- megap di dalam wadah yang kini benar-benar tidak muat untuknya. Raja Manu kembali mengambilkan wadah yang lebih besar untuk sanga ikan. Akan tetapi hanya dalam beberapa menit saja ikan tersebut lagi-lagi membesar sehingga Raja Manu harus berkali-kali mengambilkan wadah yang ukurannya sesuai dengan ukuran tubuh sang ikan.

Setelah berulang kali demikian, akhimya Raja Manu menyadari bahwa tidak ada lagi wadah yang dapat menampung ikan ajaib itu di rumahnya. “Maafkan aku, ikan. Sekarang tidak ada lagi wadah yang cukup besar untuk menampungmu. Lebih baik aku membawamu ke sungai saja,” kata Raja Manu sambil serta merta membawa ikan itu ke sungai.

Di sungai, ikan itu dilepaskan. Namun, dengan cepat ikan itu kembali bembah membesar. Semakin besar dan semakin besar sehingga badannya memenuhi sungai itu. “Oh, raja yang baik hati. Lihatlah, sekarang bahkan sungai ini pun terlalu kecil untukKu.” Ikan itu berkata.

Dengan segala upaya Manu memindahkan ikan besar itu dari sungai ke sungai hingga akhimya ia memutuskan untuk melepaskannya ke laut karena sudah tidak ada lagi sungai yang bisa menampungnya.

Baca: Kompetisi Arjuna dan Karna

Dilaut itu, Raja Manu tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya menyaksikan pertumbuhan ikan itu yang snagat pesat. Hanya dalam sekejap, ikan itu telah mencapai ukuran maksimalnya hingga menjadi seekor ikan raksasa. Ikan raksasa itu telah memenuhi satu sisi dari luasnya samudera. Saat itulah muncul sinar dari badan sang ikan raksasa dan dari kepalanya, muncul dua tanduk raksasa. Raja Manu bersujudi di hadapan sang ikan,“Narayana, Anda adalah Narayana, Tuhanku.”

“Ya, kau benar,” ikan itu menjawab, “engkau telah lama melakukan ritual dan pertapaan demi bisa melihatKu. Dan sekarang inilah Aku. Telah muncul dihadapanmu.”

“Tuhan, Engkau telah mengabulkan permohonanku. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Sekarang apa yang Engkau ingin aku lakukan? ”

Dewa Wisnu dalam wujud ikan raksasa itu menjawab, “Manu, yuga (zaman) sebentar lagi akan berakhir hingga tujuh hari ke depan. Akan ada banjir maha besar yang melanda dunia dan memusnahkan semua makhluk hidup di bumi ini. Untuk itu, Aku ingin agar engkau membuat sebuah kapal besar. Bawalah bibit-bibit dari semua jenis tanaman, masing-masing sepasang binatang yang jantan dan betina dari setiap jenisnya, dan ketujuh resi (Sapta Rsi) beserta keluarga mereka. Dan, jangan lupa untuk mengajak pula Wasuki., si ular dewa.”

Raja Manu mengangguk dan mulai melakukan apa yang apa diperintahkan oleh sang ikan raksasa. Ikan raksasa penjelmaan Dewa Wisnu inilah yang dikenal sebagai Awatara Matsya.

Sementara itu, Matsya sang ikan raksasa juga mulai melakukan tugasnya. Ia berenang di dalam samudera dan menemukan raksasa Hayagriwa yang saat itu sedang menjaga ilmu pengetahuan Weda. Melihat ikan raksasa muncul di depannya, Hayagriwa gemetar ketakutan. Belum sempat Hayagriwa berpikir untuk melarikan diri, ikan raksasa itu telah menyerangnya. Kekuatan sang ikan demikian dasyat sehingga satu kali pukulan dengan ekorNya saja telah membuat Hayagriwa terlempar jauh. Namun Hayagriwa tidak tinggal diam. Ia berusaha melawan sang ikan raksasa. Akan tetapi kiranya Hayagriwa bukanlah saingan yang tepat untuk menandingi kekuatan Matsya. Dalam beberapa saat kemudian, Hayagriwa pun meregang nyawa. Segera setelah kematian Hayagriwa, ilmu pengetahuan Weda terlepas dan kembali ke kediaman Dewa Brahma.

Di tepi laut yang lain, Manu sibuk membuat kapal besar. Setelah kapal selesai dibuat, Manu mengajak ketujuh resi dan keluarga mereka, berbagai jenis binatang dan tanaman. Kemudian turunlah hujan deras yang meyebabkan ketinggian air laut semakin meningkat. Segera setelah itu, datanglah banjir besar. Banjir itu melanda seluruh dunia. Kapal Manu terombang ambing di tengah tingginya air laut, namun Raja Manu dan yang lainnya dengan sekuat tenaga berusaha mengendalikan kapal itu agar kapal itu tidak terguling atau tenggelam sambil bertahan pada keyakinan mereka bahwa Tuhan Wisnu akan selalu melindungi mereka.

Kemudian ikan raksasa itu muncul di tengah samudera. Di tengah gemuruh badai dan hujan deras, ikan itu bersuara lantang: “Manu, gunakan ular naga Wasuki sebagai tali. Ikatkan Wasuki pada tandukKu ke kapalmu.”

Wasuki pun diikatkan pada kapal dan tanduk ikan raksasa. Ikan itu menarim kapal Raja Manu menyeberangi samudera yang tengah dilanda badai dengan ular naga Wasuki sebagai talinya. Selama perjalanan, sang ikan raksasa mengajarkan ilmu pengetahuan Weda kepada Manu dan yang lainnya. Setelah itu, hujan mulai reda dan badai pun berlalu. Badai itu telah menyapu bersih seluruh dunia.

Ikan raksasa mengantarkan kapal Manu ke gunung Himawan. Di gunung itulah Manu dan semua penumpang kapalnya melanjutkan kehidupan

mereka untuk menyongsong zaman yang baru.
(Bersambung)

Oleh: Ayu Rini
Referensi: Kalender Kementerian Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *