Bhima Bertemu Hanoman

Pada saat Arjuna sedang bersama Dewa Indra, para Pandawa menghabiskan waktunya di hutan Kamyaka. Karena ketidakhadiran Arjuna sering menyebabkan terjadinya kesulitan pada mereka dan ketika orang suci Bhagavan Brihadavasha mengunjungi Pandawa, Yudhishthira menyampaikan keluh kesahnya kepada sang Bhagavan:

 

 (sumber foto merdeka.com)

“Apakah ada yang lebih tidak beruntung dibandingkan diriku? Apakah seseorang pernah mendengar ketidakberuntungan yang begitu parah seperti yang aku alami? Aku adalah orang yang paling tidak berguna dan paling memalukan di muka bumi.”

Brihadavashva menceritakan tentang kisah Prabu Nala dan Damayanti cepada Yudhishthira, dan setelah selesai bercerita, lalu ia berkata:

“Apa gunanya menyesali diri? Kisah tentang ketidakmujuran Prabu Nala jauh melebihi semua ketidakmujuran orang-orang lain. Dan juga engkau masih dihantui ketakutan lain dalam hidupmu engkau tidak punya keahlian dalam bermain dadu — Aku akan mengajarkan kepadamu semua hal yang engkau mesti ketahui tentang permainan ini.”

Setelah mengajarkan pengetauan tentang seni dari bermain dadu kepada Yudhishthira, Brihadashva kemudian meninggalkan Pandawa.

 
Berbekal informasi Brahmana yang lain dan para peziarah, Yudhishthira mengetahui bahwa Arjuna sedang melakukan praktek pertapaan yang ketat dan keras, tidak makan apapun selama berbulan-bulan hanya mendapatkan energi udara. “Tanpa Arjuna,” katanya dalam hati,” tidak ada apapun yang menyenangkan hatiku. Tanpa kehadiran Arjuna yang berkulit biru, bahkan kecantikan hutan Kamyaka tampak memudar.”

“Marilah kita tinggalkan hutan ini,” kata Sahadewa, “dan kita bergerak ke hutan yang lain.”

Ditemani oleh sekelompok Brahmana, mereka melakukan ziarah ke tempat-tempat suci, melintasi banyak pegunungan, sungai-sungai, kota-kota, dan hutan-hutan, mencelupkan kedua tangan mereka di banyak air-air suci, sampai mereka tiba di sumber sungai Ganga, sungai suci Alakananda, di mana sungai suci ini terjun dari sorga jatuh di gelungan rambut Dewa Shiva. Di tempat ini mereka melakukan pemujaan, dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Baca: Manusia Bayangan

Menjadi sangat lelah karena tidak terbiasa berjalan kaki begitu jauh, Draupadi jatuh pingsan setelah berjalan beberapa kilometer; kedua pahanya yang indah saling menekan satu sama lain untuk menyokong tubuhnya, ia membungkuk dan jatuh ke tanah. Melihat Draupadi lunglai seperti tanaman rambat, Nakula lari membantu Draupadi. Yang lain bergegas menghampirinya. “Draupadi terbiasa tidur di tempat tidur yang bagus dan ruangan yang mewah diistana kita. Sekarang, karena kebodohanku, ia terbaring di atas tanah, wajahnya yang lembut selembut bunga teratai menjadi berwama kebiruan akibat lelah dan stress.

Sadar kembali karena hembusan angin dari kipas daun palem serta tiupan embun yang lembab, Draupadi membuka matanya. Mereka membaringkan Draupadi di atas kulit rusa, dan si kembar Nakula-Sahadewa mulai memijat-mijat kaki Draupadi yang dihiasi oleh hiasan hena dengan kedua tangan mereka yang kasar dan penuh goresan akibat gesekan tali busur panah.

“Masih banyak gunung yang harus dilewati di depan kita,” kata Yudhishthira kepada Bhima. “Bagaimana caranya Draupadi bisa melaluinya?”

“Jika engkau mau, aku akan menggendongmu kakanda di atas punggungku, dan juga si kembar Nakula-Sahadewa, termasuk juga Draupadi. Atau, tetap akan lebih baik, jika engkau memberikan ijin, maka aku akan memanggil putra-ku yang perkasa Ghatotkacha dan teman-teman raksasanya untuk menggendong kita semua.”

Seketika saat Bhima memanggil putranya Ghatotkacha melalui pikiran, Ghatotkacha langsung muncul di hadapannya, dan menggendong Draupadi sementara para rakshasa yang lain menggendong para Pandawa. Dengan cara ini mereka melalui berbagai kawasan pegunungan dengan begitu mudah, menyaksikan gunung Kailasa yang suci, di sebelahnya terdapat Ashram dari Dewa Brahma, di mana kembang-kembang dan buah-buahan surga bermekaran dan tumbuh subur.

Di tempat tersebut mereka melihat pohon “jujube” yang batangnya bulat. Subur, berdaun lebat, dan sehat, dahan-dahannya sangat besar, lebar dan meluas, serta mengkilap pohon itu sedang berbunga dan berbuah manis semanis madu.

Sangat bahagia, mereka tinggal di tempat ini selama enam malam, bahagia karena Draupadi juga senang, dan menunggu kedatangan kembali Arjuna.

Pada hari keenam, angin berhembus dari timur laut, membawa sebuah bunga teratai berhelai seribu yang bersinar seterang matahari Draupadi melihat bunga itu tergeletak di tanah.

“Lihat, Bhima, lihatlah pada teratai ajaib tersebut, sumber semua wewangian. Aku akan memberikannya kepada Yudhishthira. Ambilkan lebih banyak lagi Bhima.”

Sangat ingin untuk menyenangkan Draupadi, Bhima bergegas bergerak ke utara, menerjang angin, seperti seekor singa yang sedang marah, atau seekor gajah yang sedang terusik, membawa busur keemasan dan anak-anak panah yang tajam Tidak kenal takut, tidak kenal lelah, pikiran terfokus.

Mendaki perbukitan, Bhima mencapai dataran tinggi, kaya dengan pepohonan yang indah, saat ia melangkah, Bhima mendengar nyanyian dari burung Kokila jantan. Dan dengungan lebah-lebah, wajahnya terterpa harumnya wangi bunga teratai Begitu lembut seperti sang ayah sedang mengelus wajah putranya. Bhima menrobos tujuh pepohonan lebat.

Dengan awan di kanan-kirinya, pegunungan tersebut seolah menari, sungai-sungai mengalir seolah rangkaian untaian kalung mutiara air terjun, seperti gaun tipis yang sedang terlepas; burung-burung merak me- nari mengikuti alunan bunyi gelang para bidadari.

Baca: Apa Rahasia Draupadi Membahagiakan Suaminya?

Penuh kegembiraan ia menerobos jaringan tanaman merambat yang lebat, disaksikan oleh rusa-rusa yang tidak kenal takut yang sedang mengunyah rumput, disaksikan juga oleh kaum yaksha dan gandarva (para pemain musik sorga), mereka duduk tak terlihat bersama para suami mereka di pegunungan itu, dengan tubuh berwama kuning keemasan yang menawan, sikap yang gagah seperti singa, dan matanya yang tajam; kemudian ia berkata di dalam hati.

“Aku harus segera mendapatkan kembang teratai itu sebelum kedua saudara kembarku mencariku.” Jadi Bhima bergerak cepat, dan tanah-tanah yang dipijak bergetar, para gajah menjadi panik, Bhima menghantam singa, kijang, dan harimau; mencabut dan menghancurkan pohon-pohon, tumbuhan merambat ikut hancur, bagaikan awan badai Bhima menerjang perbukitan. Ia menghancurkan pohon-pohon dan melemparkannya menjauhi dirinya, sementara itu para hewan hutan menjerit ketakutan, dan burung-burung dengan sayap basah terbang melarikan diri.

Kemudian ia menyaksikan sebuah danau: danau yang dipenuhi oleh bunga teratai dan bunga bakung, dikelilingi oleh pohon-pohon pisang yang daun-daunya melambai-lambai, Ia menceburkan diri kedanau; kemudian ia bergerak maju. Bhima meniup kerang sangkakalanya dan memukul lengannya; Ia berteriak; dan banteng-banteng melenguh kencang, singa-singa meraung, dan gajah-gajah melengking nyaring melalui belalai-belalai mereka.

Hanuman, begitu mendengar kegaduhan itu, mengetahui bahwa Bhima adalah saudaranya, lalu ia berbaring di jalan setapak yang sempit, menutupi jalan itu demi keselamatan Bhima. Ia menguap, dan menggulung ekornya yang panjang, menyerupai tiang kurban Dewa Indra, seperti gulungan tali laso.

Suara gaduh menggema melalui pegunungan dan ekor panjang berbulu terangkat tegak seperti umbul-umbul. Bhima melihat mulut kecil Hanuman, berkuping kemerahan, wajah dan lidah berwama tembaga, mata yang galak, dan gigi yang tajam. Ia terbaring di jalan setapak seperti bara api yang tertidur. Bhima berteriak. Burung-burung dan hewan-hewan diam terpaku, ketakutan.

Hanuman menoleh pelan, membuka setengah matanya yang berwama merah muda, dan berkata, “Aku sedang sakit dan beristirahat. Kenapa engkau menggangguku? Aku memang seekor monyet, tapi aku berharap bisa diperlakukan dengan hormat.”

“Aku adalah Kshatirya, namaku adalah Bhima. Engkau siapa?”

“Aku adalah seekor monyet yang berbaring menutupi jalanmu. Adalah lebih baik kalau engkau pergi berbalik arah.”

“Engkau monyet yang sombong,” kata Bhima. “Aku sangat baik dalam memberikan pelajaran kepada yang kurang ajar.”

“Aku sedang sakit,” kata Hanuman. “Pergilah. Atau jika engkau bisa, loncatilah tubuhku.”

“Meloncati tubuhmu?” kata Bhima.

“Apakah engkau sudah gila? Menghina jiwa yang sedang tidur? Meloncat seperti Hanuman menyebrangi lautan? Tidak akan.”

 

Diterjemahkan: Gede Ngurah Ambara l Dari Mahabharata of Vyasa by P. Lai Diterjemahkan oleh Gede Ngurah Ambara
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 160/hal 67-68, Juni 2017

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *