Apa Rahasia Draupadi Membahagiakan Suaminya?

Dan mereka melewati berlalunya malam-malam selama satu purnama penuh di bulan Oktober. Ketika mereka memasuki tanah para Yadava, istri yang paling disayangi Krishna, Satyabhama, mengajak Draupadi untuk mengobrol secara pribadi, “Bagaimana engkau bisa mengatur diri sehingga bisa menyenangkan para suamimu dengan sangat baik? Kenapa mereka tidak pernah marah kepadamu? Kenapa mereka begitu bersemangat untuk memenuhi apapun keinginan darimu? Jelaskan apa rahasianya: apakah itu ramuan obat-obatan, mantra-mantra tertentu, atau kosmetika kecantikan?”

(Sumber foto HinduMenulis)

Draupadi menjawab: “Satyabhama, perempuan yang pintar mengetahui banyak cara. Namun kenapa engkau bertanya padaku tentang wanita-perempuan penipu yang menggunakan obat-obat bius dan mantra-mantra sihir (guna menaklukkan suami)? Engkau adalah istri yang paling disayangi oleh Krishna, dan aku memperingatkanmu bahwa jika engkau mulai menggunakan obat-obat bius, maka suamimu akan menolaknya di tempat tidur seperti ia menghindari seekor ular.

Aku pernah dengar seorang perempuan yang melakukan pembunuhan jarak jauh dengan memberikan hadiah yang berisi racun kepada perempuan saingannya, dan banyak perempuan yang bertanggungjawab atas kejahatan sihir yang menyebabkan timbulnya penyakit kuning, lepra, impotensi, penyakit gila dan bahkan kebutaan menimpa para pria yang mereka benci.

“Namun biarkan aku menceritakan bagaimana cara yang aku lakukan: Aku menyingkirkan rasa egoku, aku mencoba untuk tidak irihati, aku berusaha keras untuk jujur dan baik hati, aku tidak pernah mandi, tidak pernah makan dan tidak pernah tidur sebelum suamiku melakukannya; dan bahkan sampai pelayan-pelayanku melakukannya. Ketika suami pulang dari hutan atau dari kota, aku menyiapkan air dan tempat duduk baginya.

Baca: Tumpek Uduh: Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Lingkungan Alam

Aku melaksanakan semua tugas rumah tangga, memasak, dan mencuci tepat waktu. Aku tidak pernah mengobrol menghabiskan waktu di depan gerbang, dan aku tidak pernah tertawa kecuali sebuah lawakan benar-benar bagus. Aku tidak pernah berlama-lama di kamar mandi ataupun lama-lama di taman bunga.

Tertawa terkikik-kikik tidak pernah aku lakukan. Aku cemas ketika ia pergi, dan tidak menggunakan wewangian cendana maupun bunga saat suami pergi. Aku mengerti bahwa kalau ada sesuatu yang tidak menarik bagi sang suami maka hal itu juga tidak menarik bagiku. Seorang suami adalah Dewa bagi istrinya, bukankah demikian? Satu lagi – Aku tidak pernah berkata tentang hal yang buruk terkait Ibu mertuaku.

“Jangan tanyakan kepadaku apa yang dilakukan oleh perempuan yang hanya suka bersolek untuk mempertahankan suaminya — Aku tidak tahu tentang hal itu — namun aku bisa memberitahukan kepadamu rahasia yang sederhana. Seorang suami memberikan kita anak-anak, seorang suami memberikan kita tempat tidur, kursi, pakaian, wangi-wangian, dan kalungan bunga, termasuk juga nama baik di lingkungan masyarakat dan kebahagiaan di sorga.

Kenapa tidak mencoba untuk bertingkah-laku yang akan membuatnya merasakan bahwa sang istri benar-benar sangat mencintaiku dirinya sebagai suami. Ketika suami memerintahkan seorang pelayan untuk mengambil sesuatu, segera bangkitlah dan cari sendiri barang yang diinginkan oleh suamimu.

Ketika sang suami ada di pintu gerbang, bersiaplah untuk menawarkan tempat duduk dan membasuh kakinya. Hindarilah musuh-musuhnya. Jangan ceroboh dan jangan tertawa riang ketika ada kehadiran laki-laki lain; simpanlah apa yang engkau pikirkan; dan jangan terlalu sering sendirian walaupun bersama dengan anak- anakmu.

Hindari perempuan yang suka mabuk, suka berteriak, suka mencuri, suka makan, dan suka bergosip. Dan belajarlah bagaimana membuat dirimu kelihatan menarik dengan perhiasan, wangi-wangian dan ramuan pelembab.”

Pada suatu hari seorang Brahmana ternama, yang mahir dalam seni berbicara, datang ke Balairung istana menghadap Dhritarashtra setelah mengunjungi para Pandawa, dan menceritakan kepada Sang Raja tentang kesengsaraan yang dihadapi oleh Yudhishthira dan saudara-saudaranya. Ia juga menceritakan bahwa Draupadi juga kelihatan tidak berdaya, miskin dan berpakaian lusuh.

Dhritarashtra menjadi sangat sedih, mengetahui bahwa ia telah terlibat dalam konspirasi jahat, namun ia membungkusnya dengan perintah tertinggi seorang Raja. “Apakah engkau mengatakan bahwa Yudhisthira tidur di atas tanah? Sementara Duryodhana, Shakuni serta Duhshasana hidup dipenuhi kemakmuran! Apakah engkau mengatakan bahwa Arjuna kembali, dan mengangkat busur Gandivanya lagi? Baguslah — tidak seorangpun yang sanggup menghadapinya.”

Baca: Setiap Orang Tidak Dapat Menghindar dari Hukum Karma

Shakuni menyampaikan perasaan sang Raja kepada Duryodhana. “Para Pandawa sekarang tinggal di dekat danau Dvaitavana. Mari kita kunjungi mereka. Apakah ada kesenangan yang lebih besar dibandingkan menyaksikan mereka dari sudut kemakmuran kita dan melihat mereka sedang sangat tidak beruntung, apa yang lebih menyenangkan dari pada menyaksikan dari puncak bukit di bawah sana terdapat manusia yang sedang berjuang untuk hidup mereka? Hiasilah istrimu dengan pakaian yang paling mahal, dan biarlah kita saksikan Draupadi yang berpakaian kulit kayu dan kulit rusa terbakar api cemburu.” Duryodhana sangat bahagia. Tapi beberapa saat kemudian ia terlihat murung.

“Apa yang engkau katakan, Shakuni, adalah baik,” katanya,” namun aku tidak akan pergi tanpa ijin dari Raja. Sang Raja memihak para Pandawa. Mari kita pikirkan rencana yang berbeda.”

Pagi hari berikutnya Karna tersenyum menghampiri Duryodhana. “Bagaimana kalau begini? Ternak kita sedang merumput di dekat danau Dvaitavana. Mari kita berangkat ke sana dengan tujuan untuk menggembalakan ternak kita. Sang Raja akan sangat mudah memberikan ijinnya.”

“Ia mungkin justru akan memerintahkan kita untuk pergi ke sana!” kata Shakuni tertawa. Mereka memerintahkan seorang penggembala bernama Samanga untuk menjelaskan kepada Raja tentang mendesaknya kebutuhan untuk menggembalakan ternak.

“Kawanan ternak memang butuh untuk secara teratur digembalakan dan diperiksa,” kata Dhritarashtra. “Kalian memang tidak selalu sepenuhnya hanya mengandalkan kepada para peternak. Namun saya telah mendapat informasi bahwa saat ini para Pandawa sedang menetap di tempat itu. Saya pikir sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan terhadap ternak-ternak kita.”

“Tapi, tuanku,” kata Shakuni, “Namun para Pandawa bukan menjadi tujuan dari kepergian kami ke tempat tersebut. Kami tidak akan pergi ke tempat mereka mendirikan perkemahan. Kami memastikan mereka tidak akan merasa terganggu.”

Sang Raja memberikan ijin, dan Duryodhana berangkat dengan ditemani oleh para pengiringnya dalam jumlah besar. Yang berangkat bersamanya adalah Duhshasana, Shakuni, para istri-istri mereka, dan ribuan dayang-dayang wanita; delapan ribu kereta perang, tiga puluh ribu pasukan gajah, sembilan ribu pasukan berkuda, dan para prajurit yang berjalan kaki, para pembaca puisi, para seniman, tenda-tenda paviliun, kereta- kereta barang beserta perlengkapannya.

Diterjemahkan: Gede Ngurah Ambara l Dari Mahabharata of Vyasa by P. Lai
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 163/hal 52-53, September 2017

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *