Air dalam Perspektif Hindu

Aku adalah rasa dalam air, wahai Arjuna, Aku adalah sinar dalam bulan, dan matahari. Aku adalah Pranawa AUM dalam setiap kitab suci Veda. Aku adalah suara pada ruang (akasa) dan kemanusiaan pada manusia” (Bhagavad Gita, VII.9).
 
(sumber foto blog sejarah hari raya Hindu)
 
 

Air merupakan zat yang menyebabkan adanya kehidupan dan menimbulkan berbagai rasa kehidupan. Di dunia ini, tidak terjadi kehidupan bila tidak ada air. Seluruh sumber bahan makan mahluk hidup tidak akan hidup bila tidak ada air. Semua kehidupan bergantung kepada air. Karena air adalah muaranya. Bahkan awal mula penciptaan pun berawal dari air.

Dalam Hindu air memiliki peran yang sangat penting seperti yang dinyatakan dalam Bhagavad Gita, VII.9. Bahwa air memiliki keagungan yang sangat luar biasa. Kemulian dan keagungan air juga terdapat dalam Rgveda, X.9.6 yang menyatakan bahwa air memiliki khasiat pengobatan “Sang Hyang Soma mengatakan bahwa air memiliki semua faktor penyembuhan“. Dewa Rudra sebagai pakai pengobatan dengan air “Sang Hyang Rudra adalah pakar perawatan/pengobatan dengan air. Kami memohon kepadaNya untuk mensejahterakan dan kebahagiaan” (Rgveda, I.43.4). Atharva Veda XIX.27.10 bahkan menyebutkan bahwa air mengandung semua khasiat kedewataan “Semua Dewata yang berjumlah tiga puluh tiga ada di dalam air dan melindungi umat manusia“.

Dalam mitologi Hindu, dijumpai sebuah istilah tirtha amrtha, yang berarti air suci kehidupan. Tentang hal ini diceritakan dalam Itihasa yaitu pada cerita Mahabharata tepatnya pada bagian Adi Parwa dalam kisah pemutaran gunung Mandara Giri.

Kisah di awali dari permusuhan antara para dewata dengan para raksasa. Para dewata berkumpul di gunung Mahameru yang dipimpin oleh Dewa Wisnu dan merundingkan tentang bagaimana mendapat amrtha (air suci keabadian), yakni dengan cara memutar gunung Mandara Giri di lautan susu atau kairarnawa.

Para raksasa yang mengetahui rencana itu minta ikut bergabung. Demi mendapatkan air suci kehidupan, para dewata dan raksasa akhirnya bekerjasama. Untuk dapat melakukan pemutaran gunung, ada pembagian tugas, yakni Naga Basuki sebagai tali pengikat agar gunung tidak pecah; Dewa Wisnu menjelmakan dirinya sebagai kura-kura raksasa (Kurma Awatara) untuk menyangga gunung. Sementara itu, Dewa Indra ada dipuncak gunung agar gunung tidak terpelanting ke udara. Para raksasa menarik kepala Naga Basuki sedangkan para dewata menarik ekornya.

Badan naga yang melilit gunung secara bergantian ditarik oleh para dewata dan raksasa sehingga gunung dapat berputar pada porosnya. Ketika perputaran itu mengeluarkan panas, Dewa Indra menurunkan hujan dan saat keluar bisa (gas beracun) Dewa Siwa mengisapnya (Nila Kantha). Akhirnya, dari bagian ekor naga keluarlah Ardha Candra, Dewi Sri, Dewi Laksami, Kuda Uccihsrawa, dan Kastubamani Permata. Sedangkan pada posisi kepala naga keluarlah Dhanwantari (Swethakamandalu).

Pemutaran gunung Mandara Giri dihentiakn dan dikembalikan ketempatnya. Para dewata lalu meminta bagian dari Swetakamandalu yang telah diambil oleh raksasa, namun tidak diberikan, dan akhirnya terjadi bertarungan hebat.

Untuk menakluklan para raksasa, Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi bidadari cantik yang gemah gemulai di depan para raksasa. Karena tertarik, para raksasa berusaha mengejar bidadari, dan mengakibatkan tirtha martha lepas. Ketika melihat amrtha terlepas itulah, wanita cantik mengubah dirinya menjadi Dewa Wisnu lalu mengambilnya dan segera berlari.

Para raksasa terkaget dan bergegas mengambil senjata untuk merebut kembali amrtha. Merasa terancam, Dewa Wisnu mengeluarkan senjata cakra dan banyak raksasa yang terbunuh, dan yang masih hidup lari tunggang langgang ketakutan. Akhirnya, para dewata mendapatkan tirtha amrtha dan kembali kekahyangan. Kemudian tirtha amrtha tersebut dibagikan menggunakan daun beringin aswatah. Namun pada saat pembagian tirtha amrtha tersebut menyelinap raksasa bernama Kala Rahu yang menyamar menjadi dewa dan menerima amrtha dengan memakai daun awar-awar (daun yang lebar dan getahnya berbisa).

Baca: Hindu Memandang Gerhana Bulan

Dewa Surya dan Dewi Ratih yang melihat kejadian itu lalu melaporkannya kepada Dewa Wisnu, dan segera Dewa Wisnu mebunuh Kala Rahu dengan senjata cakra, namun hanya mengenai lehernya. Karena Kala Rahu sempat meminum amrtha, kepalanya masih hidup dan badannya terjatuh ke bumi. Begitu juga dengan bangsa ular yang tidak akan pernah mati karena usia kecuali dibunuh. Bila ular telah tua, ia akan segera mengganti kulitnya untuk menjadi muda kembali. Kamampuan seperti itu disebabkan pada masa perebutan amrtha, para leluhur ular sempat meminum cipratan amrtha yang terdapat didaun alang-alang.

Dari mitologi tersebut lah umat Hindu menggunakan daun beringin dan alang-alang sebagai salah satu sarana upakara karena pernah mendapat cipratan tirtha amrtha.

Keagungan air juga terdapat dalam cerita dalam kisah Bhima yang diperintahkan guru Drona untuk mengambil tirtha amrtha di tengah samudera luas. Sebenarnya, guru Drona menginginkan Bhima meninggal agar Kaurawa mampu mengalahkan Pandawa, karena Bhima paling ditakuti Kaurawa. Berkat kesungguhannya dan ketaatannya menjalankan perintah gurunya (Guru Bhakti), Bhima berhasil mendapatkan tirtha amrtha atas anugerah Dewa Ruci.

Dari dua kisah di atas mengambarkan bahwa betapa air merupakan amrtha yang mampu memberikan kehidupan kepada manusia dan mahluk lainnya. Air dapat menjadi dewa bila ia diperlakukan dengan sangat bijaksana begitu juga sebaliknya bila air diperlakukan dengan cara yang jahat, kekuatan dan kesucian air dapat membahayakan manusia dan kehidupannya.

Kisah lain tentang air dapat ditemukan dalam lontar Kekawin Smradahana karya Empu Managuna tentang Sorga yang diserang oleh raksasa Kala Rudrika. Pada saat Dewa Siwa sedang bertapa di gunung Mahameru (Kailasa) dan belum bertemu dengan Dewi Parwati, sehingga belum bisa mempunyai putra. Akhirnya Dewa Indra mengutus Dewa Asmara atau Kama untuk menggoda Dewa Siwa dan tapaNya. Dewa Kama segera datang ketempat pertapaan Dewa Siwa. Sambil mengamati disekitarnya, Dewa Kama segera memanah Dewa Siwa dengan pana asmaranya.

Baca: Manusia “RA”

Seketika Dewa Siwa bergairah dan milhat musim bunga dan keindahan alam disekitar pertapaanNya. Namun Dewa Siwa sadar bahwa itu adalah ulah Dewa Asmara. Dewa Siwa akhirnya memanah Dewa Asamara dengan mata ketiga beliau, akibatnya Dewa Asmara terbakar. Dewi Ratih yang merupakan isteri Dewa Kama memohon kepada Dewa Siwa agar suaminya dihidupkan kembali, sebab semua ini adalah perintah Dewa Indra.

Dewa Siwa pun menolak karena menganggap bahwa Dewa Kama telah menggagalkan tapaNya. Dengan kesetiaan dan citanya Dewi Ratih pun ikut membakar dirinya. Abu Dewa Kama dan Dewi Ratih kemudian jatuh ke laut, danau, dan sungai. Dewa Siwa kembali mengutuk agar Dewa Kama dan Dewi Ratih selalu berada di dunia dan air, dengan sabda “Barang siapa yang ada di dunia masih bisa meminum air, selama itu pula ia akan kasmaran (memiliki nafsu biarahi).”

Beberapa kisah di atas dengan sangat jelas menyatakan bahwa air begitu penting karena tanpa air, maka rasa manis, pahit, asam, pedat, sepat, dan enak tidak akan ada. Air lur kalau kering maka segala yang dikunyah akan tidak memiliki rasa. Demikian pula kenikmatan hubungan badan, akan terasa ketika keluarnya air sebagai benih kehidupan baik dari laki-laki maupun perempuan.

Dalam pelaksanaan yadnya air juga memiliki peran penting sebagai tirtha untuk penyucian. Sebuah persembahan atau banten bila belum disucikan (lukat atau prayascita) dengan air suci, maka persembahan tersebut belum disebut banten bahkan belum layak untuk dipuja atau dipersembahkan. Begitu pula setiap kali umat Hindu selesai melaksanakan persembahyangan pasti diberikan tirtha ke kepala sebanyak tiga kali, diminum sebanyak tiga kali, dan diraup ke wajah tiga kali. Makna dipercikan tiga kali ke atas adalah sebagai penyucian pikiran (idep), diminum sebagai simbol kata-kata (sabda), dan diraup sebagai simbol penyucian perbuatan (bayu).

Demikianlah makna akir dalam perspektif Hindu. Umat manusia khususnya yang beragama Hindu harus memperhatikan kesucian air. Karena air merupakan sumber dari segala kehidupan dan keberlangsungan hidup.

Referensi: Buku “Cara Umat Hindu Melindungi dan Melestasrikan Lingukang Hidup, Tahun 2013“. Kerjasama Parisada Hindu Dharma Indonesia dengan Kementerian Lingkungan Hidup.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *