YAJNA SATTVIKA: Pelaksanaan Yajna yang Utama

PENDAHULUAN
Ajaran Hindu, menurut Lokāmanya Tilak Shastri disabdakan sekitar 8000 tahun yang lalu (6000 SM). Ajaran Hindu terhimpun dalam Veda Sruti (Catur Veda) meliputi 20.389 mantra dan bersifat sanatanadharma. Ajaran tersebut telah dirumuskan ke dalam Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang meliputi Tattva, Susila, dan Acara. Ketiga bagian itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan dalam pengimplementasian kehidupan beragama Hindu. Pengimplementasiannya sesuai dengan praktik Catur Marga dan Panca Drestha melalui tahapan kehidupan yang disebut Catur Asrama, serta dilandasi kemampuan lahir batin setiap umat.

Tattva menjadi dasar utama dari setiap cara berpikir, berbicara, dan bertindak karena Tattva adalah hakikat terdalam dari realitas yang ada pertama, ada sendiri tanpa diadakan, namun mengadakan seluruh ciptaan (alam semesta beserta segala isinya). Ia Maha Esa, Mahakuasa, penentu segala dan  penuh kasih, sehingga menjadi pusat serta tujuan dari setiap pemujaan. Susila menjadi acuan dalam berwacana, bersikap, bertindak, dan proses pelaksanaan suatu kegiataan, termasuk dalam pelaksanaan upacara yajña. Khusus bidang Acara, mencakup antara lain; tentang orang suci, hari suci, tempat suci, wariga (subhadevasa), dan yajña dengan berbagai bentuk, kualitas, dan sifatnya.

Yajña dalam bahasa Sanskerta adalah suatu bentuk persembahan yang didasarkan atas keikhlasan dan kesucian hati. Persembahan tersebut dapat berupa material dan non-material. Ketika manusia mempersembahkan sesuatu, tentu membutuhkan pengorbanan, seperti: waktu, finansial, pemikiran, dan benda atau harta yang lainnya. Itulah sebabnya mengapa yajña sering dikatakan sebagai pengorbanan yang suci dan tulus ikhlas.

Persembahan yang berwujud dapat berupa benda-benda material dan kegiatan, sedangkan persembahan yang tidak berwujud dapat berupa doa, tapah, dhyana, atau pengekangan indria dan pengendalian diri agar tetap berada pada jalur dharma. Persembahan dikatakan suci karena mengandung pengertian dan keterkaitan dengan Brahman. Dalam Ṛg Veda disebutkan bahwa “Maha Purusa (Brahman) menciptakan semesta ini dengan mengorbankan diri-Nya sendiri. Inilah yang merupakan permulaan tumbuhnya pengertian bahwa yajña yang dilakukan manusia adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri”. Berkaitan dengan itu, kitab Bhagavad Gītā adhyaya III.10 menyatakan bahwa setelah Tuhan menciptakan manusia melalui yajña, beliau bersabda: “dengan cara ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah yang akan memenuhi keinginanmu”.

Praktek kehidupan beragama Hindu memang tidak bisa terlepas dari masalah ritual yang merupakan yajña, dan menampakkan bentuk beraneka ragam dengan latar budaya yang berbeda-beda. Ditinjau dari segi kuantitas pelaksanaannya menampakkan perubahan ke arah perkembangan yang bersifat fisik, berbanding terbalik dengan perkembangan pemahaman makna filosofis dari pelaksanaan yajña itu. Hal ini perlu mendapat tanggapan melalui pembahasan untuk melahirkan konsep ke arah pelaksanaan yajña yang baik dan benar.

Dalam ajaran Hindu telah ditentukan bahwa dasar pelaksanaan yajña baik materi/bahan, cara/proses pelaksanaan, maupun pelaku yajña (tri manggalaning yajña) adalah satyam śivam sundaram. Satyam berarti benar; baik bahan ritual, cara mendapatkannya, prosesnya, maupun pelakunya. Śivam berarti suci; baik bahan ritual, niatnya, maupun prosesnya. Sundaram berarti indah/harmonis; baik dalam bentuk sesajinya, cara dan proses pembuatan maupun upacaranya, dan keharmonisan hubungan para pelaku yajña itu.

Dalam rangka mengkaji pelaksanaan yajña menuju kualitas sattvīka, perlu memerhatikan beberapa sumber pustaka, seperti: Veda Sruti (Ṛg Veda, Sama Veda, Yajur Veda, Atharva Veda), Bhagawad Gītā, Manawa Dharmaśastra, Sarasamuścaya, Ślokantara, Nitiśastra, Agastya Parwa, Lontar Sundarigama, Yajña Prakrti, Purwa Bhumi Kamulan, Aji Swamandala, Wrspati Tattva, Plutuk Banten, Dharma Caruban, Deva Tattva, dan Widhi Papincatan.

Permasalahan yang dihadapi oleh umat Hindu di Nusantara adalah kenyataan pluralis multikultural baik tradisi sosial maupun keagamaan yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan yajña. Setiap komunitas memiliki sumber sastra yang berbeda, namun bila dikaitkan dengan aspek tattva maka ciri kehinduannya dapat terlihat dengan jelas. Dengan demikian, semestinya setiap aktivitas yang dilakukan oleh umat Hindu di dalam melaksanakan yajña baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan semestinya ditujukan semata-mata hanya untuk Brahman sehingga memiliki kualitas sattvīka.

Sehubungan dengan itu, di bawah ini disajikan ketentuan tentang Yajña Sattvīka dalam bentuk pointers agar lebih mudah dipahami. Pointers tersebut merupakan rambu-rambu/ketentuan dasar sebagai pedoman dalam menentukan wujud ritual yajña sesuai tradisi dan budaya keagamaan komunitas masing-masing.

PEMBAHASAN
Pengertian Yajña 

  1. Yajña; persembahan, pengorbanan atau pemberian potensi diri lahir batin (sakala-niskala) yang berdasarkan kesadaran atmanastuti, tulus ikhlas, jujur, dan kemampuan ditujukan kepada Tuhan dengan berbagai prabhawanya, Pitra, Ṛṣi, Manuṣa, dan Bhūta (alam sekala niskala).
  2. Yajña Sattvīka; yajña yang dilakukan dengan beretika berdasarkan tattva atas kesadaran, sraddha, bhakti, kejujuran, tulus ikhlas sesuai kemampuan, dan tepat waktu maupun tepat sasaran.
  3. Kadar sattvīka ditentukan oleh seberapa besar kriteria sattvīka dapat dipenuhi mengingat ukuran kejujuran, sraddha, bakti, ketulusan antar umat sangat beragam, sehingga tidak bisa nilai sattvīka diukur secara matematis (dalam bentuk angka).

Landasan Filosofis Yajña 

  • Tujuan hidup beragama yakni tercapainya jagadhīta dan alam kebebasan berupa mokṣa. 
  • Jagadhīta; kehidupan di dunia (mercapada/dunia maya) dengan suasana;
  1. Tertib, aman, tentram, tenang, damai, dan dinamis;
  2. Berkecukupan sandang, pangan, dan papan sesuai kebutuhan Ātmānastuṣṭi;
  3. Diliputi rasa penuh cinta dan kasih sayang, persaudaraan persatuan dan kebersamaan;
  4. Terkendalinya buddhi, manas dan 10 (sepuluh) indriya serta ahamkara (ego/nafsu/kāma)
  • Mokṣa; bebas dari segala ikatan (sakala/duniawiniskala/mayakoṣa)
  1. Mokṣa; alam kebebasan bersatunya atman menjadi satu zat dengan Tuhan.
  2. Mokṣa di dunia (semasih hidup); kebebasan tingkat jivanmukti, samipya, sarupya.
  3. Mokṣa di alam niskala; salokya/videha mukti dan sayujya/purnam mukti.
  • Yajña sebagai sarana menebus/membayar Tri Ṛṇa (Deva, Pitra, Ṛṣi).
  • Yajña sebagai wahana meningkatkan kualitas lahir batin diri umat.
  • Yajña menjadi kebutuhan hidup yang vital bagi umat Hindu karena dengan yajña merupakan sadhana mencapai jagadhīta dan mokṣa.

Kriteria Yajña Sattvīka
Dalam Bhagawad Gītā XVII.11-13 disebutkan bahwa untuk dapat mewujudkan sebuah yajña yang berkualitas sattvīka, hendaknya berpedoman pada:

  1. Sraddha: yajña harus dilakukan dengan penuh keyakinan.
  2. Aphala: tanpa ada motif untuk mengharapkan hasil dari pelaksanaan yajña yang dilakukan karena tugas manusia hanya mempersembahkan dan dalam setiap yajña yang dilakukan sesungguhnya sudah terkandung hasilnya.
  3. Gītā: ada lagu-lagu kerohanian yang dilantunkan dalam kegiatan yajña tersebut.
  4. Mantra: pengucapan doa-doa pujian kepada Brahman.
  5. Daksina: penghormatan kepada pemimpin upacara berupa Ṛṣi Yajña.
  6. Lascarya: yajña yang dilakukan harus bersifat tulus ikhlas.
  7. Nasmita: tidak ada unsur pamer atau jor-joran dalam yajña tersebut.
  8. Annaseva: ada jamuan makan–minum kepada tamu yang datang pada saat yajña dilangsungkan karena tamu merupakan perwujudan Brahman (Matṛ Devo bhava, Pitṛ Devo bhava, Athiti Devo bhava daridra Devo bhava) artinya; ibu adalah perwujudan Tuhan, ayah adalah perwujudan Tuhan, tamu adalah perwujudan Tuhan, dan orang miskin adalah perwujudan Tuhan.
  9. Sastra: setiap yajña yang dilakukan harus berdasarkan pada sastra atau sumber-sumber yang jelas, baik yang terdapat dalam Sruti, Smṛṭi, dan Nibandhasastra.
  10. Ahimsa: menjauhi sifat dan sikap menyakiti dalam proses pelaksanaan yajña.

Di samping sumber tersebut, kitab Manawa Dharmaṣastra VII.10 juga menyatakan bahwa setiap aktivitas spiritual termasuk yajña, hendaknya dilakukan dengan mengikuti:

  1. Ikṣa: yajña yang dilakukan dipahami maksud dan tujuannya.
  2. Śakti: disesuaikan dengan tingkat kemampuan baik fisik material maupun tingkat pemahaman terhadap yajña yang dilakukan sehingga tidak ada kesan pemborosan.
  3. Deśa: memerhatikan situasi dan kondisi tempat yajña dilakukan, termasuk sumber daya alam atau potensi yang dimiliki pada wilayah tersebut.
  4. Kāla: mempertimbangkan waktu (hari baik/padewasan), dan perkembangan zaman.
  5. Tattva: hakikat kebenaran berdasarkan petunjuk sastra/sumber hukum Hindu sebagai acuan dalam melaksanakan yajña (Manawa Dharmaṣastra II.6: Sruti, Smṛṭi, Sila, Ācara, dan Ātmānastuṣṭi).

Selanjutnya kriteria Yajña Sattvīka dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Berdasarkan petunjuk sastra (Sruti, Smṛṭi, Sila, Sadācara, dan Ātmānastuṣṭi).
  • Pelakunya (tri manggalaning yajña) hendaknya memiliki sraddha yang mantap terhadap pelaksanaan yajña.
  • Berdasarkan kesadaran sendiri bahwa yajña merupakan kebutuhan hidup.
  • Dilaksanakan atas kepatutan berdasarkan viveka jñāna dan/atau bhisama.
  • Dilandasi ketulusan hati, disertai kesujudpasrahan (bhakti).
  • Yajña yang dipersembahkan adalah hasil karya atau potensi diri (sakala-niskala).
  • Materi yajña diperoleh berlandaskan dharma (kepatutan hukum, sosial, dan agama).
  • Yajña didasarkan atas kemampuan lahir batin sang yajamana secara logis.
  • Memerhatikan etika dan estetika dalam prosesi pelaksanaan yajña:
  1. Disampaikan/dipersembahkan tepat waktu atau subhadevasa (hari, dawuh).
  2. Disampaikan dengan sikap ramah dan sopan santun serta penuh bhakti.
  3. Diantar dengan mantra/puja/seha/sontengan yang benar (manasa, upamsu, vaikari).
  4. Menata/menyiapkan materi yajña dengan suasana bersih lahir batin.
  • Ditujukan kepada objek yang tepat (deva, pitra, ṛṣi, manuṣa, bhūta).
  • Dapat bermanfaat bagi penerima yajña dan menjadikannya lebih mulia.
  • Pelaksanaannya disesuaikan dengan sima, dresta (panca dresta), dan semaya serta tetap mengacu pada dharmasiddhyartha.
  • Yajña dipimpin oleh orang yang tepat, patut dan pantas (tidak cacat pisik dan moral).
  • Setiap yajña yang berbentuk ritual hendaknya disertai dakṣina kepada manggala upacara.
  • Menaati norma hukum, kesopanan, dan kesusilaan.
  • Penataan upakara (sesaji) dan uparengga (kelengkapannya) sesuai tri angga dan tata-letaknya.
  • Setiap upacara yajña hendaknya disertai suguhan hidangan/bhoga (annaseva) kepada para jana saksi (undangan).
  • Yajña hendaknya tidak menjadikan seseorang sebagai objek yang mengakibatkan ketergantungan atau kemalasan.
  • Pelaksanaan yajña tidak mengganggu ketertiban umum atau lingkungan.
  • Pelaksanaan yajña berlandaskan satyam śivam sundaram yang dapat menumbuhsuburkan rasa bhakti dan jiwa pengabdian.

MATERI, BENTUK, DAN PELAKU YAJÑA

Materi dan Bentuk Yajña

Materi yajña adalah segala sesuatu baik yang bersifat lahir maupun batin yang dimiliki oleh umat dan diperoleh berdasarkan dharma, seperti persembahan/pengorbanan dalam bentuk:

  1. Ilmu pengetahuan (iptek, keterampilan, agama, dan spiritual) memiliki nilai tertinggi, lebih mulia dari persembahan materi.
  2. Perlindungan terhadap ancaman/rasa takut/sakit/derita.
  3. Pangan (makanan-minum) dan/atau obat-obatan.
  4. Sandang (pakaian, perhiasan atau uparengga, busana pelinggih pura/kuil).
  5. Papan (rumah/bangunan, kantor/gedung/pasraman, pelinggih/kuil).
  6. Ritual/sesaji/upakara sesuai tingkatan atau bentuknya (kanistama, madyama, uttama), berdasarkan kemampuan dan tidak dipaksakan.
  7. Pelayanan, seperti: kerja gotong royong atau bantuan tenaga.
  8. Penghormatan/bhakti, termasuk pengamanan Pura, dan kasih sayang pada sesama.
  9. Nasihat, petunjuk, motivasi, doa, termasuk sugesti positif lainnya.
  10. Hiburan dalam bentuk kesenian (dharmagita, tarian, tabuh, lukisan, ukiran).
  11. Waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan (mengorbankan perasaan secara sadar).
  12. Sikap lahir batin (tata krama/sasana manut linggih, ramah dan sopan).
  13. Pengendalian diri (tapa, brata, upavasa, mona).
  14. Organ tubuh, seperti donor: darah, kornea mata, dan ginjal.
  15. Dāna, seperti: biaya obat/kesehatan, pendidikan, penelitian, termasuk modal usaha.
  16. Harta benda, seperti: kendaraan dan perlengkapan hidup, termasuk alat kerja.
  17. Hewan dan/atau tumbuh-tumbuhan.
  18. Tanah pekarangan/sawah/kebun.
  19. Air, seperti: penyediaan air minum, sumur umum, kolam, dan bendungan.

Dengan demikian, yajña dalam pelaksanaannya dapat berbentuk materi, sosial, ritual, spiritual secara sakala dan niskala, sebagaimana dinyatakan dalam Atharva Veda XII.1.1 bahwa demi tegaknya dunia ini dan tercapainya jagadhīta maka ada enam penyangga kehidupan di alam ini, yaitu: satyam (kebenaran/kejujuran), ṛṭam (hukum/tertib alam makro dan mikro/taat hukum positif), dikṣa (inisiasi/penyucian lahir batin), tapah (pengendalian diri atas nafsu indrawi), brahma (doa/pengetahuan mantra dan spiritual), yajña (persembahan/korban suci dalam berbagai bentuk), wajib dilaksanakan secara benar, utuh, dan berimbang.

Kitab Bhagawad Gītā IV.28 menegaskan bahwa beryajña dapat dilakukan melalui persembahan: harta kekayaan (drveya), pengendalian diri/indriya (tapah), pengetahuan (brahma/jñāna), penyucian rohani menuju penyatuan diri (yoga), dan dengan menggunakan tubuh sendiri sebagai sarana pemujaan (svadhyaya) serta memberikan perlindungan kepada mahluk yang lebih lemah (abhaya).

Dalam menentukan materi, bentuk, dan fungsi yajña, wajib memerhatikan prinsip-prinsip pencapaian nilai yajña yang maksimal menurut petunjuk susastra, seperti:

  1. Pelutuk banten secara tertulis baru dijumpai di Bali, jika di luar Bali ada, tentu pelutuk itu dibawa oleh umat Hindu suku Bali akibat bertugas atau transmigrasi ke luar Bali.
  2. Pelutuk banten/upakara/sesaji antar daerah maupun antar desa di Bali terdapat perbedaan sehingga bentuk, materi, dan tetandingan berbeda sesuai dengan sima, dresta, dan semaya.
  3. Materi dan bentuk yajña selain Bali terdapat keanekaragaman namun memiliki prinsip filosofis yang sama dan dapat diterapkan sesuai desa kala patra dan desa mawacara;
  4. Bahan dasar ritual adalah: daun, bunga, buah, air, dan api.
  5. Secara materi ukuran upakara/sesaji itu meliputi: kanistama (inti), madhyama, dan uttama yang masing-masing dapat dipilah tiga sehingga menjadi sembilan bentuk upakara tetandingan. Bentuk dan ukuran materi yajña tidak mutlak menentukan nilai suatu yajña, karena bentuk dan ukuran yajña yang inti (kanistama) sama nilainya, bahkan dapat bernilai lebih tinggi (uttama/mulia).
  6. Tinggi rendahnya nilai suatu yajña bukan semata-mata karena bentuk dan materi, melainkan karena terpenuhi atau tidaknya kriteria Yajña Sattvīka.
  7. Tidak ada bentuk upakara (sesaji) yang memiliki kebenaran mutlak (paling benar) karena nilai sattvīka bukan ditentukan hanya oleh bentuk upakara.
  8. Fungsi dan makna upakara/ritual atau yajña adalah:
  • Sebagai persembahan/penghormatan.
  • Pernyataan cinta dan kasih sayang.
  • Sebagai penyucian diri sekala niskala.
  • Wahana pembebasan lahir batin dari ikatan duniawi.
  • Sebagai simbol perwujudan diri si pemuja, sebagai badan/prabhawa Tuhan, dan sebagai citra alam semesta.

Dengan materi dan bentuk persembahan di atas maka yajña memiliki manfaat bagi kehidupan sehari-hari, yang dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Pengorbanan/yajña yang hanya bermanfaat untuk menebus/membayar hutang kehidupan. Kelahiran dan/atau kehidupan ini membawa beban utang (ṛṇa), walau pun ditebus dengan yajña, hutang kehidupan belum tentu lunas seketika;
  2. Pengorbanan/yajña ada yang dikaitkan dengan hubungan timbal-balik/simbiosis mutualis. Yajña ini disertai dengan harapan bahwa antara persembahan dan anugrah dalam kondisi seimbang (balance). Namun demikian, yajña seperti ini tidak dapat meningkatkan kualitas spiritual, lebih-lebih bila diikuti pamrih mendapatkan imbalan yang lebih besar dari yang dipersembahkan;
  3. Pengorbanan/yajña yang bermanfaat sebagai pemupuk subhakarma (perbuatan baik) merupakan modal dan sadhana menuju surga. Jika pengorbanan itu dilandasi pamrih maka konsekuensinya akan berinkarnasi kembali ke dunia (punarbhava);
  4. Pengorbanan/yajña yang dilakukan dengan sadar dan tulus sesuai kemampuan, patut, tepat waktu dan sasaran maka yajña itu akan membebaskan pelakunya dari ikatan karmaphala. Dengan demikian, secara bertahap dapat mengantarkan pelaku yajña mencapai pembebasan jiwa (mokṣa).

Sehubungan dengan itu maka sesungguhnya beryajña tidak mesti besar dan megah, dengan menghabiskan banyak biaya, tapi tidak dilandasi oleh prinsip yajña sebagaimana diuraikan di atas. Yajña seharusnya menaati doktrin satyam śivam sundaram, walau pun kecil dan sederhana, tetapi segar dan indah serta dilandasi kemurnian hati maka yajña seperti itulah merupakan yajña utama. Jika prinsip-prinsip yajña tersebut dapat ditaati maka yajña itu akan mendatangkan manfaat besar bagi manusia dan mahluk lainnya, baik berkaitan dengan kehidupan jasmani maupun peningkatan kualitas rohani.

Pelaku  Yajña

Pelaku yajña terdiri atas tiga unsur yang disebut Tri Manggalaning Yajña, yaitu:

  • Sang Yajamana (umat yang beryajña), meliputi:
  1. Individu atau perorangan.
  2. Kelompok kecil (suami-istri) atau keluarga.
  3. Kelompok besar (penyungsung Pura, Banjar, Desa Pakraman, Panitia atau nama lain yang sejenis).
  • Ninivedya (Sarati Banten/Tukang Sesaji) yang menyiapkan segala jenis upakara yang diperlukan dalam suatu yajña;
  1. Sang Sarati (tukang banten); menjabarkan ajaran Sang Hyang Tapini.
  2. Sang Pakerti; tukang rajah menjabarkan ajaran Sarasvati.
  3. Sang Mancagra; tukang masak menjabarkan ajaran Dharma Caruban.
  4. Sang Undagi; menjabarkan ajaran Bhagavan Viswakarma.
  5. Sang Gurnita; tukang gita menjabarkan ajaran Sang Hyang Gurnita
  • Manggala Upacara/Sadhaka adalah pengantar/pemuput/pemimpin upacara, seperti: Pandita, Pinandita, atau orang tua/orang yang dituakan dalam keluarga.

Tri Manggalaning Yajña wajib melakukan musyawarah yang dilandasi keterbukaan dan kesadaran nurani (ātmānastuṣṭi). Dalam setiap penyelenggaraan upacara/ritual yajña maka aspek tattva wajib dipedomani, sebab jika tidak demikian akan mengakibatkan:

  1. Suatu yajña akan membebani secara spiritual terhadap sang yajamana, manggala upacara, dan niniwedya;
  2. Nilai yajña tidak maksimal yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas bhakti;
  3. Sadhaka sebagai manggala upacara dan niniwedya akan ternoda kesuciannya;
  4. Yajña menjadi sia-sia, bahkan merupakan pemborosan belaka; dan

Dalam proses pelaksanaan yajña, tri manggalaning yajña wajib melakukan pengendalian diri dan memerhatikan syarat-syarat keberhasilan pelaksanaan yajña. Hal ini antara lain dinyatakan dalam lontar Deva Tattva sebagai berikut: 

“Kramanya sang kiningkin akarya sanista, madyama, uttama.
Manah lêga dadi ayu, aywa ngalêm druwenya, mwang kamagutan
kaliliraning wwang atuha, aywa mangambêkang krodha mwang ujar gangsul,
ujar menak juga kawêdar denira, mangkana kramaning sang ngarêpang karya
aywa simpanging budhi mwang krodha”

(Tata cara bagi mereka yang bersiap-siap melaksanakan upacara kanistama, madyama dan uttama. Pikiran yang ceria membawa kebaikan. Janganlah terlalu menyayangi harta benda untuk keperluan yajña. Janganlah menentang petunjuk orang yang dituakan, janganlah bersikap pemarah dan mengeluarkan kata-kata sinis dan kasar. Kata-kata yang sopan dan ramah itulah yang harus diucapkan. Demikianlah tata-cara orang yang akan melaksanakan/menghadapi yajña. Jangan menyimpang dari budi baik dan jangan menampilkan kemarahan).

Mengingat budaya keagamaaan Hindu di Indonesia sangat beragam sesuai kultur komunitas masing-masing maka setiap tradisi keberagamaan perlu diteliti, dikaji, dan dilakukan pembakuan berdasarkan susastra Veda sehingga tidak berkembang tanpa arah yang jelas. Oleh karena itu, terkait dengan pelestarian kearifan lokal maka perbedaan itu patut dipelihara tanpa mempertentangkan antar satu dengan yang lainnya.

PENUTUP
Demikianlah hakikat Yajña Sattvīka yang diharapkan dapat mejadi solusi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan yajña, terutama ritual yang selama ini dirasakan sebagai beban oleh sebagian umat Hindu. Selanjutnya diharapkan agar setiap komunitas umat dapat menghimpun macam bentuk dan proses ritual kearifan lokal masing-masing sebagai bahan kajian dalam rangka pembakuannya untuk dijadikan dasar pelaksanaan yajña oleh komunitas yang bersangkutan.

Pelaksanaan yajña yang baik harus berimbang antara persembahan ritual dan pelayanan kemanusiaan.  Persembahan ritual ditujukan kepada Hyang Widhi Waśa dengan segala manifestasi kemahakuasaan-Nya sedangkan persembahan, pelayanan, pengorbanan lainnya ditujukan untuk memelihara harkat kemanusiaan dan tertib lingkungan alam. Dengan demikian, dalam setiap pelaksanaan yajña harus diupayakan memenuhi syarat-syarat pelaksanaannya sebagaimana disebutkan di depan, terutama untuk bantuan pendidikan, fakir miskin, dan anak terlantar serta pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan bersama.

Source: Keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Nomor: 04/Kep/SP/PHDI/IX/2017 tentang Yajña Sattvīka.
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *