Manusia Jauh

Jauh adalah ukuran jarak. Yang jauh tidak dilihat oleh mata. Kalau kelihatan, pastilah samar-samar. Karena samar-samar, pikiran pun menduga-duga, mungkin ini mungkin itu. Dalam hal duga menduga, pikiran sering salah. Karena salah, muncullah dugaan baru. Begitu seterusnya dan seterusnya begitu. Semakin lama pikiran semakin terlatih menduga-duga. Pikiran terus asyik membuat pertanyaan jauh-jauh. Semakin jauh, semakin samar, semakin asyik. Berikut ini contoh pertanyaan-pertanyaan yang jauh-jauh.

Yang kita sebut “sekarang” ini sebenarnya kapan? Sejujurnya kita tidak tahu. Memang kita diberitahu oleh sebuah kesepakatan besar, bahwa sekarang ini adalah hari anu, tanggal sekian, bulan anu, tahun sekian, abad kesekian. Isi pemberitahuan itu berdasarkan perhitungan kalender ini dan kalender itu. Tapi walaupun sudah diberitahu, tetap saja kita tidak tahu yang namanya “sekarang” ini sebenarnya kapan?

Kala bisa dijadikan sahabat

Kita tidak tahu kapan mulai adanya Waktu. Juga kita tidak tahu kapan Sang Waktu akan berhenti ada. Kita diberitahu cerita tentang kelahiran Sang Waktu. Ada pustaka yang berjudul Kala Tattwa. Ada yang berjudul Kala Purana. Ada yang berjudul Kala Jagra. Masih banyak lagi pemberitahuan lainnya. Kita baca teksnya berkali-kali. Kita dengar ceritanya berulang-ulang. Kita pikirkan isinya terus-menerus. Tapi tetap saja kita tidak tahu kapan Waktu itu mulai ada.

Kita diberitahu bahwa Kala berwajah seram, sakti, dan tidak mungkin diperangi. Kala tidak bisa dihindari dengan cara bersembunyi darinya. Namun demikian, kita diyakinkan oleh teks-teks itu bahwa Kala bisa dijadikan sahabat. Kala adalah sahabat yang tidak memiliki tubuh. Karena tidak bertubuh, maka Kala tidak kelihatan. Karena tidak kelihatan, maka tidak bisa dipandang dan tidak bisa dipegang. Begitulah, karena Kala tidak bisa dipegang, maka yang namanya “sekarang” pun tidak bisa dipegang.

Begitu hendak dipegang, ia berlalu. Yang namanya “kemarin” tidak bisa diulang. Sedangkan yang namanya “besok” belum ada. Bagaimana bisa bersahabat dengan yang memiliki sifat seperti itu? Kita simpan dulu pertanyaan ini di dalam pikiran. Mari kita bertanya lagi tentang topik yang lain, pertanyaan berikut ini pun masuk dalam kategori jauh-jauh.

Kita tidak tahu?

Kita ini sebenarnya berada di mana? Kita tidak tahu. Memang ada yang memberitahu bahwa kita ada di suatu desa bernama ini, di sebuah pulau bernama itu, di bagian sininya planet bumi. Kemudian pemberitahuan dilanjutkan, bumi katanya ada di sebuah galaksi. Orang sepakat menamainya Bimasakti. Galaksi itu dikatakan ada di satu gugusan entah apa namanya, dan entah di mana batas-batasnya. Setelah melewati batas itu, dan lagi setelah itu, dan begitu seterusnya, kita tidak tahu di mana sebenarnya semua itu. Kita tetap tidak akan mengetahuinya, walaupun dijelaskan oleh ribuan ahli sekali pun. Bukan salah ahli itu. Bukan salah kita. Karena ruang tak bertepi ini bukan soal penjelasan. Soal apakah ini? Kita simpan lagi pertanyaan ini di dalam pikiran. Mari kita bertanya tentang yang jauh-jauh lainnya.

Siapakah yang menciptakan semua ini? Sejujurnya kita juga tidak tahu. Jangankan mengetahui penciptanya, yang disebut “semua ini” pun tidak kita ketahui. Jangankan semua ini, sebutir debu saja belum tuntas kita ketahui. Dalam ketidaktahuan, kemudian kita diberitahu bahwa pencipta semua ini adalah Tuhan. Apakah pemberitahuan berulang-ulang itu berhasil membuat kita tahu siapa pencipta semua ini?

Tidak. Kita tetap saja tidak tahu. Kita tidak tahu Tuhan itu apa, atau siapa. Kita juga tidak tahu, bagaimana ciptaan ini diciptakan oleh penciptanya. Pemberitahuan tidak dengan sendirinya membuat kita tahu. Karena Tuhan ternyata bukan soal diberitahu atau tidak diberitahu. Lalu, Tuhan sebenarnya soal apa?

Baca: PADMA BHUVANA: Pura Sembilan Penjuru Nusantara Dimana Saja?

Pikiran kita dikurung oleh banyak penjelasan. Kiri kanan muka belakang atas bawah seakan telah penuh sesak oleh penjelasan. Ada penjelasan dari tattwa ini dan tattwa itu. Ada penjelasan menurut shastra jaman ini dan shastra jaman itu, Ada penjelasan berdasarkan tradisi di sana dan tradisi di sini. Ada penjelasan pribadi tokoh yang sudah mati dan yang masih hidup. Ada penjelasan dari mimpi yang tak diketahui di mana ujung di mana pangkalnya.

Apakah Tuhan menjelaskan dirinya? Silahkan berdebat seumur hidup tentang hal itu. Seandainya pun Tuhan menjelaskan siapa atau apa dirinya, apakah kita memiliki kecerdasan untuk memahaminya. Kalau pun Tuhan memperlihatkan wujudnya, apakah mata kita akan sanggup melihatnya? Kalau Tuhan berbisik-bisik tentang kerahasiaan dirinya, apakah kuping kita akan bisa mendengarnya? Upanishad sudah ribuan tahun lalu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak bisa dipikirkan, tapi karenaNya kita bisa berpikir. Tuhan tidak bisa dilihat, tapi karenaNya kita bisa melihat. Tuhan tidak bisa didengar, tapi karenaNya kita bisa mendengar.

Saatnya berhenti bertanya

Ada pendapat bahwa sang pencipta menjelaskan dirinya melalui hasil ciptaannya. Maksudnya, Tuhan menjelaskan dirinya melalui alam semesta ini. Dengan demikian, Tuhan mesti dicari di dalam semesta raya ini. Ternyata sama saja. Yang mencari tidak tahu apa atau siapa yang dicarinya. Ia juga tidak tahu siapa atau apa dirinya yang sedang mencari-cari itu? Tidak juga ia paham korelasi antara yang mencari dengan yang dicari. Sudah diberitahu bahwa Tuhan ada di alam semesta raya ini, tapi ia malah balik bertanya sebenarnya alam semesta raya ini ada di mana?

Baiklah, kita simpan saja semua pertanyaan di atas sebagai tabungan di dalam pikiran. Bukankah pelajaran di SD mengatakan menabung pangkal kaya. Tengok ke dalam, kita kaya dengan pertanyaan. Ada pertanyaan titipan dari orang-orang sebelum kita. Ada pertanyaan yang kita buat sendiri semenjak bisa berpikir. Kita juga sangat kaya dengan penjelasan. Tidak akan habis penjelasan itu dikonsumsi seumur hidup oleh pikiran yang selalu lapar. Tapi mengapa tetap saja kita tidak mengetahui, kita ini sebenarnya apa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana. Alangkah miskinnya kita yang katanya kaya ini. Alangkah bodohnya kita yang katanya sudah mulai pintar ini.

Sekarang tiba saatnya kita berhenti bertanya. Karena pertanyaan hanya menghasilkan jawaban. Karena jawaban hanya mengenyangkan pikiran yang lapar. Itu pun hanya kenyang sesaat. Pada saatnya pikiran akan lapar lagi. Pikiran akan kembali mencari-cari jawaban untuk dikunsumsinya. Begitu seterusnya, seterusnya begitu. Pikiran akan berhenti lapar hanya kalau ia sudah mati. Pikiran akan berhenti bertanya dan berhenti mencari jawaban kalau sudah mati. Malang sekali nasib kita, seumur hidup diombang-ambingkan oleh gelombang pertanyaan dan jawaban. Perahu pikiran tidak akan sampai di seberang. Pikiran yang tahu banyak jawaban seperti perahu sarat muatan. Pikiran yang tidak tahu jawaban seperti perahu kosong. yang sarat dan yang kosong sama-sama tidak bisa menyeberang.

Mari dengarkan dengan seksama apa kata Kidung Coak, sebuah karya sastra yang menyindir kepintaran pikiran. Karya ini sangat unik. Di dalamnya terdapat pandangan yang melewati batas-batas standar. Karya ini dipilih karena bisa dijadikan cermin, terutama untuk orang yang senang menabung pertanyaan di dalam pikirannya.

Kidung Coak menyindir kita dalam beberapa hal. Pertama, dikatakan bahwa kita menjadi bodoh justru karena kita ini rata-rata pintar. Dalam bahasa aslinya, seperti ini dikatakan: “awak belog ulian ririh” [diri bodoh karena pintar]. Maksudnya, dalam level tertentu tidak akan jelas lagi batas antara pintar dan bodoh. Spiritual bukan soal kepintaran. Pasti bukan pula soal kebodohan. Bukan karena pintar maka seseorang akan “ditemukan” oleh Tuhan. Bukan pula karena bodoh maka orang akan “menemukan” Tuhan. Pintar dan bodoh bukanlah sarana yang akan mendekatkan kita pada Tuhan. Maka berhati-hatilah seandainya kita ini pintar. Waspadalah seandainya diri ini bodoh.

Baca: CUNTAKA: Keadaan Tidak Suci

Sindiran kedua, dikatakan bahwa kita malah menjadi bingung, karena larut berfilsafat. Dalam bahasa aslinya dituliskan seperti ini: “paling katungkul ngulik tutur” [bingung lantaran asyik mengupas ajaran]. Kata tutur berarti sadar atau ingat. Misalnya dalam contoh kalimat, “yan matutur ikang atma rijatinya” [kalau atma sadar atau ingat dengan dirinya]. Kalimat itu terdapat di dalam kitab Wrehaspati Tattwa.

Kata tutur juga berarti ajaran. Misalnya dalam frase Tutur Bhagawan Indraloka. Frase tersebut adalah judul sebuah teks yang berisi ajaran seorang bhagawan bernama Indraloka. Yang dimaksudkan tutur dalam kutipan Kidung Coak di atas adalah arti yang kedua, yaitu ajaran.

Mengapa ajaran bisa membuat orang bingung? Menurut teksnya orang menjadi bingung karena keasyikan [katungkul], atau karena kebiasaan mengupas-ngupas [ngulik], atau karena kedua-duanya, yaitu asyik mengupas-upas ajaran. Orang yang sedang asyik, tidak akan ingat dengan apa-apa selain yang diasyikinya. Ia tidak akan ingat dengan dirinya. Tidak ingat dengan ruang. Tidak ingat pada waktu.

Yang jauh samar-samar kejar, yang dekat dibuang

Sindiran ketiga, kita tergoda oleh yang jauh-jauh, akhirnya yang dekat-dekat kita abaikan. Dalam bahasa aslinya, ditulis begini: “ane joh sawat kepung anepaek kutang [yang jauh samar-samar kejar, yang dekat dibuang].

Begitulah Kidung Coak satu bait tiga sindiran. Siapa yang disindir? Barangkali pengarang Kidung Coak ingin menyindiri pembaca pada jaman kidung itu ditulis, yang mungkin senang melihat yang jauh-jauh sehingga akhirnya tidak melihat apa-apa. Ingatlah, sesuatu yang sangat jauh tidak akan kelihatan. Barangkali pengarang Kidung Coak ingin menyindir pembaca jaman sekarang, yang mungkin terlalu dekat dengan tradisinya sehingga akhirnya tidak melihat apa-apa. Ingatlah, sesuatu yang terlalu dekat juga tidak akan kelihatan. Barangkali pengarang Kidung Coak hendak menyindir dirinya sendiri, yang melalui karya itu terbukti menuliskan hal yang sangat jauh dan sangat dekat. Ingatlah, sesuatu yang sangat jauh dan sangat dekat sama saja.

Ketika seorang pengarang menyindir dirinya, apalagi sampai mentertawakan dirinya sendiri, itulah pertanda bahwa ia tidak terlalu dekat dengan dirinya dan ia juga tidak terlalu jauh. Inilah yang dimaksudkan oleh Kidung Coak. Lain yang dikatakan, lain yang dimaksudkan!

Oleh: IBM Dharma Palguna
Sumber: Majalah Media Hindu

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *