Dasabahu

Obsesi seseorang di titik puncak menyisakan dua harapan. Diam, sebisa mungkin mempertahankan keberhasilan  atau dinamis menganggap kesuksesannya sebagai babak awal kehidupan baru. Dan, selanjutnya memilih keputusan pendakian kembali puncak maya yang masih diselimuti kabut temaram. Remang bayang-bayang dipucuk angan tiada henti sampai ajal menjemput dirinya.

Demikianlah, kondisi  yang dialami Raja Kasi bersama permaisurinya. Obsesi mempertahankan kejayaan negerinya seolah terputus saat usia mulai merambah, menggerogoti fisiknya yang mulai beranjak tua. Permaisuri yang dicintainya saban hamil, selalu saja melahirkan anak perempuan. Sampai-sampai dibenaknya timbul pertanyaan, “Akahkah kerajaan yang kubangun dari warisa leluhur akan diperintah oleh seorang wanita? Kalau memang demikian adanya, tak apalah mungkin sudah takdir yang sudha tertulis dalam suratan semesta keabadian ….” keluhnya dalam mebantin.

Saat Raja Kasi merenungi nasibnya, masih ada satu harapan. Memohon kepada Hyang Agung penguasa semesta untuk mengubah goresanNya agar perjalanan cita-citanya tiada tersandung. Diajaknya sang permaisuri  melakukan kebulatan tekad pasrah melaksanakan jalan dhyayi. Dalam perjalanan tapa, ternyata gangguan yang terjadi tidak kecil,  justru berkali-kali mereka dikejutkan oleh kejadian-kejadian maha gaib. Kalau saja imannya terguncang. Sudah tentu mereka akan mengambil keputusan sepihak, menghakhiri, lalu hengkang pulang kembali ke istana.

Keteguhan imannya dibuktikan, ketia Dewa Brahma menjelma menjadi kekuatan yang maha dahsyat. Menyeramkan. Menggoda sepasang penguasa negeri Kasi. Permaisuri sempat histeris, namun mereka tetap berusaha tegar. Kokoh, bagaikan batu karang di laut ganas. Tak mudah lepuh oleh hantaman badai.

“Aku kabulkan permintaan kalian, sebentar lagi di tubuh istrimu akan tumbuh janin lelaki yang kuat dan perkasa. Ia akan melindungi negeri kalian dengan kekuatan yang melebihi kekuatan para dewa….” sabda Dewa Brahma.

Mereka terbangun dari tapanya, makala wujud Dewa Brahma menghilang dikegelapan malam. Keduanya saling tatap, wajah mereka bersemu merah saking gembiranya. Tiada dirasakan lagi, hawa dingin menyengat tatkala menuruni pungkung bukit tempat pertapaan. Dalam perjalanan pulang, penuh mesra mereka bercengkrama di atas tunggangan kuda gagah yang setia menunggui di lembah. Ketika kuda melesat, melompati parit, mereka berpelukan dengan desah tertahan.

Berselang sekian hari, sejak sabda Dewa Brahma diterima, permaisurinya hamil. Raja Kasi terlihat gembira tiada kepalang. Sehingga ia melaksanakan acara selamatan bayi yang biasa dikenal dengan istilah “magedong-gedongan“. Acara itu memang berlebihan, sampai memakan tempo sebulan penuh.  Hal ini, sebenarnya keliru. Upacara yang seyogyanya dilaksanakan pada saat usia kehamilan lima atau tujuh bulan  di mana si jabang bayi sudah dirasakan sempurna dalam kandungan. Entahlah, setan apa yang mengusik pribadinya sehingga lupa akan nasihat-nasihat yang tersurat dala arsip Dewi Sastra.

Setelah janin berumur lima bulan, permaisuri merasakan ketakutan dan was-was di benaknya. Genap usia janin sembilan bulan, persalinan pun menanti. Raja Kasi harap-harap cemas menunggu kelahiran putra yang pernah dijanjikan Dewa Brahma.  “Ooeeekkk……” suara tangisan bayi membahana di tengah malam buta. Bayi harapan Negeri Kasi keluar dari garba Bunda Suri sembari menghirup nafas pertama yynag dianugerahi para Dewa.

Para emban dan dayang istana pada sibuk membantu persalinan. Di wajah mereka terlihat kegalauan yang sama,  namun mereka berusaha serapat mungkin mengunci mulutnya.

“Wahai, para dayang istana bawalah putraku ke hadapanku. Tak sabar diriku memeluknya…..” sapa Raja Kasi.

Mereka kebingungan, saling toleh. Emban tua menjawab gagap. “Maaf, Tu…..an….”

Melihat ekspresi panik mereka, raja terkejut, lalu memotong kata-kata emban. “Kenapa dengan permaisuriku….?!”

“Bukan permaisuri Tuanku, tapi ….”
“Sudahlah, aku tak mau tahu. Lekas bawa putraku, kemari….”

Tergopoh-gopoh emban tua membawa si bayi kehadapan ayahandanya. Saat selimut dibuka, betapa terkejut dirinya. Hampir saja Raja Kasi jatuh pingsan, kalau tidak segera dipapah pengawalnya. Bayi itu berwajah menyeramkan, dengan sepuluh tangan menggapai-gapai seperti sulur gurita.

“Mahluk apa ini…?!” teriaknya. Kemudian mundur menghindar, “Segera jauhkan dariku….!” teriaknya. Mendadak Raja Kasi seolah kehilangan akan, ia mengumpat seenak perutnya. Lalu berteriak seperti kesurupan.

“Oh jagad Dewata… dosa apa yang telah kuperbuat, sehingga engkau menghukumku seperti ini…” gerutunya memelas. Airmata yang mengambang di pelupuk matanya, luruh membilas persada.

Baca: RAHWANA: Benih Kehidupan yang Salah

Permaisuri yang mendengar teriakan baginda. Berusaha bangun mencari tahu, dan didapatinya putranya. “Anakku, permata hatiku…. kenapa sampai terjadi seperti ini…?” katanya tersedu. Tak kuat menahan perasaannya, ia pun terjatuh, terkulai pingsan.

Kehadiran bayi merubah suasan istana jadi lengang. Tiada lagi keceriaan, seperti sebelum ia lahir. Penghuni istana nampak berduka. Terlebih lagi, Raja Kasi dan permaisuri, mereka tersiksa oleh rasa gulana. Seringkali  mereka saling salahkan, berujung cek-cok. Saking jengkelnya, Raja Kasi mengambil keputusan untuk melarung putranya.

“Wahai, para menteri bawahanku. Sepertinya, Negeri Kasi akan tertimpa bencana jika bayi ini tetap tinggal di sini. Biarlah seluruh dosa, aku yang tanggung. Dengan berat hati, putraku akan kubuang ke laut…”

“Tuan, jangaaaaann…!” cegah Menteri sepuh.
“Memang tiada piliha lagi. Andaikata ia tetap hidup, dititpkan, dipelihara seseorang. Ia akan kembali, dan menguasai negeri ini…”

“Maaf bukan hamba lancang. Biar bagaimanapun jua, sang bayi adalah putra mahkota, kelak ia akan berhak menggantikan Tuanku..” potong Purohita kerajaan.

“Itulah, masalahnya.  Dengan wajah yang seram begitu. Aku khawatir, sifatnya seperti raksasa. Rakyat negeri ini akan tersiksa, aku tak menginginkan keadaan yang demikian. Satu-satunya jalan melenyapkan kengkaraan yang bisa terjadi… ya dengan cara melenyapkannya.”

Para menteri bergidik ketakutan. Ahkirnya, mereka sepakat menyetujui titah baginda. Permaisuri tak tahan, ia menangis sejadi-jadinya.

“Jangan kalian bunuh putraku…. biar aku saja yang menggantikannya….” Dipeluk erat putra kesayangannya. Ia berusaha melindungi dari setiap orang  yang berusaha hendak mengambil bayi yang digendongnya.

“Baiklah, andaikata putraku mati. Aku akan bunuh diri!” teriaknya. Lalu, mengambil sebilah keris. Saat itulah, sinar melintas di atas wuwungan istana. Dan masuk tepat  di tengah paruman, sekejap berubah menjadi buntalan kristal yang bersinar sejuk kemerahan. Dari dalam kristal muncul bunga padma di atasnya duduk dalam posisi bodyagri sosok pemuda berwajah tampan, bertangan sepuluh. Matanya mencocor tajam ke arah Raja Kasi yang terpaku laku.

Secepat kilah Raja Kasi menjatuhkan diri mengambil sikap menyembah. Diikuti oleh semua orang yang hadir.

“Maafkan, hamba yang nista ini, wahai Dewa Brahma Yang Agung junjungan kami…..”

“Raja Kasi, aku tak menyangka engkau akan senista ini. Tabiatmu, lebih rendah dari seekor binatang. Ya, seekor macan lapar, tak mungkin memakan anaknya sendiri. Sebaliknya, engkau mampu bertindak kejam. Tega hati membunuh anakmu sendiri. Ingatlah, tiada yang bisa meramal sifat seseorang di masa yang akan datang. Tidak juga engkau! Putramu kendati buruk rupa, belum tentu sebejat dirimu. Seseorang akan berubah jahat pada usia dewasa karena banyak sebab, bisa kerena lingkungan, didikan salah orangtua dan masih banyak yang lain.”

“Maafkan kekhilafan hamba. Berikan kesempatan hamba menebusnya.”
“Cabutlah, keputusanmu…”
“Hamba mencabutnya. Hamba salah, hamba siap menerima ganjaran.”

“Baiklah, aku memaafkan kekhilafanmu… berilah nama putramu Brahmaja Dasabahu. Ia, kuberkati menjadi orang yang sakti mendraguna tiada terkalahkan oleh dewa sekalipun. Kelak, ia akan mengawal dunia dan akan menjadi sahabat Wairocana yang akan segera turun menghancurkan angkaramurka….”

Baca: Manusia Dadu

Sinar sejuk rona merah keluar dari sepuluh telapak tangan Dewa Brahma kemudian menyelimuti tubuh Dasabahu. Dipelukan bundanya, bayi itu menggeliat. Dalam kedipan mata, Dewa Brahma pun lenyap. Mereka masih terhanyut.

Tatkala sadar, mereka tersentak kaget melihat perubahan sekujur tubuh bayi. Wajah seram sang bayi, tiba-tiba berubah menjadi tampan bak Dewa Asmara. Bahkan tangannya kembali normal, layaknya manusia biasa. Sepasang tangan lembut menggapai, menyentuh hidung bundanya. Bundanya penuh haru membenamkan wajah di dada si mungil yang meronta kegelian dengan senyum kemenangan.

Oleh: Putu Sugih Arta
Source: Majalah Media Hindu, Edisi 53 Juli 2008

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *