RAHWANA: Benih Kehidupan yang Salah

Perkembangan sifat dan perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang sudah dibawa sejak  lahir baik itu yang berasal dari kedua orang tuanya ataupun nenek moyangnya. Teori ini dikemukakan oleh seorang filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer, (tahun 1788 – 1860) yang dikenal dengan Teori Nativisme. Nativisme sendiri berasal dari bahasa latin ‘natus‘ artinya lahir atau ‘naitivus‘ artinya kelahiran atau bawaan.
(Sumber foto: Pantone Canvas Gallery)

Sehubungan dengan Teori Nativisme penulis ingin mengaitkannya dengan sejarah kelahiran Raja Alengka, Rahwana. Pandangan masyarakat pada umumnya menganggap bahwa Rahwana adalah sosok manusia yang memiliki sifat seperti raksasa, angkuh-ganas-penuh nafsu-buas-angkara murka dan lain sebagainya. Pandangan yang berbeda akan penulis coba ungkap dalam tulisan ini.

Penulis akan mencoba melihat dari sisi Rahwana sendiri. Mengapa sampai dirinya memiliki sifat dan perilaku seperti raksasa? Benarkah sifat keraksaan sepenuhnya adalah kesalahan dari Rahwana sendiri? mari coba kita telaah dalam kisah singkat di bawah ini.

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa kerajaan Alengka yang dipimpin oleh raja bernama Prabhu Sumali memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Dewi Sukesi. Kecantikan Dewi Sukesi bahkan mampu menandingi kecantikan para bidadari di kahyangan.

Suatu waktu, Prabu Sumali sangat ingin menikahkan anaknya Dewi Sukesi yang sudah dewasa. Keinginan Prabhu Sumali untuk menikahkan putrinya melalui sebuah sayembara yaitu pertarungan antara kstaria untuk mengadu kemampuan dan kebolehannya. Namun sayang, keinginan tersebut tidak mendapat persetujuan dari sang putri. Dewi Sukesi malah ingin memilih pasangan hidup dengan cara mengajukan sayembara bagi siapa saja yang dapat menjelaskan ajaran suci “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” maka ia akan bersedia menjadi istrinya.

Keinginan Dewi Sukesi tersebut membuat sang ayah menjadi terkaget-kaget. Sebab tidaklah mudah untuk menemukan seorang ksatria bahkan resi sekalipun yang dapat mengerti dan memahami ajaran suci “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu“. Prabhu Sumali selalu berusaha untuk memberikan pemahaman kepada Dewi Sukesi agar sayembara yang diajukan putri kesayangannya itu dihentikan. Tetapi tekad sang putri sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat lagi.

Di kerajaan Lokapala tersebutlah seorang raja sangat tampan bernarma Danaraja atau Danapati. Ia adalah putra dari Resi Wisrama dengan istrinya Lokawati. Resi Wisrama pada masa pemerintahannya sangat dicintai oleh rakyat Lokapala. Resi Wisrama memilih meninggalkan kenyamanan istana demi meningkatkan kesadaran rohaninya. Posisi raja Lokapala digantikan oleh putranya Danaraja.

Berita kecantikan Dewi Sukesi juga terdengar sampai ketelinga Danaraja. Ia pun sangat berhasrat ingin menikahi putri Prabhu Sumali itu. Suatu waktu Danaraja sowan ke kerajaan Alengka untuk menemui Prabhu Sumali dan menyampaikan keinginannya. Prabhu Sumali pun mempertemukan Danaraja dengan putrinya Dewi Sukesi. Pada pandangan pertama cinta Danaraja bertambah kuat setelah melihat kecantikan Dewi Sukesi.

Danaraja kemudian meyatakan perasaannya kepada Dewi Sukesi. Sesuai dengan apa yang sudah menjadi janji Dewi Sukesi bahwa ia akan menikahi siapapun yang dapat menjelaskan ajaran suci “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu“. Tanpa pikir panjang Danaraja menyetujui persyaratan itu. Danaraja kemudian kembali ke kerajaan Lokapala.

(Baca: Kajian Nilai-Nilai Pendidikan Spiritual Dalam Pustaka Kāma Sūtra)

Sambil berpikir dan tidak kuat sudah menahan rasa cintanya yang begitu besar kepada Dewi Sukesi akhirnya Danaraja menghadap ayahandanya Resi Wisrama dipertapaannya. Danaraja berharap sang ayah dapat membatunya.

“Om Swastyastu ayah,” salam Danaraja kepada ayahnya. “Terberkathilah engkau putra ku”. “Ada apa gerangan engkau datang kemari?” tanya Resi Wisrama. Danarajapun bercerita yang diawali dengan pertanyaan kepada ayahandanya.

“Ayah, apakah engkau benar-benar mencitai anak mu ini?” tanya Danaraja. “Tentu anak ku,” jawab Resi Wisrama. “Kalau begitu, maukah engkau memenuhi permintaan hamba,” lanjut Danaraja.

Tanpa pikir panjang Resi Wisrama pun menjawab. “Sebagai seorang ayah tentu saja aku akan memenuhi segala permintaan dari mu,” ucap Resi Wisrama. Danaraja kemudiaan mengutarakan perasaannya kepada ayahnya.

“Ayah, hamba ingin menikahi seorang putri dari kerajaan Alengka bernama Dewi Sukesi. Hamba sangat mencitainya. Dia adalah sosok wanita yang menjadi dambaan para pangeran kerajaan. Begitu juga hamba,” tutur Danaraja.

“Tentu saja ayah sangat mendukung mu anak ku…” ujar Resi Wisrama. Bahkan Resi Wisrama menyatakan bahwa raja Alengka, Prabhu Sumali adalah kawan lamanya dulu.

Danaraja lantas menyampaikan bahwa putri Prabhu Sumali mengajukan sebuah syarat bila dirinya ingin menikahinya. “Dewi Sukesi memberikan sebuah syarat kepada hamba. Putri sang raja meminta hamba bersedia mengajarkan ajaran suci Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu,” ujar Danaraja.

Mendengar syarat yang diajukan putri kerajaan Alengka, Resi Wisrama menjadi kaget dan merenung. “Benarkah yang diucapkan Dewi Sukesi itu anak ku,” tanya sang Resi. “Iya benar ayah, bahkan dari semua ksatria kerajaan tidak ada yang mampu. Bukankah ayah mengetahui ajaran itu?,” ujar Danaraja.

“Sebaiknya kamu mengurungkan niatmu untuk menikahi putri raja Alengka itu anak ku. Syarat yang diajukan Dewi Sukesi itu sangat berbahaya. Syarat itu akan menimbulkan malapetaka nantinya,” ujar sang Resi.

“Tapi bukankah ayah telah berjanji kepada hamba. Bahwa ayah akan memenuhi segala permintaan hamba,” ujar Danaraja. Sang Resi pun tertegun. Ia sudah terlanjur terjebak dengan ucapannya sendiri. Mau tak mau sebagai seorang resi yang telah menempuh pertapaan ia harus menepati ucapannya (Satya Wacana).

“Begini anak ku, engkau kembali saja dulu ke kerajaan mu. Kasihan rakyat mu telah lama kau tinggalkan mereka. Nanti setelah sebulan kau kembali. Kita akan berangkat bersama ke kerajaan Alengka menemui Prabhu Sumali,” ujar Resi Wisrama.

Mendengar ucapan ayahnya yang seakan merestui permohonannya, Danaraja menjadi berseri-seri. Cahaya kebahagiaan tergambar diraut wajahnya. Ia pun menuruti nasehat ayahnya agar kembali ke kerajaan Lokapala dan kembali setelah sebulan kemudian.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Danaraja dengan ketidaksabarannya kemudian menuju pertapaan ayahnya. Setelah sampai disana dengan segera ia mengajak Resi Wisrama menuju kerajaan Alengka. Singkat cerita diperjalanan sampailah Resi Wisrama dan putranya Danaraja di Alengka. Sang resi mendapat sambutan yang sangat hangat dari Prabhu Sumali karena mereka adalah kawan akrab yang sudah lama tidak bertemu.

Setelah berbincang cukup lama. Prabhu Sumali kemudian memanggil anaknya dan menyampaikan bahwa calon suaminya telah datang. Setelah bertemu kedua kalinya dengan Dewi Sukesi, rasa cinta Danaraja tambah menjadi-jadi. Bahkan Resi Wisrama pun ikut tertegun ketika melihat kecantikan sang dewi.

Dalam pertemuan itu, Resi Wisrama mencoba mengingatkan kepada Dewi Sukesi terkait keinginannya mempelajari ajaran suci “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu“. Sang resi menyatakan bahwa ajaran ini sangat suci. Tak semua orang bahkan resi sekalipun tak mampu menerimi ajaran ini.

“Sang dewi apakah engkau tidak berniat untuk membatalkan niat mu mempelajari ajaran suci ini..?,” tanya Resi Wisrama. “Tidak resi. Tekat hamba sudah bulat. Hamba sudah putuskan tetap akan mempelajari ajaran suci ini. Kalau sang resi tidak mampu silahkan resi mundur dari sayembara ini,” ujar Dewi Sukesi.

Sementara di kahyangan sana, para dewa panik dengan kejadian yang akan berlangsung di mayapada ini. Para dewa khawatir bila Resi Wisrama tetap mengikuti permintaan anak nya dan Dewi Sukesi maka mayapada akan mengalami ganguan dan bencana dikemudian hari.

Kembali ke topik perbincangan Resi Wisrama dan Dewi Sukesi. Karena desakan dari putranya Danaraja. Resi Wisrama tidak berpikir panjang lagi. Ia pun sepakat akan mengajarkan ajaran suci tersebut. Tetapi Resi Wisrama mengajukan sebuah persyaratan agar ketika dirinya menurunkan ilmu tersebut tak seorang pun yang boleh mendengarnya kecuali sang Dewi Sukesi.

Dewi Sukesi langsung sepakat dengan persyaratan sang resi. Mereka berdua kemudian menuju ke sebuah taman bunga yang sangat indah dan sejuk. Disanalah mereka kemudian bertemu dan duduk bersama untuk membicarakan ajaran suci “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu“.

Ajaran “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebuah ajaran yang menjelaskan tentang rahasia alam semesta yang tidak bisa diketahui dan diterima sembarang orang, baik di daratan, lautan, ataupun angkasa raya. Ajaran ini merupakan kunci bagi seseorang untuk dapat memahami isi indraloka, pusat tubuh dari manusia yang berada di dalam rongga dada yang merupakan pintu gerbang atau kunci sejati yang bersifat gaib. Karenanya, sastra ini adalah alat pemusnah segala bahaya. Sebab puncak dari segala macam ilmu telah tercakup di dalam ajaran suci “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu“.

Penjelasan tentang “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” pun mulai berlangsung. Ketika menjelaskan ajaran suci ini Dewi Sukesi mulai mengawang-awang pikirannya. Rasa dalam dirinya bergejolak dan tidak mampu ia tahan. Disisi lain Resi Wisrama pun merasakan hal yang sama namun ia selalu berusaha mengendalikan gelojak tersebut. Tapi sebagai manusia yang masih memiliki rasa dalam dirinya Resi Wisrama pun tak sanggup menolak gejolak tersebut. Pada akhirnya terjadilah kontak badan diantara keduanya yang dilandasi kebuasan nafsu mereka yang tak terkendali.

Menyadari kesalahan yang sudah terjadi Resi Wisrama pun memohon ampun kepada para dewa. Tapi apalah daya nasi telah menjadi bubur. Disisi lain mendengar kejadian tersebut putranya Danaraja menjadi amat kecewa dan mengutuk perilaku ayahnya. Bagaimana mungkin seorang resi yang telah bertapa ratusan tahun tak mampu menahan gejolak asmara dalam dirinya. Danaraja pun mengutuk bahwa benih kehidupan yang dilandasi dengan perbuatan dosa itu akan memberikan ancaman bagi dunia.

Singkat cerita Dewi Sukesi pun hamil dan telah mengandung kurang lebih sembilan bulan. Bayi dalam kandungannya selalu berontak. Dewi Sukesi pun tak kuat menahan. Bahkan masyarkat pun memberikan cemoohan-cemoohan kepada Resi Wisrama dan Dewi Sukesi. Sehingga mereka benar-benar mendapat tekanan bathin yang luar biasa.

(Baca: Dasabahu)

Dikisahkan bahwa lahirlah cabang bayi Resi Wisrama dan Dewi Sukesi dalam wujud gumpalan darah yang sangat besar dan nantinya akan menjadi sosok Rahwana. Dari gumpalan darah tersebut juga terlahir seorang bayi dengan telinga yang lebar dan hobbynya tidur ialah Kumbakarna. Ketiga lahir pula anak dari gumpalan darah yaitu seorang putri yang bernama Sarpa Kenaka.

Melihat tingkah laku putra dan putrinya yang lahir dari asmara nafsu yang tak terbendung itu membuat Resi Wisrama dan Dewi Sukesi menjadi sedih. Mengapa? karena watak dan perilakunya tidak mencerminkan sebagai sifat seorang anak resi. Melainkan seperti raksasa yang sangat buas dan penuh dengan nafsu serta angkara murka.

Kemudian Resi Wisrama dan Dewi Sukesi tidak mau terjatuh dalam lubang yang sama. Mereka pun memutuskan untuk melahirkan benih kehidupan yang didasari dengan rasa cinta dan kasih serta sebuah upacara keagamaan. Dari sinilah maka lahir seorang putra yang sangat bijaksana yaitu Wibisana. Sifat dan tabiatnya sangat berbeda dengan ketiga saudaranya. Wibisana memiliki sifat dan perilaku yang penuh dengan kelembutan, kebajikan, dan kebijaksanaan.

Berdasarkan dari cerita di atas bila dikaitkan dengan Teori Nativisme (perilaku bawaan lahir) maka teori ini sangat tepat sekali. Bahwa salah satu faktor yang sangat mempengaruhi sifat dan perilaku anak adalah faktor bawaan lahir. Bagaimana sikap orang tua ketika mulai menyemikan benih kehidupan itu perlu diperhatikan. Tatkala kita hendak menginginkan benih kehidupan yang lahir baik (suputra) maka lakukan dengan cara-cara yang baik dan benar sesuai aturannya.

Poin Penting:
Sifat dan perilaku penuh nafsu dan angkara murka yang dimiliki Rahwana bukanlah serta merta karena kesalahannya sendiri. Tapi melainkan – gen – sifat dan perilaku kedua orang tuanya yang juga demikian ketika menyemikan benih kehidupan. Sehingga sifat dan perilaku seperti itulah yang tercipta.

Begitu juga pesan pendidikan yang dapat diambil dari kisah Resi Wisrama dan Danaraja. Bahwa sebagai orang tua kita boleh memiliki rasa kasih dan sayang kepada anak. Tapi hal itu ada batasannya jangan sampai terlalu dituruti. Karena ketika orang tua menuruti segala permintaan anak bukan lagi anak yang menuruti orang tuanya maka hal ini akan memberikan dampak yang kurang baik.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.
Om lokah samastah sukhino bhavantu
Semoga semua mahluk berbahaya

Bagikan