Hindu Memandang Gerhana Bulan


Tulisan ini penulis angkat karena melihat fenomena gerhana bulan total (GBT) atau Super Blue Blood Moon yang terjadi beberapa hari lalu. Jutaan manusia mengarahkan pandangannya untuk menyaksikan fenomena langka ini yang katanya terjadi setiap 150 tahun.

Secara ilmu sains fenomena gerhana bulan sudah sangat lazim dan memang sudah menjadi siklus alamiah alam. Dimana ketika posisi Bulan sejajar dengan Bumi dan Matahari maka Bulan tidak akan mendapatkan pantulan caraya dari Matahari. 

Hindu sendiri memiliki cerita klasik dalam menjelaskan fenomena alam ini. Masyarkat di Nusantara juga memiliki kisah-kisah tersendiri untuk menceritakan peristiwa gerhana bulan ini.
Mitos kuno menjelaskan bahwa di kahyangan jagat tepat dari Dewa Wisnu atau Wisnu Loka dihuni oleh para dewa dan bidadari. Para bidadari ini memilik raut wajah yang sangat cantik. Salah satu diantara bidadari yang sangat cantik dan ayu itu adalah Dewi Ratih atau Dewi Bulan (Candra). Banyaknya bidadari yang ayu dan cantik menyebabkan wilayah Wisnu Loka kerap mendapat ancaman dari para raksasa. Salah satunya dari raksasa yang penuh nafsu yaitu Raksasa Kala Rau. Kala Rau memiliki wajah yang sangat menakutkan, bertubuh besar, dan kekar. Kala Rau juga sangat sakti karena ia telah mendapat anugerah dari para dewa.
(Baca: Kesucian Dicapai dengan Kesucian)

Dengan kesaktian yang tiada tanding, Kala Rau menjadi congkak dan berambisi ingin menyerang Wisnu Loka untuk merebut dan memperistri Dewi Ratih. Keinginan Kala Rau untuk menyerang Wisnu Loka karena didasari rasa dendamnya terhadap Dewi Ratih yang sudah menolak cintanya. Kesal karena kerap mendapat ganguan dari Kala Rau, Dewi Ratih mengadu kepada Dewa Wisnu. 

Dewa Wisnu akhirnya menghukum Kala Rau. Ia memanah leher sang raksasa hingga terputus dan terpisah dari badannya. Kepala Kala Rau jatuh dan masuk ke dalam telaga yang berisikan air suci kehidupan atau tirta amerta untuk keabadian para dewa. Adapun badan Kala Rau jatuh ke tanah dan mati.
Penghukuman itu membuat Kala Rau marah dan semakin dendam. Karena kepala Kala Rau yang sudah dibasuh oleh tirta amerta sehinga menjadi abadi. Kala Rau pun terus berusaha mengejar sang Dewi Ratih dan memangsanya. Disaat posisi Matahari – Bumi – Bulan berada pada posisi posisi sejajar maka saat itulah Kala Rau berkesempatan memangsa Dewi Ratih. Ketika Dewi Ratih dimangsa secara perlahan-lahan ia akan keluar kembali karena Kala Rau hanya memiliki kepala saja tanpa badan. 
Demikianlah sekilas kisah singkat terjadi gerhana bulan berdasarkan mitos dari beberapa daerah. Di beberapa wilayah di Indonesia masih mempercayai adanya mitos tersebut. Ketika terjadi gerhana bulan, masyarakat akan membunyikan kentongan dengan suara yang sangat keras. Hal ini tujuannya untuk mengusir Kala Rau sehingga Dewi Ratih atau Bulan bisa kembali bersinar menerangi Bumi. 
Ada yang istimewa terjadi saat gerhana bulan pada beberapa hari lalu. Di mana posisi bulan pada saat itu, ada pada jarak terdekat dengan Bumi, sehingga disebut Super Blue Blood Moon. Kejadian ini tentunya sangat langka sehingga jutaan masyarkat turut mengabadikan fenomena alama ini.

(Baca: Ilmu Pengetahuan Pelita Hidup)

Dalam kitab Atarva Veda XIX.9.10 dijelaskan sebagai berikut: 

OM SAM NO GRAHAŚCĀNDRAMASĀḤ ŚAMĀDITYAŚ CA RAHUṆĀ,

SAṀ NO MṚTYUR DHŪMAKETUḤ SAṀ RUDRĀSTIGMA TEJASAḤ 
Artinya:
Om Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa semoga di waktu antara Candra, Aditya, dan Kala Rahu ini memberikan keberuntungan untuk semua dan tidak berpengaruh buruk, tidak menyebabkan kematian  akibat kabut hitam dari fenomana alam namun penuh berkah dari keberadaan dan sinar suci Hyang Rudra. 
Dengan mantra dalam Atarva Veda XIX.9.10 semoga umat manusia mendapatkan berkah dari gerhana bulan. Mendapatkan penyinaran baik secara rohaniah maupun bathiniah. Karenanya, umat Hindu sendiri patut melakukan persembahyangan pada saat bulan purnama apalagi gerhana bulan.
Semoga tulisan ini dapat memberikan wawasan baru.
Om lokah samastah sukhino Bhavantu
Semoga semua mahluk berbahagia
Bagikan