Bolehkah Seorang Hindu Kaya?

Sata Hasta Samahara
Sahasra Hasta Samkira
(Atharwa Veda, III.245)

Artinya:
“Wahai umat manusia, perolehlah kekayaan (melalui jalan dharma) dengan seratus tanganmu, dan dermakanlah (dana punya) itu dengan kemurahan hati dengan seribu tanganmu”


(Sumber Foto Instagram HinduMenulis)

Hindu memiliki falsafah hidup yang harus dipahami dan dijadikan pedoman untuk mencapai tujuan hidup yang terarah. Tujuan hidup bagi manusia Hindu yaitu “moksārtham jagadhīta ya ca iti dharmah” yang arti sederhananya adalah “mencapai kehidupan yang damai dan bahagia baik di dunia sekarang maupun dunia setelah kematian”.

Sebuah konsep hidup yang diajarkan Hindu melegalkan agar manusia dapat hidup dengan bahagia untuk mencapai tujuan hidup yaitu Catur Purusārtha, yaitu: dharma, artha, kāmadan moksha. Empat tujuan hidup ini harus dijalani sesuai dengan tingkatan hidup manusia yaitu Catur Asrama.  

Ketika manusia berada pada masa Brahmacari maka yang menjadi swadharma manusia Hindu mencari ilmu pengetahuan dengan landasan hati yang suci murni berdasarkan dharma. Setelah memiliki cukup ilmu pengetahuan, manusia Hindu menjalani tahap kehidupan berikutnya yaitu gerbang berumah tangga atau Grhasta. Swadharma manusia Hindu pada masa Grshasra adalah mencari artha sebanyak-banyak untuk dapat memenuhi segela kebutuhan (kama) sehingga dapat menjalankan keberlangsungan kehidupan.

Tingkatan hidup manusia selanjutnya adalah Wanaprastha. Manusia Hindu sudah mulai meninggalkan segala keterikatan akan duniawi. Selanjutnya tingkatan hidup Bhiksuka atau Sanyasa. Manusia sudah meninggalan segala keterikatannya dengan duniawi.

Pertanyaan yang mendasar dari tingkatan hidup tersebut apakah sebagai manusia Hindu tidak perlu artha atau kekayaan?

Baca: Tiga Cara Mengembangkan Kekayaan Perspektif Hindu

Dalam konsepsi kehidupan sehari-hari, sebagai mahluk biologis dan sekaligus sebagai mahluk sosial kebutuhan hidup manusia sangat komplek. Oleh karenanya, agar kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya ini tertib dan harmoni dibutuhkan landasan filosofis agar tindakan manusia tearah.

Sloka di atas telah menjelaskan “Wahai umat manusia, perolehlah kekayaan (melalui jalan dharma) dengan seratus tanganmu, dan dermakanlah (dana punya) itu dengan kemurahan hati dengan seribu tanganmu”. Petikan sloka tersebut dengan sangat jelas menerangkan bahwa sebagai Manusia Hindu sangat wajib untuk kaya dengan catatan kekayaan yang diperolehnya harus berlandasakan dharma.

Dengan memiliki artha maka segala tahapan hidup yang dijalani akan lebih tearah. Bila kehidupan mejadi tearah maka akan timbul harmoni dalam hidup. Tatkala harmoni ada dalam hidup maka niscaya kebahagiaan akan terjadi dalam hidup ini. Karenanya, carilah artha sebanyak-banyak.

Yadnya yang Utama
Pada jaman kali yuga dalam beberapa sloka Veda dikatakan bahwa yadnya (persembahan) yang paling utama adalah berdharma dana (dana punya). Dengan berdana punya akan memberikan jalan bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Karena dengan dana punya juga mengajarkan manusia untuk peduli dengan sesama. Hal ini tentunya sesuai dengan ajaran Tat Twam Asi – aku adalah kamu, kamu adalah aku – memandang orang sama dan bagian dari diri sendiri.

Dalam pustaka Veda disebutkan tentang dana punya sebagai berikut:

Semoga kita dapat mengabdikan diri menjadi instrument Tuhan Yang Maha Esa dan dapat membagikan keberuntungan kita kepada orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.
(RigVeda, I.15.8)

Pemberian sedekah itu, bukan si bapa, bukan si ibu yang menikmati akan buah hasilnya itu, melainkan hanya orang yang berbuat kebajikan bersedekah itulah, ia saja yang menikmati buah hasil kebajikan, amal sedekahnya itu“.
(Sarasamuscaya, 169)

Yang disebut dana (sedekah) kata sang pandita, ialah sifat tidak dengki (iri hati), dan yang taat berbuat kebajikan (dharma), sebab jika tetap terus menerus begitu, senantiasa akan diperolehnya keselamatan, sama pahalanya dengan amal saleh yang berlimpah-limpah“.
(Sarasamuscaya, 170)

Maka hasil pemberian sedekah yang berlimpah-limpah, adalah diperolehnya pelbagi kenikamatan di dunia laik kelak; akan pahala pengabdian kepada orang tua-tua, adalah diperolehnya hikmah kebijaksanaan, yaitu tetap waspada dan sadar, adapaun akibat ahimsa yaitu tidak melakukan perbuatan membunuh adalah usia panjang; demikian kata sang pandita (orang arif bijaksana)“.
(Sarasamuscaya, 171)

Sebab di dunia tiga ini tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada berdanapunya (bersedekah), (umumnya) sangat besar terlekatnya hati kepada harta benda, karena dari usaha bersakit-sakitlah harta benda itu diperolehh“.
(Sarasamuscaya, 172)

Maka orang yang keadaan harta kekayaannya pasang surut, akan tetapi tidak dipergunakan untuk sedekah, ia itu tak lain dari orang mati, hanyalah karena bernafas, itulah bedanya dari mayat, tak ubahnya seperti puputan pandai besi“.
(Sarasamuscaya, 179)

Dari petikan-petikan sloka di atas jelaslah bahwa dana punya memiliki tujuan yang sangat mulia untuk membantu manusia menuju kebahagiaan bukan saja dirinya tetapi orang lain. Orang yang selalu membagikan harta bendanya maka ia akan lebih lapang jalan mencapai tujuan hidup (moksa).

Slokantara menyatakan bahwa seseorang yang berdana punya yang diberikan pada saat bulan purnama dan bulan mati akan menyebaban sepuluh kali lipat kebaikan yang diterima, jika pada waktu gerhana membawa pahala seratus kali lipat, jika pada hari suci sraddha, pemujaan kepada leluhur maka menjadi seribu kali lipat, dan jika dilakukan di akhir yuga (jaman kali), maka pahala yang didapatkan tak terbatas.

Baca: Nilai-Nilai Pancasila dalam Ajaran Hindu

Dengan begitu dana punya alah yadnya paling utama pada akhir jaman ini (jaman kali yuga). Seberapa besar pun harta benda yang kita miliki harus kita sisihkan untuk punyakan kepada orang lain. Karenanya sebagai manusia Hindu perlu menjadi kaya. Dengan kaya maka dia akan mampu menciptakan kebahagiaan hidupnya.

Menjadi kaya sebagai manusia Hindu tidak hanya harta benta saja tetapi kaya pikiran (cerdas – berpengatahuan), kaya hati (memiliki welas asih), dan kaya rasa. Kekayaan ini lah yang penting sebagai pondasi manusia Hindu dalam menjalani kehidupannya. Seperti tutur sang pandita (orang bijaksana) dana yang utama adalah kebajikan (dharma) bila hal ini terus menerus dilakukan maka akan memberikan kesalamatan dan pahala yang melimpah.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.
Om lokah samastah sukhino bhawantu
Semoga semua mahluk semesta berbahagia

Oleh: Komang Agus Sukra A

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *