Kajian Nilai-Nilai Pendidikan Spiritual Dalam Pustaka Kama Sutra

 

Om Swastyastu,

ABSTRACT

This study discusses the values of spiritual education contained in the Kāma Sūtra literature. This study is a literature review using the library. This research attempts to reveal the spiritual educational value whatever, are contained in the literature Kama Sutra compiled by Vatsyayana. And meaning kāma in literature Kāma Sūtra as a spiritual ascent. In the Kama Sutra contained spiritual values, namely, sacred values, the value of rituals and values of love. Every stage of life (chess dorm) will differ in meaning kāma. Brahmacaris period capitalize kāma to acquire knowledge. At the time of the Kama grshasta utilized to obtain offspring (pro-creation). At the stage of Wanaprasta and kāma bhiksuka used for union with Brahman. Vatsyayana says people who are intelligent, thoughtful attention to the problem of dharma, artha and kāma without becoming a slave of his lust it will get success in any business does. Kāma Sūtra also teaches to obtain a happy life, in harmony and harmonious then kāma needs to be grounded in ethics, self-control and spiritual disipline.


Keywords: Spiritual, Kāma Sūtra, Sacred, Ritual, Love and Ethics

Pendahuluan
Dewasa ini masalah kekerasan seksual, pemerkosaan dan perselingkuhan sudah semakin sering dijumpai di dalam masyarakat. Banyaknya masalah tersebut timbul karena ketidakmampuan manusia untuk mengontrol diri. Zaman sekarang sebagian besar manusia hanya memikirkan pemenuhan materi, salah satunya yaitu kāma atau keinginan. Baik itu keinginan akan kekayaan, makan, minum dan bahkan  keinginan nafsu birahi atau seks. Secara umum kebutuhan akan seks merupakan sesuatu yang penting. Akan tetapi, perlu dikontrol dengan baik, ada etikanya sehingga tidak menjerumuskan manusia ke dalam jurang penderitaan.

Kasus pemerkosaan, kekerasan seksual, dan perselingkuhan sudah menjadi musuh manusia di dalam masyarakat. Bahkan belakangan ini, kasus-kasus tersebut menjadi yang paling banyak terjadi di Indonesia. Kasus-kasus tersebut salah satunya seperti kasus perselingkuhan adalah masalah moral yang dimusuhi oleh siapapun namun digemari oleh sebagain besar orang. Pandangan miring yang ditunjukan oleh lingkungannya tidak membuat mereka jera untuk tidak mengulanginya. Perselingkuhan adalah hal yang paling penting dalam hidupnya bagi kaum pemuja seks yang telah kecanduan untuk selalu menikmatinya.

Pemahaman masyarakat akan seks hanya sebatas untuk memenuhi kāma (keinginan nafsu birahi). Sehingga ini merupakan pemahaman yang dangkal dalam masyarakat. Apabila diperdalam pemahaman tentang kāma, dapat diketahui bahwa dalam ajarana agama Hindu khususnya yang terdapat pada pustaka Hindu yaitu Kāma Sūtra menyatakan bahwa seks bukan hanya sekadar untuk pemenuhan terhadap kāma dalam wujud nafsu, melainkan bagaimana menjadikan kāma sebagai wujud cinta dan kasih. Dengan demikian kāma dalam wujud cinta dan kasih akan membawa seseorang pada tingkat yang tertinggi yaitu untuk mencapai tujuan hidup yang paling utama (moksa) atau penyatuan (unity) antara jiwa (atman) dan Tuhan (Brahman).

Kāma Sūtra yang dikompilasikan oleh Vatsyayana adalah pustaka yang menjelaskan dan menjabarkan secara erotis proses keintiman antara sepasang manusia (laki-laki dan perempuan). Karena itu, umat Hindu memandang Kāma Sūtra sebagai pustaka yang signifikan dalam memandu kehidupan etis manusia. Agama Hindu memandang proses keintiman merupakan hal yang sakral. Artinya ada aturan, ada etika yang terdapat di dalamnya yang menyangkut mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang dilarang, dan mana yang harus dihindari.

Melakukan hubungan badan yang sah dan sakral, dilakukan agar melampui hubungan badan. Artinya, hubungan badan tersebut memiliki dua tugas pokok, yaitu selain untuk melanjutkan keturunan yang berkualitas juga untuk mencapai kenikmatan yang magis. Seks yang magis adalah seks tidak hanya berupa kenikmatan badan melainkan akan menjadi sebuah sadhana spiritual yang mengantarkan seseorang menuju pencerahan.

Apa yang ingin diungkapkan oleh Vatsyayana dalam Kāma Sūtra sesungguhnya memberikan gambaran bagaimana manusia dapat mencapai sadhana spiritual melalui penyatuan (unity) tubuh dengan disiplin spiritual. Untuk mencapai disiplin spiritual, maka harus dilakukan dengan penuh etika. Sehingga dalam Kāma Sūtra hubungan badan itu merupakan pro kreasi, yaitu memperoleh keturunan yang baik (suputra) bukan rekreasi, hanya untuk mencari kesenangan nafsu (kāma) belaka.

Aspek inilah bagi kebanyakan orang tidak mampu dipahami dengan benar karena, dalam mindset manusia selalu menganggap bahwa seks adalah sesuatu yang tabu. Belum lagi bila dilihat bagaimana dunia Barat begitu banal menguraikan Kāma Sūtra sehingga aspek-aspek spiritual yang terdapat di dalamnya tidak dapat dijumpai.

Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk membahas permasalahan penddikan spiritual dalam Kāma Sūtra sebagai bahan penelitian. Penelitian ini tentunya sangat penting bagi semua golongan masyarakat. Penelitian ini juga sangat menarik untuk dikaji karena belum banyak para intelektual Hindu yang mengangkat tentang pendidikan spiritual khususnya yang tertuang dalam pustaka Kāma Sūtra. Oleh karena itu, terkait dengan penelitian ini, penulis akan mengambil judul “Kajian Nilai-nilai Pendidikan Spiritual Dalam Pustaka Kāma Sūtra”. Sesuai permasalahan yang penulis ungkapkan di atas, maka penulis membatasi masalah dalam penelitian ini hanya pada nilai-nilai pendidikan spiritual yang terdapat dalam Kāma Sūtra. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan penulis yaitu; 1) Nilai pendidikan spiritual apasaja yang terdapat dalam pustaka Kāma Sūtra?; 2) Bagaimakah pemaknaan kāma dalam pustaka Kāma Sūtra sebagai jalan pendakian spiritual?  

Pembahasan
Kesalahpahaman masyarakat, karena menilai Kāma Sūtra seolah-olah hanya menggambarkan secara dangkal tentang pemenuhan terhadap kāma. Nyatanya, bila dipahami lebih mendalam, Kāma Sūtra memberikan ilustrasi yang tidak saja indah, tetapi juga paparan filosofis yang substansial tentang kondisi alamiah manusia. Masyarakat awam memandang bahwa Kāma Sūtra adalah pustaka yang berbau ‘pornografi’, vulgar dan sangat erotis. Anand Krishna (2008 : 23) mengatakan apabila ingin mempelajari Kāma Sūtra, kita harus berpikiran jernih, matang dan bebas dari konsep-konsep baku yang selama ini mengatur hidup kita.

Kāma Sūtra dalam pandangan orang awam adalah pustaka yang berisi ajaran atau hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seksual yang demikian erotis. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan mengingat dalam pustaka Kāma Sūtra dijelaskan tentang cara mencapai kepuasaan seksual, dengan penuh cinta. Namun demikian perlu dipahami di dalam Kāma Sūtra terdapat ajaran yang berbicara tentang kebebasan. Seperti dikatakan Ki Guno Asrmoro (2005 : 3) dalam bukunya, “Kama Sutra dan Kecerdasan Seks Modern,” bahwa di dalam Kāma Sūtra terkandung ajaran-ajaran yang mencakup keselarasan serta keharmonisan dalam berbagai hal, termasuk tentu saja dalam hal cinta dan seluk-beluk seksual. Keselarasan dan keharmonisan dalam kehidupan yang utuh karena mencakup tiga hal di dalamnya, Dharma, Artha dan Kama.

Dalam Kāma Sūtra dikatakan bahwa “Kegiatan apapun yang mendorong pelaksanaan dharma, artha, dan kāma bersama-sama atau dua saja dari padanya, ataupun hanya salah satunya saja, harus dilakukan tetapi suatu kegiatan yang membantu untuk melaksanakan salah satunya dengan pengeluaran biaya dari dua yang tertinggal hendaknya jangan dilakukan (Maswinara, 1997 : 62)”. Dengan demikian, dapat disebutkan bahwa seseorang yang cerdas dan bijaksana adalah mereka yang mempunyai dharma, artha, dan kāma, tanpa harus diperbudak oleh nafsunya sendiri, akan mencapai keberhasilan dalam segala yang dilakukannya.

Intisari Kāma Sūtra
Sesungguhnya terdapat banyak naskah-naskah Kāma Sūtra yang telah disusun jauh sebelum Vatsyayana mengkompilasikan karya ini. Hanya saja naskah-naskah terdahulu yang disusun oleh para penyusun lainnya kebanyakan sudah tidak dapat dikenali lagi. Menurut sejarah, ada beberapa penulis Kāma Sūtra yang memiliki beberapa eksistensi historis di antaranya Nandin yang dikatakan telah menulis Kāma Sūtra sebanyak 1000 bab, dan selanjutnya Swetaketu atau Dattaka yang diyakini telah menyingkat Kāma Sūtra karya Nadin menjadi 500 bab. Mengenai Swetaketu terdapat dalam Brhadaranyaka Upanisad yang menceritakan tentang perdebatan filosofis mengenai simbolisme seksual.

Karya Nandin selanjutnya diringkas lagi oleh Babhrawya dan belakangan diketahui bahwa Vatsyayana membicarakan karya Nandin yang berjumlah 150 bab itu. Penyusun lain yang juga dikutip oleh Vatsyayana seperti, Gonikaputra, Ghotamukha, Gonarda, Carayana, dan Suwarnabha juga menulis berbagai aspek tentang masalah kāma. Rupanya Vatsyayana telah membicarakan sebagian besar karya-karya ini sementara ia menulis Kāma Sūtra-nya sendiri yang begitu luas penyebarannya di Indonesia. Kāma Sūtra dari Vatsyayana, yang ditulis sekitar akhir abad 3 Masehi, adalah karya lengkap pertama yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan tentang erotika. Pustaka ini terdiri dari 1250 penggalan aphorisma yang dikelompokkan menjadi 7 bagian besar, dimana 7 bab tersebut terdiri atas 36 sub bab dan 64 topik permasalahan.

Manfaat Mempelajari Kāma Sūtra
Vatsyayana mengkompilasikan Kāma Sūtra sejatinya bukan hanya diperuntukkan kepada orang yang menjalankan jenjang kehidupan yang kedua (grshasta), tetapi karya ini juga dianjurkan agar dipelajari oleh semua orang baik yang sudah tua maupun yang masih muda. Pada bagian terakhir pustaka Kāma Sūtra, Vatsyayana menuliskan pentingnya bagi orang yang sudah tua dan muda mempelajari pustaka ini. Bagi mereka yang sudah berpengalaman akan menemukan kebenaran hakiki ditambah dengan pengalaman yang telah mereka buktikan sendiri, sedangkan bagi mereka yang masih muda akan memperoleh keuntungan dari mempelajarinya yang beberapa hal diantaranya mungkin tak pernah mereka pelajari sama sekali atau barangkali sudah terlalu terlambat mempelajarinya untuk mengambil manfaat dari padanya.

Vatsyayana juga menyarankan pustaka ini dipelajari oleh para siswa ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan. Dan kepada siswa yang secara bertahap telah lolos dari saringan waktu, dan yang berniat untuk membuktikan sifat-sifat manusia, sekarang ini kebanyakan hampir sama dengan sifat manusia jaman dahulu (Maswinara, 1997 : 284). Bagi yang sudah menjalani kehidupan berumah tangga (grshasta) wajib untuk mengerti dan memahami ajaran Kāma Sūtra. Dengan memahami ajaran Kāma Sūtra maka kehidupan rumah tangganya akan menjadi bahagia, selaras dan harmonis. Karena inti dari Kāma Sūtra yaitu bagaimana seseorang dapat memberikan makna sebuah hubungan sehingga akan tercipta keselarasan dan keharmonisan dalam hidup.

1. Nilai Kesakralan

Di dalam ajaran agama Hindu sakralnya suatu hubungan badan hanya dapat dilakukan oleh sepasang suami istri yang sudah disahkan secara agama melalui suatu upacara yajn͂a. Selain itu, sakralnya suatu hubungan badan juga dipengaruhi oleh waktu. Ada hari-hari tertentu dimana hubungan badan tidak dapat dilakukan atau dilarang. Vatsyayana menyatakan dalam Kāma Sūtra bahwa “Apapun implikasi metafisikanya dan dalam legendanya, masyarakat secara ketat mengutuk kegiatan seksual bagi penduduk awam diluar dari ikatan perkawinan. Perkawinan bukan sekedar pengungkapan dari kāma saja, tetapi itu kewajiban sakral (Maswinara, 1997 : 45-46)”.

Ungkapan di atas jelas menyatakan bahwa suatu hubungan badan atau persetubuhan baru dapat dilakukan ketika seseorang sudah mempunyai ikatan perkawinan. Suatu perkawinan juga tidak hanya semata-mata untuk memenuhi kepuasan nafsu, melainkan itu adalah suatu kewajiban sakral. Dikatakan sebuah kewajiban artinya seseorang yang melakukan suatu perkawinan mempunyai tujuan untuk melahirkan keturunan atau anak yang suputra.

2. Nilai Ritual

Manusia pada prinsipnya tidak terlepas dari pola-pola perilaku ritual. Semua kebudayaan di muka bumi ini memiliki bentuk-bentuk ritual tertentu, seperti, masa mengandung, kelahiran bayi, inisiasi, ritual masa pubertas (menek bajang), perkawinan, ritual berhubungan dengan alam, dengan Tuhan dan sebagainya. Ritual-ritual tersebut dilakukan berbeda sesuai dengan tempat dan waktu. Tempat dan waktu inipun memiliki kekhususan karena diyakini memiliki pengaruh yang luar biasa bagi pelaku ritual yang meyakininya (Suwantana, 2007 : 67).

Dalam Kāma Sūtra aspek ritualitasnya bukan berkaitan dengan masalah sarana (bebantenan) dalam ritual. Aspek persembahan dalam pustaka ini berkaitan dengan bagimana seseorang mempersembahkan kebahagiaan mereka dengan mengungkapkannya melalui cinta kasih. Anand Krishna (2006 : 92) mengatakan bahwa dalam Kāma Sūtra, hubungan seksual dianggap sebagai suatu persembahan. suami mempersembahkan kenikmatan kepada istri dan istri mempersembahkan kenikmatan kepada suami. Lalu kedua pasangan mempersembahkan kenikmatan itu kepada Tuhan. Triyanto  (dalam Suwantana, 2007 : 68) menyatakan ritual memiliki banyak unsur seperti, berkorban, menari, menyanyi, berpawai, berpuasa, bertapa, sholat, intoksikasi, dan ada juga dengan bersenggama seperti di Gunung Kemukus.

Dalam Kāma Sūtra dikatakan “Pada malam hari diselenggarakan nyanyian bersama atau bergantian dan setelah itu kepala keluarga bersama dengan teman-temannya menunggu dalam kamarnya yang sebelumnya telah dihiasi dan diberi wewangian. Yang berikut ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan: (1) Mengadakan pesta perayaan dalam rangka menghormati berbagai wujud dewata; (2) perkumpulan sosial dari kedua jenis kelamin (3) pesta minum-minuman; (4) mengadakan darmawisata; (5) hiburan masyarakat lainnya (Wasminara, 1997 : 72)”. Dengan demikian dapat dipahami bahwa sebelum seseorang melakukan hubungan mereka terlebih dahulu mempersiapkan diri, memilih tempat, menyiapkan tempat, dan membersihkan diri. Selanjutnya mereka melakukan pesta perayaan untuk menghormati para dewata. Selain itu juga, ada rapalan mantra yang diucapkan ketika melakukan suatu hubungan untuk membangkitkan kekuatan para dewa yang bersemayam dalam tubuh. Dalam teks Samarakridalaksana juga menguraikan bahwa seseoang suami sebelum melakukan hubungan hendaknya terlebih dahulu melakukan sebuah ritus. “Ini adalah yoga yang hendaknya dilakukan oleh suami menjelang senggama, pusatkan konsentrasi pada tulang ekor. Di sana ada tunjung merah berkelopak tiga, diintinya ada api, tunjung ini tumbuh dari kolam berbentuk bulat.  Di dasar kolam itu ada kura-kura api, hendaknya penis dibayangkan sebagai kepala dari kura-kura api tersebut. Di sana ada wijaksara “Ong”, yang merupakan inti dari menyatunya semua rasa, inilah yang dinyatakan sebagai Dewa Kama (Aryana, 2006 : 68)”.

Dengan demikian, ritual dalam suatu hubungan badan penting untuk dilakukan. Melalui ritual, kāma dalam diri manusia disakralisasi sehingga tidak menimbulkan ketidakharmonisan, serta ketidakselarasan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, ritual perlu dilakukan agar kāma dalam diri menjadi positif. Dengan kāma yang positif akan mampu mengantarkan seseorang mencapai penyatuan diri dengan Yang Maha Tunggal.

3. Nilai Cinta Kasih

Melakukan hubungan badan merupakan sebuah sadhana apabila mampu mengarahkan energi kāma ke dalam, sehingga harmoni muncul. Sejauh hubungan badan itu dilakukan dengan cara yang benar dan baik sesuatu kode etik. Osho (dalam Suwantanu, 2007 : 43) menyatakan bahwa seks hanya dapat menjadi sarana bukan tujuan. Sarana akan berarti apabila tujuan tercapai. Apabila seseorang menyalahgunakan sarana, maka seluruh tujuan akan musnah.

Sebagaimana ajaran Vedanta dan yoga secara  luas menyatakan bahwa tubuh adalah pura. Tubuh merupakan wahana terbaik bagi pertumbuhan spiritual dan merupakan simbol yang terbaik, juga untuk menyadari berbagai perwujudan kekuatan kosmos. Manusia adalah miniatur dimana seluruh ciptaan ada semua di dalam dirinya. Karena itu harus menghargai tubuh ini dan memberinya perhatian sebagaimana mestinya. Melalui tubuh ini akan mendapatkan pengalaman berharga, melalui tubuh yang sama pula kita bergerak menggapai pencerahan (Yuniarti, 2003 : 22).  

Untuk mencapai spiritual seseorang harus mampu merulah kāma dalam wujud nafsu menjadi kāma dengan penuh cinta dan kasih. Seseorang yang mampu merubah kāma dalam wujud cinta dan kasih, maka dia sesungguhnya sudah memiliki kesadaran Tuhan. Segala ungkapan cinta kasih dengan kesadaran Tuhan itu dipersembahkan. Hal itulah yang menjadi kekuatan (spiritual) bagi seseorang yang sudah mampu mencapai kāma dengan penuh cinta dan kasih. “Hasil dari semua perkawinan yang baik adalah cinta kasih (Maswinara, 1997 : 165)”, ungkapan singkat namun jelas yang dinyatakan dalam Kāma Sūtra bahwa suatu perkawinan adalah untuk membangun cinta kasih dalam suatu keluarga. Perkawinan yang penuh dengan cinta kasih akan membawa keluarga tersebut dalam kebahagiaan. Hal ini tidak terlepas dari bagaimana seorang suami istri membangun kehidupan yang selaras dan harmonis. Kehidupan yang harmonis dengan penuh cinta dan kasih dibangun dari seorang suami yang mampu menyenangkan istrinya. Demikian juga sebaliknya seorang istri memberikan kesenangan kapada suaminya.  

4. Memaknai Kāma Dalam Setiap Tahapan Catur Asrama

Hindu mengajarkan bahwa dalam menjalani hidup, manusia memiliki empat tujuan yang harus dipenuhi secara seimbang dengan menetapkan satu tujuan yang paling tinggi. Empat tujuan hidup tersebut menjadi dasar filosofis Kāma Sūtra. Sejak zaman dahulu tujuan kehidupan manusia dijelaskan, dimantapkan dan dinyatakan sebagai, dharma, artha, kāma dan moksa. Dalam Kāma Sūtra ketiga hal yang pertama, yang dikenal sebagai triwarga, harus dilaksanakan dalam kehidupan ini. Ketiga hal itu bila dilakukan secara berhasil, akan mengantarkan seseorang menuju moksa, yang dinyatakan sebagai sebagai pembebasan tertinggi sang jiwa dari siklus kelahiran (reinkarnasi) dan dengan melaluinya seseorang harus menyelesaikannya untuk memurnikan dirinya sebelum bergabung ke dalam jiwa kosmis (Brahman).

Kāma Sūtra menyatakan bahwa kāma bukan hanya sekadar kasih sayang (cinta kasih), keinginan sensual, nafsu, birahi, nama dewa Hindu dan lain sebagainya; tetapi ia juga merupakan prinsip filosofi dan dianggap demikian sejak awalnya (Maswinara, 1997 : 41). Melalui kāma seseorang dapat meraih kesatuan, dan realitas itu adalah sama. Kāma sebagai prinsip keinginan merupakan sumber keberadaan dan mulainya penciptaan. Jadi, ia adalah Yang Tunggal, Yang Awal, dan yang mewujudkan dirinya dalam kejamakan ini tanpa menghancurkan intisarinya sendiri.  Namun, karena kāma juga bisa menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Dalam sloka Sārasamuccaya, 422 dinyatakan “Karena orang yang menuruti pengaruh hawa nafsu untuk memenuhi keinginannya, tidak ada kemungkinannya ia akan merasa kenyang,  apalagi akan beroleh kepuasan, sebagai ayam hutan yang kepanasan, mencari naungan di bawah bayangan burung elang yang sedang terbang melayang; bilakah ia akan memperoleh kesenangan bernaung (Kadjeng dkk, 2005 : 315)”.

Oleh karena itu, Hindu mengajarkan bahwa kāma itu tidak untuk dimusnahkan melainkan dikendalikan. Sejalan dengan itu pustaka Kāma Sūtra mengajarkan bagaimana energi kāma itu dirubah, dari yang awalnya berbentuk nafsu menjadi cinta dan kasih. Dalam sloka Kāma Sūtra dijelaskan “Orang cerdas dan bijaksana, yang memperhatikan masalah Dharma, Artha dan juga kāma tanpa menjadi budak dari nafsunya, akan memperoleh keberhasilan dalam segala sesuatunya yang mungkin ia lakukan”. Artinya seseorang yang ingin mencapai tujuan hidupnya dengan sempurna harus menghindarkan diri dari keterikatan kāma. Ketika seseorang dalam menjalani kehidupan ini terikat akan pengaruh kāma maka segala tujuan hidup yang diidam-idamkan tidak akan pernah terwujud. Vatsyayana dalam Kāma Sūtra menegaskan “Tidak sedikit pula yang dihancurkan, karena membiarkan diri mereka dikuasai oleh nafsu (pradhanya kāma)”, kehancuran yang dimaksud oleh Vatsyayana adalah ketika seseorang gagal dalam mengemban Empat Tujuan Hidup. Karena selepas mengalami kesejahteraan materiil dan cinta, tahap selanjutnya yang lebih tinggi adalah pembebasan atau Moksa.

Setiap tujuan hidup tentu akan mengalami perbedaan penekanan dalam tahapan jenjang kehidupan manusia. Khususnya pada tujuan hidup yang ketiga yaitu kāma. Dalam jenjang kehidupan manusia akan memberikan suatu pemaknaan yang berbeda dalam memenuhi kāma itu sendiri.

a. Brahmacari Asrama
Seseorang yang berada pada tahapan kehidupan brahmacari, masa menuntut ilmu pengetahuan atau belajar, akan memandang bahwa kāma adalah sesuatu yang harus dikendalikan. Pada tahapan brahmacari, seseorang pantang atau dilarang untuk memenuhi hasrat kāma sebagai pemenuhan keinginan terhadap nafsu birahi. Wiana (1997 : 54) mengatakan kewajiban seorang brahmacari adalah melakukan tattwa dyatmika dan guna widya. Tattwa diatmika adalah ilmu pengetahuan tentang rahasia spiritual untuk meningkatkan kedewasaan rohani dalam menghadapi perjalanan hidup. Sedangkan guna widya adalah ilmu pengetahuan yang dapat dipakai memperoleh berbagai keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan dalam memelihara dan meningkatkan mutu hidup.

b. Grshasta Asrama
Tahapan kehidupan manusia yang kedua yaitu grshasta, masa berumah tangga. Pada masa ini seseorang dikatakan wajib untuk mempelajari Kāma Sūtra untuk dapat membentuk keharmonisan dan keselarasan dalam keluarga. Memiliki kehidupan keluarga yang harmonis merupakan dambaan bagi semua keluarga. Kehidupan keluarga yang harmonis tidak lepas dari bagaimana mereka mampu memaknai kāma sebagai energi yang tujuannya bukan hanya untuk pemenuhan terhadap keinginan nafsu birahi mereka semata. Pada tahapan ini seseorang laki-laki atau perempuan barulah dapat melakukan hubungan suami istri dengan tujuan untuk memperoleh keturunan suputra, serta harus melakukan upacara perkawinan (wiwaha samskara) yang sah dan sakral secara agama (sekala dan niskala). Upacara perkawinan yang sah dan sakral penting dilakukan agar kāma seseorang tidak menjadi liar.  

c. Wanaprasta Asrama
Tahapan kehidupan wanaprasta, di mana seseorang mulai sedikit demi sedikit meninggalkan ikatan keduniawian. Orang yang sudah berada atau mulai memasuki tahapan wanaprasta, tidak lagi memikirkan kāma dalam kaitannya dengan nafsu birahi. Pada masa ini dikatakan, bahwa seseorang akan kembali kepada masa yang pertama yaitu brahmacari, mencari ilmu pengetahuan yang lebih cenderung ke arah paravidya. Pada masa ini bukan berarti kāma seseorang sudah hilang. Kāma pada masa wanaprasta tidak lagi bersifat fisik tetapi sudah berubah menjadi kāma yang bersifat rohani-spiritual. Perubahan itu disebabkan karena seiring bertambahnya umur, maka kekuatan fisik sudah semakin menurun, kemampuan daya pikir sudah berkurang. Sehingga energi kāma harus diarahkan ke atas agar menjadi kekuatan yang disebut ojas. Kekuatan ojas inilah yang akan membuat seseorang akan tetap mampu beraktifitas dan pikiran tetap menjadi fokus. Kalau ini tidak dipahami, maka akan terjadi penurunan kesehatan fisik, mental dan spiritual. Artinya, terjadi penurunan fungsi-fungsi organ tubuh termasuk seluruh indria-indrianya.

d. Bhiksuka Asrama
Bhiksuka atau sanyasin merupakan masa dimana seseorang tidak lagi memikirkan hal tentang keduniawian. Seorang sanyasin sudah lepas tidak terikat lagi oleh materi, keluarga, dan lainnya yang bersifat duniawi. Masa sanyasin, tujuan utama hidupnya adalah moksa yaitu kebebasan rohani, kebahagian dan penyatuan diri dengan Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi. Pada masa ini bhiksuka orang tidak akan dapat lagi memperoleh kesenangan hidup melalui alat-alat tubuhnya. Karena pada masa ini fungsi alat-alat tubuh sudah sangat lemah, sehingga untuk mendapatkan kenikmatan hidup yang bersifat duniawi sudah tidak mungkin lagi. Hal inilah yang mengharuskan seorang bhiksuka untuk melepaskan masalah artha dan kāma. Dengan menjadikan tujuan utama hidupnya, yang hanya ditujukan pada dunia spiritual (kebebasan rohani).

5. Sebagai Penyatuan

Agama Hindu memandang ketika seorang laki-laki dan perempuan melakukan hubungan badan (seksual) maka di sana sejatinya ada penyatuan dua simbol yang sangat suci yaitu lingga dan yoni. Dalam pemujaan agama Hindu khususnya penganut Siwa berlandaskan pada prinsip kesuburan (The procreative principles). Tuhan dipuja berdasarkan konsep Purusa dan Prakerti yang sering diwujudkan dalam bentuk lingga dan yoni. Lingga adalah simbol Siwa sebagai purusa dan yoni sebagai simbol Parwati sebagai prakerti atau Shakti. Persatuan Siwa dan Shakti melahirkan wujud Ardhanareswari yang berjenis kelamin neuter (Suwantana, 2007 : 51).

Konsep penyatuan dua simbol lingga dan yoni inilah sejatinya yang terjadi ketika seseorang melakukan hubungan badan. Fromm (dalam Suwantana, 2007 : 52) menyatakan penyatuan seksual sesungguhnya suatu konsep polaritas, yaitu hasrat kesatuan dari kutub-kutub maskulin dan feminim. Prinsip-prinsip polarasi antara laki-laki dan perempuan juga ada dalam setiap lelaki dan perempuan. Secara fisiologis laki dan perempuan memiliki hormon seksual yang berlawanan, disebut biseksual. Di dalam diri lelaki maupun perempuan terkandung prinsip menerima dan penetrasi, baik atas hal material maupun spiritual. Lelaki dan perempuan menemukan kesatuan dalam dirinya hanya dalam kesatuan atas polaritas kelelakian dan keperempuanan. Polaritas inilah yang menjadi dasar dari segala kreativitas. Polaritas tersebut apabila dimaknai secara mendalam, tidak hanya terjadi kesatuan antara laki-laki dan perempuan saja. Kemanunggalan dapat dicapai dalam sexual intercourse sebagai bentuk dari polaritas tersebut, sepanjang terjadi transformasi dari hubungan biasa menjadi hubungan luar biasa.

Penggunaan simbol-simbol dalam Hindu dipakai sebagai pemujaan yang tentunya sangat dekat dengan lakon kehidupan sehari-hari. Berhubungan badan (penyatuan lingga-yoni) dijadikan sebagai simbol tertinggi untuk mewujudkan Yang Tak Terbatas tersebut. Seorang penganut Tantra akan memahami bahwa  manunggalnya atman dengan brahman daapat dilakukan melalui ajaran Tantraisme, di mana simbol lingga sebagai laki-laki dipadukan dengan yoni. Perpaduan antara dua simbol tersebut akan membentuk ardhanariswari, sebuah bentuk atau wujud dimana tubuh yang sama dibagi, yakni lingga (Siwa) dan yoni (Parwati/Shakti).

Tubuh yang dibagi oleh Siwa dan Parwati masing-masing mencerminkan separuh bagian dari bentuk yang sama. Artinya separuh bagian berwujud Siwa, satu bagian lainnya merupakan perwujudan Parwati, pasangannya. Satu wujud mempunyai dua bagian: setengah laki-laki, setengah wanita. Kedua belahan ini menyatu dan manunggal di dalam satu wujud. Acintya atau disebut juga Sang Hyang Tunggal atau Sanghyang Licin merupakan wujud panunggalan itu. Dalam wujudnya sebagai Acintya jenis kelamin: laki-laki atau wanita tidak nampak lagi. Di sini tidak ada batas pemisah atau pembeda Siwa dengan Sakti, Purusa dengan Pradhana, laki-laki dengan perempuan. Pada dasarnya konsep ini memposisikan dua kekuatan yang berbeda, saling bertolak belakang dalam sifat sebagai kekuatan yang disatukan untuk mencapai panunggalan (Suamba, 2007 : 309). Hal senada dinyatakan Baal (dalam Koenjaraningrat, 1987 : 79-80) bahwa penyatuan antara Shakti dengan Siwa inilah menggambarkan penyatuan energi untuk menuju tingkat ketuhanan.

Kesimpulan
Dari uraian dan penjelasan-penjelasan di atas maka penulis menyimpulkan nilai-nilai pendidikan spiritual dalam pustaka Kāma Sūtra sebagai berikut:  

1. Nilai Kesakralan, Kāma Sūtra memandang bahwa hubungan badan merupakan sesuatu yang sakral. Sakral dalam arti tidak dapat dilakukan oleh seseorang yang belum memiliki ikatan suami istri dan melalui suatu upacara yajna (wiwaha samskara). Kāma Sūtra mengutuk siapapun yang melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan. Selain itu, sakralnya suatu hubungan badan karena terdapat etika di dalamnya. Dimana sepasang suami istri dilarang melakukan hubungan pada waktu-waktu tertentu.

2. Nilai Ritual, yang dimaksudkan dengan nilai ritual adalah memberikan persembahan, memberikan penghormatan kepada para dewa yang bersthan dalam tubuh manusia. Nilai ritualitas disini juga bukan hanya dalam bentuk sarana (banten). Melainkan seorang suami istri sama-sama saling memberikan penghormatan dan mengahargai satu sama lainnya.

3. Nilai Cinta Kasih, dalam Kāma Sūtra dikatakan bahwa hasil dari suatu perkawinan adalah menimbulkan cinta dan kasih. Suatu rumah tangga akan meningkat spiritualnya apa bila seorang suami istri hidup rukun, bahagia, selaras dan harmonis. Dengan hidup rukun, bahagia dan harmonis apapun bisa tercapai. Mencari artha akan mudah. Kehidupan rumah tangga yang didasari cinta kasih serta sesuai dengan etika dan pentunjuk Weda akan dapat melahirkan anak yang suputra.

4. Memaknai Kāma dalam Setiap Asrama, setiap kelahiran seseorang pasti memilki kāma, karena hal itu merupakan awal mula terjadinya penciptaan. Seseorang tanpa kāma dia tidak akan memiliki gairah hidup. Hanya saja kāma tersebut jangan diperkosa dan diperlakukan semau-mau manusia. Oleh karena itu, kāma tersebut harus diarhakan kepada hal yang positif. Kāma seorang brahmacari difokuskan pada pikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Seorang grshasta kāma digunakan untuk memperoleh keturunan yang suputra dan membentuk keluarga yang bahagia, harmonis berlandaskan cinta kasih. Pada masa wanaprasta dan bhiksuka kāma digunakan bukan pada pemenuhan kebutuhan fisik tapi kepada penyatuan diri dengan Tuhan (samadhi).

5. Sebagai Penyatuan, Kehidupan yang dilandasi dengan cinta kasih akan membawa seseorang dalam mencapai penyatuan. Energi cinta kasih merupakan energi yang berkesadaran Tuhan. Seseorang yang menerapkan pola cinta kasih dalam hidupnya maka dia berada dekat dengan Tuhan. Dalam ajaran Tantra yaitu maithuna penyatuan dilakukan dengan mempertemukan antara siwa dengan saktinya.

Salah bahagia.
Om santih santih santih Om

Daftar Pustaka
Adiputra, Gede Rudia dkk. Dasar-Dasar Agama Hindu. Jakarta : Lestari Karya Megah, 2004.

Ahuja, M.L. Para Guru Spiritual India Abab Ke Dua Puluh. Surabaya: Paramita, 2007.

Alwi, Hasan, at all. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balaipustaka, 2003.

Asmoro, Ki Guno. Kamasutra dan Kecerdasan Seks Modern. Yogyakarta : Smile-books, 2005.

Krishna, Anand. Jalan Kesempurnaan Melalui Kama Sutra. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Bulaeng, Andi. Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta : ANDI, 2004.

Bungin, M Burhan. Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana, 2007.

Donder, Ketut. Teologi: Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Surabaya: Paramita, 2009.

Ghoni, Muhammad Djunaidi. Nilai Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1982.

Gulo, W. Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), 2002.

Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

Kaelan, M.S. Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta: Paradigma, 2009.

Kadjeng dkk, I Nyoman. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita, 2005.

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta : UI Pres, 1987.

Madrasuta, Ngakan Made. Spiritualitas Hindu untuk Kehidupan Modern. Jakarta: Media Hindu, 2007.

Maswinara, I Wayan. Kāma Sūtra. Surabaya: Paramita, 1997.

Muzir, Inyiak Ridwan. Hermeneutika Filosofis Han-George Gadamer. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.

Nala, Ngurah. Ayurveda Ilmu Kedokteran Hindu. Depasar : Upada Sastra, 2001.

Ngurah, Gusti Bagus. Kajian Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Adiparwa. Jakarta: Jurna Pasupati Vol. 1 No. 1. Jan-Juni, 2012.

Praptini, dkk. Materi Pokok Metodologi Penelitian. Jakarta: Ditjen Bimas Hindu Departemen Agama RI, 2009.

Pudja, G. Manawa Dharmasastra. CV Felita Nursatama Lestari. Jakarta, 2002.

Punyatmadja, I.B. Oka. Pancha Sradha. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi, 1989.

Samba, I Gde. Merajut Ulang Budaya Luhur Bangsa. Bandung: Yayasan Dajan Rurung Indonesia, 2013.

Setiawan, Oka. Modul Metodologi Penelitian. Jakarta: 2012.

Sholeh, Munawar. Cita-cita Realita Pendidikan. Jakarta: Institute For Public Education, 2007.

Suamba, I.B Putu. Siwa-Buddha Di Indonesia Ajaran dan Perkembangannya. Denpasar: PT. Mabhakti, 2007.

Sudharta, Prof. Dr. Tjok. Slokantara Untaian Ajaran Etika. Suarabaya : Paramita, 2003.

Suhardi, Untung. Kedudukan Perempuan Hindu Dalam Kitab Sarasamuccaya (Kajian Etika Hindu). Surabaya : Paramita, 2015.

Sumaryono, E. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta : Kanisius, 1993.

Sura, I Gede. Pengendalian Diri Dan Etika Dalam Ajaran Agama Hindu. Denpasar: Hanuman Sakti, 2001.

Sutrisna, I Made, at all. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Depertemen Agama RI, 2009.

Suwantana, I Gede. Seks Sebagai Pendidikan Spiritual Kajian Teks Resi Sembina. Denpasar: Program Pascasarjana IHDN Denpasar, 2007.

Swami Maharaja, Sri Srimad Gour Govinda. Dharma Menurut Veda dan Grhastha-Asrama. Jakarta: Yayasan Istitut Bhaktivedanta Indonesia, Tim Penyusun.

Metododologi Penelitian. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, 2012.

Tim Penyusun. Modul Yoga. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, 2012.

Yuniarti, Ni Wayan. Tantra Dan Seks. Surabaya : Paramita, 2003.

Wiana, I Ketut. Cara Belajar Agama Hindu yang Baik. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha, 1997.

Bagikan