Nyepi Mengekang Diri

Om Swastyastu,

Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang diperingati setiap setahun sekali. Nyepi berarti sunyi, sepi, mengendalikan diri, mengekang indria.

Sebelum memasuki (hari H) Nyepi ada beberapa rangkain yang harus dilalui umat Hindu. Tiga hari menjelang perayaan Nyepi seluruh umat Hindu melakukan upacara “melasti” yaitu membersihkan kekotoran dalam diri dengan cara mengambil air suci di lautan. Mengapa dilautan karen lautan merupakan tempat yang suci. Bagi umat yang jauh dari lautan boleh melakukan upacara melasti ditempat sumber mata air, seperti sungai atau waduk. 

Melasti artinya melapas atau memutus serta membersihkan diri dari segala kekotoran agar jiwa dan phisik menjadi suci. Kenapa harus suci? Secara logika untuk mencapai yang suci (Brahman atau Tuhan) maka kita juga harus suci. Diibaratkan bagaikan melihat cahaya Bulan di air, bila airnya suci maka caha Buya yang terpantul diair akan terlihat dengan jelas.

Setelah upacara melasti, sehari sebelum perayaan Nyepi umat Hindu melakukan upacara Tawur Agung Kesanga yaitu upacara pembersihan alam semesta. Pembersihan alam semesta dilakukan agar ketika kita menjalankan Nyepi bisa dengan suci tanpa ada hambatan (kekotoran alam). 
Pembersihan alam biasanya disimbolkan dengan pengarakan ogoh-ogoh yang rupanya menyeramkan. Bentuk dan rupa ogoh-ogoh diibaratkan sebagai kekuatan alam. Sehingga kekuatan alam yang seram itu perlu di “somya” atau disucikan, dibersihkan. Agar tidak mengganggu manusia dalam menjalankan Catur Brata Penyepian.
Selanjutnya barulah pada puncak perayaan yaitu hari raya Nyepi. Dalam pelaksanaannya umat manusia melakukan Catur Brata Penyepian, empat pengendalian diri. Disinilah manusia berupaya “mengekang diri” seperti diibaratkan kepompong. Kita berdiam diri dalam rumah, merenung, memusatkan diri kepada yang maha kuasa, maha besar, maha tinggi. 
Proses “mengekang diri” dijadikan sebagai upaya untuk mematangkan diri. Sehingga menjadi sempurna.
Biasanya, dalam perayaan Nyepi umat Hindu melakukan puasa (tidak makan dan minum), namun itu tidak menjadi tuntutan untuk harus dilakukan. Apakah boleh tidak puasa, ya boleh saja tergantung umat mamlu apa tidak. Tapi akan lebih baik kalau mampu menjalankannya.
Yang terpenting untuk harus dilakukan yaitu Catur Brata Penyepian. Amati Geni tidak menyalahkan api baik yang real (nyata) maupun api dalam diir, amarah dan nafsu. Amati Karya tidak bekerja. Yaitu dengen mengekang diri dalam rumah bermeditasi. Amati Lelungan tidak berpergian, kita dituntut untuk berdiam diri memusatkan pikiran kepada yang Maha Tunggal yaitu Brahman. Amati Lelanguan tidak bepesta atau bersenang-senang dengan melakukan puasa selama 24 jam (tidak dianjurkan, tapi bagi yang mampu melaksanakan akan lebih baik).
Empat pengnedalian diri inilah yang perlu dilakukan sehingga kita menjadi matang. Dan bisa menjadi kupu-kupu yang indah (bebas) dari ikatan yang di bungkus menjadi kepompong itu. Maka memaknai Nyepi bagaimana kita mampu mengekang diri dan semua indria.
Om Santih Santih Santih Om

Semoga bermanfaat.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938. Semoga dapat menjalankan Catur Brata dengan baik.
Bagikan