HINDU: Berjalan Menuju Kesejukkan

Suatu hari aku mendapatkan pertanyaan dari seorang bapak yang usianya memasuki paruh baya yang ku temui disebuah tempat peristirahatan. Beberapa menit berselang Bapak yang sedari awal melihat ku, menyapa ku dengan nada yang sangat santun yang menunjukkan kematangan fisik dan rohaninya.

Bapak itu berkata, “Siapa nama mu nak…???”. Aku menjawab dengan cukup singkat. “Maitri (lemah lembut) pak”. Bapak itu diam sejenak dan ia memandang ku dengan wajah tersenyum. Nampak cahaya kasih dari wajahnya memancar ke luar. Bapak itu melajutkan, “Nama yang bagus nak…, dari mana kamu berasal…???. Aku pun menjawabnya, “Dari perantauan… diseberang laut sana,,,”. Bapak itu kembali memberikan pertanyaan kepada ku, “Apa hendak tujuan mu datang ke mari, apa yang kau cari…???”. Aku pun lama tertegun mendengar pertanyaan, dan bertanya dalam hati, apa tujuanku…???!!!

Sedikit lama, aku pun menjawab pertanyaan Bapak itu. “Saya hendak berteduh, beristirahat, mencari kesejukan di bawah pohon ini..!!!” Bapak itu kembali bertanya. “Kesejukkan seperti apa yang kamu cari nak..???”. Aku pun memandangi bapak itu cukup lama. Belum sempat aku menjawab, Bapak itu kembali bertanya. “Adakah kesejukkan di bawah pohon ini yang kamu dapatkan..??? Apakah beda kesejukan dari pohon di rumah mu dengan pohon ini..??? Mengapa hendak jauh sekali kamu berjalan menyeberang lautan untuk mencari kesejukkan pohon ini..??? Bukankah pohon di rumah mu dan pohon ini memiliki kesejukkan yang sama..???”. Aku pun tak dapat menjawabnya. Aku diam tak bergeming.

Bapak itu kemudian menjelaskan beberapa hal kepada ku. “Wahai Maitri, sesungguhnya kesejukkan itu tidak jauh dari diri kita sendiri. Kesejukan itu tidak perlu di cari hingga ke luar rumah, tak perlu di cari kemana pun bahkan sampai menyeberangi lautan ini. Kesejukkan itu sejatinya ada dalam dirimu”. Aku pun diam tertegun mendegar, dan bertanya, “Kesejukkan apa yang ada dalam diriku…???”.

Bapak separuh baya itu kembali melanjutkan penjelasannya. “Kesejukkan itu adalah manakala kita mampu melakoni kehidupan ini dengan baik dan benar. Kadangkala manusia dalam melakoni hidupnya dia lebih sering memandang sesuatu yang berada jauh dalam dirinya. Mereka jarang melihat apa yang ada disekelilingnya bahwa menyelam masuk ke dalam dirinya sendiri. Mereka terlalu sibuk berebut untuk mencari kebaikan dan kebenaran. Tapi mereka tidak pernah melakoni kebaikan dan kebenaran itu. Mereka selalu bertengkar, bertikai, dan bahkan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya untuk mencari pembenaran dalam perilakunya. Tapi mereka tidak pernah tahu siapakah kebenaran itu”

Aku pun hanya bisa merenung dengan diriku. Kembali bapak itu melanjutkan penjelasannya. “Wahai anak ku, sesungguhnya manusia itu memiliki segalanya. Manusia itu mampu melakukan segalanya. Manusia itu mampu mencapai segalanya. Tapi dia tidak tahu apa yang dia miliki, dia tidak tahu apa kemampuannya, dan dia tahu apa yang dia capai”.

“Anak ku…” kata Bapak itu. “Sesungguhnya kesejukkan itu adalah rasa kasih sayang, rasa cinta, rasa damai, rasa hormat menghormati, rasa harga menghargai. Ketika kita menyadari bahwa semua manusia adalah saudara (vasudhaiva kutumbakam) maka di sanalah ada rasa cinta, rasa kasih itu berada. Ketika kita mampu menyadari bahwa apa yang ada di sekeliling kita adalah bagian dari kita (tat twam asi), maka di sanalah ada rasa hormat menghormati, rasa hargai meghargai itu berada. Ketika kita mampu menyadari bahwa segala perbuatan yang kita lakukan dapat menyakiti (ahimsa) diri kita begitu juga orang lain, maka di sanahlah sesungguhkan kedamaian itu berada.

Wahai Anak Ku…. kesejukan itu tidak perlu di cari jauh di luar dirimu. Dia ada dalam dirimu. Pahami dia. Lakoni dia. Maka dia akan hadir menyelimuti setiap gerak kehidupan mu. Semoga segala kedamaian menyertai mu” ucap Bapak itu.

Aku pun merenung begitu dalam mendengar nasihat Bapak separuh baya itu. Aku baru menyadari bahwa apa yang aku cari sesungguhnya berada dalam diriku sendiri. Apa yang ingin aku capai sesungguh ada dalam kehidupan ku ini.

Hindu mengajarkan begitu banyak cara, begitu banyak jalan, begitu banyak pilihan. Sekarang tergantung dari diri kita sendiri hendak melakoni yang mana. Semua cara, semua jalan, dan semua pilihan sudah diatur konsekuensinya. Mari kita coba bersama-sama untuk belajar memilih cara, belajar mencari jalan, dan belajar untuk menentukan pilihan kita. Banggalah menjadi Hindu…!!!

Semoga kedamaian dan kesejukkan selalu menyertai kita. Semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.

Om lokah samastah sukhino Bhavantu
Semoga semua mahluk berbahagia
Salam, Shalom, Santih

Bagikan